Rasa jenuh kembali menggangu, ingin sekali rasanya menyapa sahabat-sahabat saya di alam. Bagaikan gayung bersambut, seorang teman dari barat (Depok) mengajak untuk menghabiskan weekend ini ke Gunung Papandayan. Gunung Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.
18 Mei 2012
Bandung sore itu diguyur hujan lebat. Saya paksakan untuk berbelanja logistik di Pasar Banjaran dengan sepeda motor.
Selepas magrib barulah saya berangkat menuju kost saya di Kota Bandung, diperjalanan macet luar biasa memaksa kami untuk lebih sabar menyikapi keadaan ini.
Sampai lah kami di kost-an saya pukul 19.12. Kali ini saya bersama saudara Sani yang waktu itu ikut dalam Pendakian Gunung Pangrango.
Pukul 20.00, setelah sholat isya kami berangkat menuju Terminal Leuwipanjang Bandung. Sayang sekali elf jurusan Garut sudah tidak ada, terpaksa
kami naik angkot gelap. Sang supir mematok harga Rp. 25.000, namun kami terus menawar tetapi harga mentok di Rp. 20.00.
Pada perjalanan kali ini saya sudah berjanjian dengan Wenty dan Danar, mereka start dari Jakarta. Tengah malam saya tiba di Terminal Guntur Garut.
Langsung keluar terminal dan menemui Wenty dan Danar yang sudah menunggu sejak tadi.
Tengah malam seperti ini sudah sulit mendapatkan angkot menuju Cisurupan, Semua harus mencarter dari terminal. Terpaksa kami mencarter angkutan menuju Cisurupan.
Sekitar setengah jam akhirnya kami sampai di Cisurupan. Dari Cisurupan kami kembali mencarter bak terbuka untuk mencapai Pos Informasi Gunung Papandayan.
19 Mei 2012
Malam itu terasa sangat dingin, bintang bertaburan sangat indah. Kami semua terlelap didalam Pos Informasi Gunung Papandayan. Pagi hari pukul 05.30 kami semua terbangun. Bersih-bersih dan repacking kami siap berangkat. Pukul 06.30 kami mulai bergerak meninggakan Pos Informasi. Trek awal landai melewati jalan yang berbatu di kawasan kawah Gunung Papandayan. Bau belerang menusuk hidung dalam perjalanan ini. Saya berjalan dibelakang karena sibuk mengabadikan beberapa gambar.
| Kawah mengeluarkan asap |
Ada sesuatu yang mengagetkan saya, ternyata seorang penambang belerang dengan lincahnya mengendarai motor melewati trek bebatuan tersebut. Kami terus berjalan, trek mulai menanjak di bebatuan labil yang mudah lepas. Kemudian kami sampai di hutan mati. Di hutan mati pagi ini kabut tebal menghalangi jarak pandangan, namun tak mengurangi keindahannya.
| Gas Terus mang..!!! |
Dari hutan mati trek kembali landai dan agak menurun, hingga sampai di dataran yang lumayan luas dengan vegetasi Edelweiss dan Cantigi. Inilah yang dinamakan Pondok Salada. Disana terlihat berdiri beberapa tenda, kami sempat bertanya kepada bebrapa orang tentang jalur menuju Tegal Alun. Namun, setiap jawaban berbeda arah. Akhirnya saya mengambil jalur aliran air yang lumayan terjal menguras tenaga. Hingga sampai di dataran yang luas dengan hamparan Bunga Edelweiss. Saya terkagum-kagun dengan tempat ini, terasa damai dan begitu indah ditambah tidak adanya sampah.
| On the way to Tegal Alun |
Seperti biasa saya sibuk dengan kamera untuk mengabadikan lukisan alam yang indah ini. Kemudian kami lanjut berjalan hingga masuk ke dalam hutan kembali, hutan yang sepi dengan vegetasi cantigi. Kami terus melangkahkan kaki mengikuti bekas jejak yang ada. Bertemu beberapa pendaki yang bingung dengan keadaan puncak. Hingga disuatu tempat yang tertingi kami berhenti, ya disinilah puncak Papandayan. Tidak ada apa-apa, pemandangannya pun hanya pepohonan cantigi dan dibawahnya hanya terlihat kepulan asap dari kawah.
Kami mencatat pukul 11.35 kami tiba ditempat ini. Tak lama Kami duduk beristirahat, datang rombongan anak-anak IPB yang akhirnya kami bergabung untuk makan siang bersama. Logistik yang lumayan banyak saya bawa, saya keluarkan semua sebab kami semua tidak akan nge-camp lagi. Satu jam lebih kami makan dan bersenda gurau bersama, akhirnya kami semua turun melalui jalur yang sama.
