Saya awalnya memang ingin sekali kembali mendaki Gunung Guntur setelah mengetahui bahwa catatan pendakian di web ini tentang Gunung Guntur-lah yang paling atas. Berarti banyak netizen yang mencari tahu tentang Gunung Guntur di internet. Kemungkinan besar terjadi lonjakan pendaki yang datang kesana. Maka dari itu saya ingin mendaki kesana lagi untuk mengetahui adakah perubahan yang terjadi disana. Kebetulan juga kawan dari Jakarta meminta diantar menuju kesana yaitu Harry dan Arie Pitax.
Berikut catatan perjalanannya :
Sabtu, 13 September 2014
Pukul 01.00 dini hari dengan diantar seorang teman saya berangkat menuju terminal Leuwipanjang, Bandung. Kemudian saya naik angkutan carry plat hitam jurusan Garut. Sebelumnya saya sudah berjanjian dengan Harry dan Arie Pitax di SPBU Tanjung, Garut. Ternyata bukan hanya kami bertiga yang mendaki kali ini. Seorang teman saya menitipkan 3 orang temannya dari Pondok Gede untuk ikut bareng dengan saya. Akhirnya kami berjumlah 6 orang yaitu saya, Arie Pitax, Harry, Ilham, Imam, dan Fachrul.
Pukul 03.15 saya tiba di SPBU Tanjung. Langsung menemui mereka yang sedang beristirahat. Mereka langsung terbangun ketika saya datang. Setelah itu kami mengobrol untuk menunggu datangnya pagi. Tak lama datang lagi 2 orang yang ingin gabung dengan kami yaitu Ari dan Ponco pendaki asal Jakarta. Jadi total kami 8 orang.
Pukul 06.00 kami mulai bersiap untuk berangkat. Kami menunggu tumpangan truk pasir menuju Curug Citiis. Tak berapa lama akhirnya kami dapat tumpangan dengan membayar Rp.10.000/ orang. Hampir satu jam lebih kami terombang-ambing di truk akhirnya kami tiba di Areal Penambangan Pasir Gunung Guntur. Jalur Pendakian Gunung Guntur dimulai dari ujung areal penambangan pasir kemudian menuju Curug Citiis. Sebelumnya kami juga izin terlebih dahulu dengan petugas RW setempat untuk data identitas pendaki.
Disana kami mulai bersiap-siap beres-beres dan mengecek kembali barang bawaan. Pukul 08.00 kami berkumpul dan memanjatkan doa kepada Allah S.W.T untuk keselamatan kami semua. Lalu kami mulai melangkahkan kaki kami dengan pasti. Kali ini saya sedikit bingung memulai pendakian sebab kami diturunkan jauh dengan seperti yang biasa saya mendaki gunung ini. Saya biasa mengambil jalur menurun melewati pinggir aliran air Curug Citiis, namun kali ini beda, saya mengambil jalur tegak lurus menanjak masuk ke hutan savana.
Kami harus menemukan sumber air sebab kami hanya membawa air sedikit. Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak. Pagi itu terasa panas sudah menyengat di kepala. Saya berjalan sambil mempelajari trek yang saya lewati, ternyata kami berbeda punggungan dengan jalur yang sebenarnya. Walau begitu, jalur ini sama saja menuju Puncak Gunung Guntur.
Langkah kami semakin lama semakin gontai sebab panas yang menyengat menyerap sebagian tenaga kami. Hingga akhirnya pada pukul 10.30 kami tiba disebuah pertemuan punggungan gunung. Di bawah pohon yang rindang, kami beristirahat sejenak. Saya dan beberapa kawan turun menuju Pos 3 untuk mengambil air. Untuk menuju sumber air kami harus turun kembali dengan jarak lumayan jauh.
Setelah air sudah terisi penuh kembali saya naik lagi menuju tempat dimana kawan lainya sedang beristirahat. Awalnya kami berniat berhenti sejenak, akan tetapi kami ternyata berhenti untuk waktu yang cukup lama. Keadaan cuaca yang panas lah yang membuat kami malas untuk melanjutkan perjalanan kembali. Di tempat ini bergabung 2 orang lagi pendaki asal Jakarta yaitu Ade dan Waway.
