Januar Arifin

Pendakian Gunung Rakutak 1922 Mdpl

Posted by Januar arifin on Tuesday, 22 April 2014

Gunung Rakutak (taken from forestvoice.org)
Prolog :
Gunung Rakutak terletak di Bandung Selatan, tepatnya di Desa Sukarame, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Gunung ini memiliki ketinggian 1922 Mdpl dengan mempunyai 3 puncak. Dari puncak 2 menuju puncak 3 dijembatani oleh sebuah jalur sempit seperti jembatan alam namun pada sisi kiri dan kanannya terdapat jurang yang sangat dalam. Jembatan itu dinamakan Sirathal Mustaqim. Jalur tersebut mirip-mirip lah dengan jembatan setan di Gunung Merbabu sana, akan tetapi yang satu ini lebih tipis lagi jalurnya. 

Gunung Rakutak belum banyak yang mengetahuinya, bahkan warga Bandung sekalipun terkadang ada yang tidak tahu keberadaan gunung ini. Dilihat dari sisi topografi-nya gunung ini tidaklah terlalu tinggi hanya 1922 Mdpl, namun trek yang disajikan lumayan menguras tenaga atau boleh dikatakan kecil-kecil cabe rawit trek gunung yang satu ini. 

Gunung ini juga memiliki sejarah panjang. Pertama gunung ini pernah dibombardir belanda karena diduga menjadi tempat bersembunyi pejuang kemerdekaan. Kedua pada masa pemberontakan DI/TII atau biasa disebut NII (Negara Islam Indonesia). Pemberontakan tersebut berlangsung dari tahun 1949-1962 setelah S.M Kartosoewirjo memproklamirkan NII. Perburuan S.M Kartosoewirjo oleh Pemerintah Indonesia menyusuri Gunung Rakutak dan sekitarnya hingga akhirnya S.M Kartosoewirjo tertangkap disana pada tahun 1962 dan kemudian ia dibuang ke Pulau Ubi, Jakarta untuk dihukum mati.

Setelah membaca sedikit tentang sejarah Gunung Rakutak, mari simak catatan pendakian saya di Gunung Rakutak.

Sudah lama sejak tahun 2012 saya mendengar tentang Gunung Rakutak, namun belum ada kesempatan untuk mengunjunginya. Perencanaan pun sudah lama saya buat, akan tetapi rencana hanya sebuah rencana. Padahal dari tempat saya kost tidak lebih dari 40 Km menuju Gunung Rakutak. Setelah lama berselang dan mengumpulkan pasukan akhirnya saya berkesempatan mengunjunginya.
Jalur warna biru tua (Pasir Nyatuh) yang kami lewati (Gambar dari Google dengan sedikit perubahan dan penambahan dari saya)

Jumat, 28 Maret 2014

Saya sedari hari rabu sudah kembali ke Bandung untuk mempersiapkan segalanya, sebab semua barang pendakian saya ada di kostan di Bandung. Sore ini saya hanya packing dan menunggu kabar dari kawan-kawan rombongan Jakarta. Mendengar kabar mereka berangkat malam hari, membuat saya sedikit santai dalam mempersiapkan barang-barang pendakian.

Sabtu, 29 Maret 2014

Dini hari, 4 orang kawan dari Jakarta sudah merapat di terminal Leuwipanjang, Bandung. Akhirnya saya menyuruh mereka untuk menuju kostan saya dari pada menunggu di terminal.  Keempat kawan tersebut sampai juga di kostan saya, dan kami pun mengisi waktu dengan kopi santai sambil menunggu kawan lainnya datang dari Jakarta.

Pukul 05.30 kami mendengar kabar bahwa semua kawan-kawan sudah merapat di terminal Leuwipanjang, saya pun bergegas menuju terminal. Sesampai di terminal saya langsung mencari kendaraan elf untuk dicarter menuju Desa Sukarame, Pacet, Kab. Bandung. Saya dapat satu elf dan negosiasi harga sampai sepakat karena waktu sudah semakin siang. 