Menuruni batuan cadas yang terjal kami disuguhkan pemandangan yang sangat luar biasa. Terlihat Pondok Salada dan Hutan mati begitu luar biasa keindahannya. Setengah jam kami turun, sampailah di Pondok Salada. Kemudian kami lanjut menuju Hutan mati, disanalah kami berhenti cukup lama untuk sekedar mengabadikan momen kebersamaan dan kindahan alam ini.
Pukul 15.00 kami meninggalkan kawasan hutan mati, turun menuju kawah. Ternyata sore hari bau menyengat belerang semakin pekat saja. Kami mengenakan masker untuk menghindari bau yang menusuk hidung. Akhirnya sekitar pukul 16.30 kami tiba di Pelataran Parkir Pos Infomasi Gunung Papandayan.
Semua langsung bergantian untuk mandi dan membersihkan pakaian di toilet. Pada awalnya niat saya dan Sani ingin bermalam lagi di Pos Informasi ini, namun niat kami urungkan. Lalu, kami berniat untuk berjalan-jalan di kota Garut malam ini, niat itu pun akhirnya diurungkan juga sebab tertarik oleh pertandingan Final Piala Champions.
Akhirnya Saya dan Sani bergabung kembali dengan Wenty dan Danar untuk ikut dalam rombongan anak-anak IPB yang kebetulan sudah mencarter kendaraan. Tercatat pukul 17.25 kami meninggalkan Pos Informasi menuju terminal Guntur. Sepanjang perjalanan kami semua berbicang dan bersenda gurau satu dengan lainnya. Inilah kehebatan gunung, dari tidak kenal menjadi akrab.
"dari batur jadi dulur" Januar Arifin
"we entered as a stranger we came out as a brother"
Pukul 19.00 kami tiba di terminal Guntur Garut. Saya dan Sani berpisah dengan rombongan. Saya langsung naik bus jurusan Bandung. Sekitar dua jam kami didalam bus akhirnya sampai di Kost-an tercinta tanpa kurang satu hal pun.
Thanks to:
- Allah SWT,
- Orang tua yang selalu mendukung setiap langkah ini,
- Wenty dan Danar,
- Rombongan anak-anak IPB (Icang, Upay, Nurul, Ryan, Suci, Roihan, dan Uki),
- Gunung Papandayan yang menyambut-Ku dengan keeksotisan alam-Mu.
Estimasi Biaya;
Angkot Kb. Kalapa - Term. Leuwipanjang = Rp. 3000
Angkot gelap Bandung - Term. Guntur Garut = Rp. 20.000
Carter angkutan Terminal - Cisurupan = Rp. 20.000 per orang
Carter bak terbuka Cisurupan - Pon Informasi = Rp. 25.000 per orang
Gallery foto;
![]() |
| This is my style bro!! |
| On the way to Tegal Alun |
| View dari Pondok Salada |
| Death Forest |
| View kawah |





Tuesday, 12 June 2012

fotonya keren-keren masbroooo :)
ReplyDeleteiya lumayan lah, cuacanya juga mendukung :D
Deletehahahaa... foto nge-ngiklan nya juga di pasang...
ReplyDelete"we entered as a stranger we came out as a brother"
haha keren tuh foto, siapa tau bisa dapet sponsor iklan cang :P
Deletewah keren..dahsyat...ketemukeluarga baru,hehehehe
ReplyDeleteiya di gunung pasti jadi keluarga, itulah kehebatan gunung. . haha :D
Deletejadi inget pas muncak ke Papandayan tahun 2010 dan 2011 lalu... hehe.. Salam lestari mas bro.. :D
ReplyDeletekeren ya papandayan. . salam lestari juga bro.
Deleteakhirnya bisa jalan-jalan ke Papandayan juga saya setelah iri liat si Akang, Wenty sama Japra ke sana..
ReplyDeletemampir kalau sempat http://mariaanastasiaa.blogspot.com/2012/08/catatan-perjalanan-pendakian-papandayan.html :)
siap menuju tkp
DeleteTidak akan pernah berhenti berharap untuk bisa menyapanya disuatu saat .. :)
ReplyDeletepasti bisa menyapanya kok bro..
Deletewah keren petualangannya
ReplyDeleteterima kasih :)
Delete