Pukul 06.30 kami mulai berangkat meninggalkan terminal. Total peserta pendakian kali ini berjumlah 18 orang. Saya sendiri dari Bandung dan sisanya dari Jakarta bawaan dari Saudara Dwi Arivin (Pare) yang sudah tak asing lagi namanya di weblog ini. 

Kami menembus lalu lintas yang cukup ramai pagi ini di Kota Bandung. Pukul 07.30 kami tiba di Ciparay, Kab. Bandung. Di Ciparay kami berhenti sejenak di pasar untuk berbelanja logistik pendakian. Di pasar tak kami duga, kami bertemu Kang Ajat yang merupakan orang Basecamp Himpala Rakutak. Beliau pun memberikan arahan menuju Basecamp. Setelah semua perbelanjaan selesai kami meneruskan perjalanan. Pukul 08.15 kami semua tiba di Basecamp Himpala Gunung Rakutak.

Basecamp Gunung Rakutak
Di Basecamp kami mulai bergegas packing ulang dan registrasi pendakian. Kami dimintai uang masuk seikhlasnya. Kami juga mempersiapkan air secukupnya dari desa sebab kami belum mengetahui jelas titik air di gunung ini. 

Packing Ulang di Basecamp
Pukul 09.00 kami mulai berangkat mendaki Gunung Rakutak. Kami berjalan melewati sebuah gang kecil diantara rumah warga. Kemudian kami melewati persawahan dan kebun-kebun sayur milik warga. Dari perkebunan trek sudah sedikit menanjak. Kali ini kami diantar Kang Ajat sampai batas perkebunan, sebab jalur di perkebunan memang sangat rumit, bisa-bisa kami salah ambil jalur dan beda punggungan gunung.

Trek Awal
Pukul 09.30 kami tiba di tengah perkebunan warga, dan Kang Ajat pun terhenti sampai disini mengantarkan kami. "Jalur nya tinggal zig-zag 2 kali dan ikutin arah punggungan di depan sana", Kata Kang Ajat. Saya sebagai leader mengikuti arah yang dikatakan oleh Kang Ajat. 

Trek mulai menanjak lumayan, kiri kanan nampak punggungan gunung yang menyatu di puncak bukit di depan kami. Kami berjalan dengan santai sambil sesekali beristirahat menghela nafas yang mulai berat. Cuaca siang itu cenderung mendung namun tidak turun hujan.

Perjalanan kami terhenti di ujung perkebunan warga. Ada seorang petani menunjukan lokasi mata air di sebelah kanan jalur turun ke bawah. Saya bersama 3 orang teman berniat turun untuk menambah persediaan air, sementara yang lainnya menunggu di jalur pendakian. Kami berempat membawa beberapa derigen dan botol turun ke bawah dengan trek yang sangat curam dan licin karena tanah merah yang basah. kami menemukan saung petani dengan penampungan air disampingnya. Kami langsung mengambil air tersebut. Tiba-tiba ada seorang petani datang dan berkata kalau air tersebut kotor. "Dek!! itu mah air kotor, kalau mau ambil air ke bawah lagi, disana ada sumber air jernih", Kata Petani. Kami langsung turun ke bawah lagi dengan trek yang semakin curam sekitar 70 derajat kemiringan. Kami sudah merasa bahwa lokasi sumber air memang ada didasar jurang diantara punggungan, jadi selain jauh untuk naik dan turunnya sangat curam sekali.
Lagi Pada Nunggu Yang Sedang Ambil Air
Cerita lucu dan sangat menegangkan terjadi disini. Kami berempat dicegat seekor anjing pemburu yang tak henti-hentinya menggonggong kami. Dari 4 orang ini tidak ada yang berani dengan anjing termasuk saya. Anjing tersebut makin mendekat seakan ingin menggigit kami. Kami berteriak memanggil petani yang tak jauh disana. Anjing itu pun diusir oleh petani tersebut akan tetapi kembali lagi untuk menghadang kami. Serba salah jika kami hajar anjing tersebut dengan batu dan golok, kami takut salah juga. Akhirnya kami kembali naik ke atas berlari di trek yang curam, kaki terasa kram saat itu. Kami putuskan mengambil lagi air kotor tersebut, dengan alasan bisa dimasak. 

Kemudian petani yang tadi datang lagi dan berkata "Kok, ambil air ini lagi?? kan saya bilang kotor". Kami jelaskan kejadian yang dialami kami dibawah. Akhirnya petani tersebut memberikan air bersihnya di saung yang diatas miliknya. Air tersebut tampungan hujan namun masih sangat jernih.
Air Bersih dari Bapak Petani
Insiden anjing, trek curam, dan lumayan jauh jadi memakan waktu hampir satu setengah jam. Pukul 11.30 Kami lanjut pendakian dan mulai memasuki trek menanjak dengan kiri-kanan rumput ilalang tinggi (batas ladang). Pukul 12.00 kami tiba disebuah dataran yang cukup luas. Dataran ini merupakan daerah rumput ilalang yang sudah dibuka untuk keperluan perluasan ladang perkebunan. Disana kami beristirahat sejenak sambil memakan roti untuk mengganjal perut yang memang dari pagi perut kami belum terisi makanan.
 
Dataran tempat beristirahat sebelum hujan
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, kami langsung bergegas membuat bivak seadanya. Di dalam bivak kami menyeduh kopi untuk mengusir dingin yang mulai menghampiri. Pukul 13.30 hujan sudah reda, kami beres-beres dan mulai melanjutkan perjalanan.
Bivak saat hujan
Selepas Hujan Nampak Gunung Malabar Tertutup Kabut
Berjalan di trek yang curam dan licin membuat tenaga kami semakin terkuras. Tak lama kemudian hujan deras turun lagi menghantam kami. Kami terhenti berteduh menggunakan ponco. Pukul 15.30 hari semakin sore dan gelap, hujan pun tak kunjung reda. Kami putuskan untuk terus melanjutkan perjalanan. Trek berubah menjadi aliran air yang licin sekali jika dipijak. Kemiringan medan pendakian semakin curam saja. Dengan langkah gontai namun pasti kami terus merangsek menuju keatas. Pukul 16.00 akhirnya kami tiba di dataran yang cukup untuk 4 tenda bernama Tegal Alun (mirip dengan nama lokasi di Gunung Papandayan). Sesuai instruksi Kang Ajat, kami harus camp di Tegal Alun sebab dataran ini lumayan luas untuk 5 tenda yang kami bawa. 

Trek licin dan terjal
Kami semua segera mendirikan tenda di tempat tersebut. Hujan sudah mulai reda sore itu. Pukul 17.00 semua tenda sudah berdiri dan kami pun masuk kedalam tenda satu-persatu untuk mengganti pakaian yang sudah basah karena hujan. Beberapa kawan mulai meracik masakan untuk makan malam. Hingga gelap akhirnya tiba dan pukul 19.00 kami makan malam mengisi perut yang sudah sangat lapar. Pukul 20.00 kami semua masuk ke dalam tenda dan mulai beristirahat lelap diselimuti angin dingin Gunung Rakutak. 

Minggu, 30 Maret 2014

Pukul 02.00 dini hari saya terbangun dari tidur lelap diikuti beberapa teman yang juga terbangun. Kali ini kami memasak mie instan sebagai pengganjal rasa lapar yang sudah datang kembali. Sambil berbincang kami menunggu sang fajar muncul dari peraduannya.

Masak Malam
Pukul 05.30 beberapa dari kami termasuk saya bergegas keluar tenda. Pagi ini kami berniat menuju puncak gunung untuk melihat matahari terbit. Saya kembali berjalan di depan rombongan. Kondisi trek hampir sama dengan kemiringan yang lumayan curam. Kami berjalan sekitar 30 menit dari Tegal Alun (tempat camp kami), akhirnya kami tiba di Puncak 2 Gunung Rakutak.

Nampak Puncak Utama dari Puncak 2
Di Puncak 2, tak banyak yang kami lakukan sebab ada satu tenda rombongan dari jakarta yang berdiri disana. Di Puncak 2 hanya cukup satu tenda ukuran 4 orang. Saya berada paling depan langsung berjalan lagi melihat ke arah Puncak Utama. Ternyata untuk menuju Puncak Utama kita harus melewati sebuah igir-igir yang sisi kanan dan kirinya jurang dalam puluhan atau mungkin ratusan meter.

Di Puncak 2 untuk Berfoto Saja Sempit
Igir tersebut terlihat seperti jembatan diantara 2 gunung, sehingga disebut jembatan oleh kalangan pendaki. Biasa juga disebut Jembatan Sirathal Mustaqim karena saking tipisnya jalur tersebut. Sekitar 1 sampai 2 meter luasnya trek tersebut. Jembatan ini mirip dengan Jembatan Setan yang ada di Gunung Merbabu sana.
Igir-igir atau Igir : Disebut juga dengan punggung gunung atau bukit. Igir merupakan bagian dari gunung atau bukit yang berlereng menanjak rata ke arah puncak, sempit, memanjang, dan bersisi curam. Igir terbentuk dari hasil pelapukan dan pengikisan lereng gunung atau bukit.
Dalam melewati daerah jembatan tersebut, adrenalin kita akan terpacu karena di sisi kiri dan kanan kita adalah jurang yang dalam. Saya juga menemukan trek yang terputus akibat longsoran batuan. Kami harus berhati-hati melewatinya apalagi tanah sedikit gembur sehabis hujan kemarin. Dari Puncak 2 menuju Puncak Utama memakan waktu setengah jam jalan santai melewati Jembatan Sirathal Mustaqim.

Jembatan Sirathal Mustaqim
Kemudian kami tiba di sebuah dataran yang cukup luas muat untuk sekitar 5 tenda. Dataran tersebut adalah Puncak Utama Gunung Rakutak 1922 Mdpl. Alhamdulillah. Saya pertama kali tiba bertemu dengan rombongan dari Jakarta yang sedang berfoto ria disana. Tak lama berselang kawan-kawan yang lain pun tiba di puncak.

Kecamatan Pacet di bawah sana
Pemandangan Puncak 2 dan Jembatan Sirathal Mustaqim dari Puncak Utama
Pemandangan dari puncak sungguh luar biasa. Nampak Gunung Malabar di barat, Gunung Cikuray dan Gunung Papandayan di timur serta nampak juga kepulan asap kawah Kamojang dengan Danau Ciharusnya.

Nampak Gunung Papandayan dengan kepulan asap solfataranya
Saya sempat mendapatkan foto di pagi hari. Danau Ciharus berlatar G. Cikuray
Di puncak saya sempat mengobrol dengan Pak Agus sebagai pendiri Basecamp Himpala. Beliau sedang mengantar rombongan dari Jakarta. Beliau banyak bercerita tentang jalur dan sejarah Gunung Rakutak. Pembicaraan kami terhenti sebab beliau ingin kembali melanjutkan perjalanan mengantar turun via Danau Ciharus.

Mengobrol dengan Bapak Pendiri Basecamp
Awalnya kami juga ingin turun via Danau Ciharus, namun dengan beberapa pertimbangan akhirnya kami putuskan untuk kembali turun melalui jalur yang sama dengan kami naik kemarin.

Si Janu di Puncak Utama
Sebagian foto di Puncak Utama (Yang lain belum ter-upload)
Pukul 07.30 saya dan 2 orang teman kembali turun menuju Puncak 2 menunggu beberapa teman yang belum sempat naik ke puncak. Tak lama kemudian mereka pun datang dan langsung menuju Puncak Utama melalui Jembatan Sirathal Mustaqim. Di Puncak 2 saya sempatkan diri untuk menanam bibit tanaman yang sudah kami bawa dari bawah sedari kemarin. Memang setiap pendaki yang ingin mendaki Gunung Rakutak melalui Basecamp Himpala akan dititipkan tanaman oleh penjaga basecamp untuk ditanam di jalur pendakian.

Menanam Pohon Untuk Kehidupan di Puncak 2 (sekitar 15 bibit tanaman)
Setelah selesai menanam pohon, saya kembali menuju Puncak Utama lagi. Disana kawan-kawan sudah berkumpul semua. Kami isi pagi hari itu dengan berfoto ria dan membuat kopi sebagai penghangat suasana pagi.

Foto keluarga
Summit Party dengan Kopi
Kami di Puncak hingga pukul 08.30 dan langsung kembali ke tempat camp kami di Tegal Alun. Kemudian kami menuruni puncak melewati Jembatan Sirathal Mustaqim dengan hati-hati sebab cuaca mulai berkabut. Setengah jam kami turun, akhirnya kami tiba di Tegal Alun.

Turun mulai berkabut, awass juraaang
Pukul 09.00 kami sampai di Tegal Alun dan langsung bersiap memasak untuk makan siang. Menu siang ini lumayan mewah yaitu ayam goreng, tempe, sayur, dll. Kami selesai masak dan makan hingga pukul 12.30. Setelah selesai masak dan makan siang kami mulai beres-beres tenda, namun hujan deras kembali turun siang itu. Akhirnya kami kembali masuk ke dalam tenda.

Lagi Masak Makan Siang
Pukul 14.00 hujan mulai reda, kami kembali beres-beres tenda dan barang-barang lainnya. Tak lama kemudian, setelah setengah dari kami sudah beres packing, hujan kembali mengguyur. Hingga akhirnya kami beres packing pada pukul 15.30. Niat saya sebenarnya lebih baik menghabiskan semalam lagi ditempat ini sehubungan esok hari tanggal merah, namun sudah menjadi keputusan bersama bahwa hari ini juga kami akan turun.

Pukul 16.15 setelah berdoa, kami mulai turun meninggalkan kawasan Tegal Alun. Trek turun dan licin kami hadapi dengan hati-hati. Kami merasa hari terlalu sore saat menuruni gunung ini. Kami terus turun perlahan di trek yang licin sekali akibat diguyur hujan. Satu jam kemudian kami tiba di batas ladang perkebunan. Di batas ladang kami mempersiapkan kayu dan batu sebab kemarin kami mendengar cerita dari petani bahwa jika sore hari bakal ada ada banyak anjing penjaga yang "ditugaskan" pemiliknya untuk menjaga kebun. Anjing-anjing tersebut sangat protektif bagi orang asing seperti kami. Jadi kami berjaga-jaga dengan membawa kayu dan batu.

Waktu maghrib tiba, kami masih berada di pertengahan ladang penduduk. Kami berhenti sejenak untuk sekedar bernafas dan beristirahat. Kemudian kami melanjutkan perjalanan turun. Hari mulai gelap kami mulai mempersiapkan alat penerangan. Trek ladang tak kalah licin dengan di hutan. Kami sering terperosok jika kurang fokus dalam melangkah.

Hingga akhirnya pukul 19.30 kami tiba di batas ladang dengan desa. Satu lagi yang membuat kami kaget adalah ketika kami tiba di beda jalur desa dengan waktu kami berangkat. Setelah bertanya dengan warga sekitar akhirnya kami ditunjukan jalan menuju basecamp. Ternyata kami hanya salah satu belokan waktu di ladang tadi. Maklum malam itu sangatlah gelap sehingga kami sulit memperhatikan jalur dengan baik. Tidak masalah, yang terpenting kami sudah tiba di basecamp dengan selamat.

Di basecamp kami secara bergantian untuk bersih-bersih di wc. Pukul 21.00 semua sudah selesai bersih-bersih. Dengan elf carteran yang sudah disediakan Kang Rido dari Himpala Rakutak, kami mulai meninggalkan Desa Sukarame menuju Terminal Leuwipanjang, Bandung.

Pukul 23.30 akhirnya kami tiba di Terminal Leuwipanjang, Bandung. Saya dan Pare langsung bergegas membeli nasi bungkus untuk makan malam kami. Setelah makan, tercatat pukul 00.30 saya berpisah dengan rombongan Jakarta. Mereka masuk ke dalam terminal untuk menuju Jakarta, sedangkan saya menuju Kebon Kalapa untuk kembali ke kostan tercinta. Alhamdulillah, kami semua sampai dengan selamat tanpa kekurangan satu hal pun.

Terima Kasih Sudah Menyimak Catatan Perjalanan Saya. Sampai Jumpa di Pendakian Si Janu Lainnya. Salam Lestari !!!...

Thanks To :
  • - Allah S.W.T,
  • - Teman seperjalanan (Penjara : Pendaki Jarang),
  • - Kang Ajat dan Kang Rido dari Himpala Rautak,
  • - Orang Tua yang selalu mendoakan dari rumah,
  • - Gunung Rakutak yang telah menyambut kami dengan pesona liarnya. 

Catatan :
  • Gunung Rakutak sudah dikelola secara profesional jadi segala macam kegiatan ada baiknya lapor terlebih dahulu di Basecam Himpala Rakutak,
  • Trek Gunung Rakutak lumayan curam dan terjal. Jadi persiapkan fisik dengan baik terutama musim hujan, 
  • Sumber air di gunung ini belum saya dapatkan dengan jelas. Lebih baik bawalah air sedikit berlebih dari Desa Sukarame, 
  • Ada jalur sumber air di daerah Tegal Alun. Menurut informasi yang saya dapatkan treknya sangat curam sekali. Turuni saja trek tersebut hingga lembahan dan bertemu tanaman pisang. disanalah ada sumber air, 
  • Jangan berbuat vandal di gunung ini. Bawalah sampah turun kembali, 
  • Jaga kelestarian alam Gunung Rakutak sebab gunung tersebut merupakan sumber air atau daerah resapan air bagi warga sekitar.  
Cerita Out Off Topic dari Catatan Perjalanan diatas, akan tetapi kita semua bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada saya, Berikut ceritanya :
    Hari kamis tepatnya H+4 atau tanggal 3 april 2014 seusai saya kembali dari Gunung Rakutak, saya tertidur di siang hari dan bermimpi. Di dalam mimpi tersebut saya sedang berjalan turun dari gunung kemudian dipanggil oleh seorang kakek-kakek dan berkata bahwa ada beberapa makhluk halus yang mengikuti saya. Mimpi tersebut nyata sekali antara tertidur dan sadar.

    Setelah hal tersebut saya alami, saya merasa sekujur tubuh dingin dan berat sekali. Tapi saya pikir ini masuk angin biasa. Malam harinya tepat malam jumat, saya merasakan sakit kepala yang luar biasa, badan saya panas sekali rasanya. Malam itu saya masuk ruang IGD RS. Muhammadiyah Bandung. Saya langsung mendapat penanganan dari dokter. Malam itu panas tubuh saya melebihi 45 derajat celcius. Kepala saya sangat sakit sekali melebihi sakit kepala yang pernah saya alami seumur hidup. Satu hal yang membuat saya heran adalah hasil laboratorium dan tes darah semuanya normal saya tidak menderita penyakit apapun. Saya memutuskan pulang dari rumah sakit dengan membawa beberapa obat penghilang rasa nyeri.

    Pagi harinya saya langsung menuju Soreang, Kab. Bandung untuk beristirahat di rumah saudara saya. Penyakit masih saja membuat saya lemah hingga malam harinya saya kembali masuk UGD RS. Al Ihsan Bale Endah. Dokter pun kembali memeriksa kondisi saya. Cek darah kembali saya lakukan. Saya di suntik beberapa kali untuk menghilangkan rasa sakit. Ternyata semua dokter bilang kalau saya normal dan tidak ada penyakit satu pun yang saya derita. Padahal sakit kepala yang saya rasakan sangat sakit dan menyiksa saya. 

    Hingga akhirnya saya pulang ke Pondok Aren, Tangsel esok harinya. Di rumah saya masih merasakan sakit yang luar biasa. Sekujur tubuh saya lemas tak berdaya. Dokter hanya mampu berspekulasi antara DBD dan Tipes. 

    Suatu ketika saya curiga dengan hal non medis yang saya alami berkaitan dengan aktifitas terakhir saya di Gunung Rakutak. Dan benar saja ternyata ada makhluk ghaib yang mengikuti saya dari Gunung Rakutak. Saya langsung berobat ke seorang yang pakar dalam hal seperti ini. Beliau bicara kalau ini merupakan jin yang sedikit nakal dan tinggi tingkatannya. Selain itu juga kondisi Gunung Rakutak masih sepi dan sangat angker katanya. 

    Setelah saya diobati, dan benar saja saya langsung sembuh tidak terasa sakit lagi di kepala. Kenapa saya bisa diikuti oleh jin tersebut? itulah pertanyaan yang timbul dalam hati saya. Padahal di hutan saya selalu meminta ijin dalam hal apapun bahkan selalu permisi jika buang air atau bisa dikatakan saya sudah menjaga prilaku saya selama mendaki. Dalam hati bertanya-tanya akhirnya saya mendapat jawabannya. Ternyata jin tersebut tidak senang karena saya menginjak dirinya yang duduk diam. Saya merasa tidak tahu keberadaannya, jika saya tahu kemungkinan hal tersebut tidak akan terjadi.
    Saya tidak pernah menyangkut-pautkan mistis dengan semua kegiatan pendakian saya. Namun, memang kegiatan gunung selalu saja bersinggungan dengan hal mistis sebab di gunung memang merupakan tempatnya hal tersebut. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga prilaku kita agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.

    Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Berdoalah kepada Tuhan dan mintallah perlindungan setiap melakukan kegiatan di hutan. Saya sudah lama berkegiatan di gunung dan baru kali ini mendapat pengalaman sekaligus pelajaran yang luar biasa. Mungkin saat itu saya sedang lengah dan tidak peka terhadap sekitar.

    Sekian

    "Saat orang-orang tangguh di luar sana berusaha menaklukan gunung-gunung tinggi, saya masih tetap berusaha menaklukan diri sendiri"

    Tambahkan Komentar

    22 comments:

    1. interesting place to visit :)

      ReplyDelete
    2. wah, jadi pengen naik gunung lagi kalo lihat pemandangan seperti ini hehee.... :)

      ReplyDelete
    3. menarik sekali rasanya mendaki ya?

      ReplyDelete
      Replies
      1. iya mas menarik banget banyak kejadian yg tak terduga

        Delete
    4. pengen naik gunung dan jalan2 yang jauh deh jadinya...

      ReplyDelete
      Replies
      1. silakan dicoba mendaki gunung pasti ketagihan

        Delete
    5. petualangan yang menarik gan.
      blogwalking di sini ya http://www.cheathelps.com/total-war-rome-ii-v1-11-0-build-10471-steam-trainer-15/

      ReplyDelete
    6. macam best je...

      teman dari malaysia

      ReplyDelete
    7. Wah jadi teringat waktu muda dulu. sering mendaki, meski bukan gunung, hanya bukit

      ReplyDelete
    8. Kayanya ini rombongan yang ketemu saya nih hehe

      ReplyDelete
    9. Mantap bro..salam kenal. Trims atas sharing cerita mistisnya...untuk agar kita lebih berhati hati.
      Besok kami mau ke cikuray

      ReplyDelete
    10. Mau nanya dong,pas itu nyewa mobil ke gunung rakutak dari bandung brpa duit ya?itu anter jemput bukan,trma kasih.

      ReplyDelete
    11. boleh minta kontaknya kang ajat ga bro..??
      terima kasih sebelumnya.

      ReplyDelete
    12. akang untuk digunung rakutak sendiri...
      kapasitas untuk mendirikana tenda bisa berapa tenda ya?
      terima kasih
      salam rimba

      ReplyDelete