Ada perbedaan terjadi disini, dahulu belum ada nama-nama pos yang secara resmi dibuat, namun kini sudah ada nama-nama pos yang dibuat. Di Pos 3 juga kami di mintai lagi identitas oleh Petugas Ranger setempat.
Pukul 12.30 barulah kami melanjutkan kembali pendakian, badan mulai lemas sebab terlalu lama beristirahat. Trek semakin terjal saja sekitar 50°- 85° kemiringannya. Luar biasa sekali trek pendakian Gunung Guntur ini. Perlahan namun kami melangkah melewati jalur ini. Sesekali kami berhenti untuk sekedar beristirahat dan melempar canda tawa untuk menghilangkan rasa lelah. Kali ini saya merasa berat sekali untuk melangkah, rasa lapar yang begitu menyiksa membuat kaki ini enggan berjalan lagi.
Setelah sekian lama berjuang melawan curamnya trek pendakian Gunung Guntur, akhirnya kami tiba di Puncak 1 pada pukul 16.30 dan langsung mencari lapak untuk mendirikan tenda. Kami harus cepat mendirikan tenda sebab angin dingin mulai menyelimuti kami. Setelah tenda jadi, kami mulai memasak untuk mengisi perut yang sedari pagi belum terisi sama sekali.
Selepas maghrib, kami semua masuk tenda dan mulai beristirahat merebahkan badan yang sudah lelah ini. Malam hari pukul 22.00, Ari Pitax membangunkan saya, sebab ada suara yang terdengar janggal dari luar tenda. Saya takut suara tersebut berasal dari maling yang sering berkeliaran di Gunung Guntur.
Minggu, 14 September 2014
Pukul 05.30 kami semua terbangun dari tidur yang nyenyak karena kelelahan. Kami memulai hari dengan secangkir kopi sebagai penghangat. Pukul 06.12 kami mulai berjalan menuju Puncak Gunung Guntur. Perjalanan dari Puncak 1 menuju Puncak Gunung Guntur membutuhkan waktu paling lama setengah jam melewati trek terjal dengan kemiringan 75°.
Pagi itu kami tiba di Puncak Guntur. Ternyata di puncak sudah ramai dengan pendaki, ada juga yang mendirikan tenda disana. Seperti biasa ritual di puncak yaitu berfoto ria sambil menghisap batang-batang kehidupan. Keadaan puncak masih belum berubah, masih seperti dahulu, namun hanya lebih kotor saja banyak sampah botol plastik.
Pukul 07.45 setelah puas berfoto dan menikmati keindahan Puncak Gunung Guntur, kami kembali turun menuju tenda untuk memasak sarapan pagi. Sekitar 15 menit kami turun kami langsung bergegas masak. Menu pagi hari ini lumayan mewah untuk seukuran di gunung, yaitu sayur sop, ikan asin, dan telur goreng.
Setelah selesai acara makan-makan kami mulai packing barang bawaan. Tak lupa kami membersihkan sampah yang ada disekitar kami. Sebab saat ini Gunung Guntur sudah mulai kotor menurut saya. Padahal beberpa bulan yang lalu masih sangat bersih dan asri, bahkan ada yg bilang bulan agustus kemarin saja masih bersih. Saya sengaja bawa karung bekas beras untuk mengangkut sampah. Kelebihan karung dibanding trashbag adalah tidak mudah sobek saat diseret atau tersangkut ranting, selain itu juga dapat memuat lebih banyak sampah.
Saya mengetahui Gunung Guntur sedang naik daun sebab keindahannya yang luar biasa, maka dari itu saya menyiapkan bekas karung beras dari rumah untuk memungut sampah disana. Saya ingin memulai menggalakkan aksi bersih gunung dengan cara membawa bekas karung beras dalam mendaki gunung. Minimal kita membawa sampah kita sendiri jika anda tidak sanggup memunguti sampah bekas orang lain. Gunung Bukan Tempat Sampah !!
Pukul 10.30 kami memutuskan untuk meninggalkan Puncak 1 bersiap untuk turun. Sebelumnya kami berdoa terlebih dahulu agar tetap dalam lindungan-Nya. Kami berjalan turun melewati jalur yang terjal, licin, berdebu dengan sangat hati-hati sekali. Sekali salah dalam berpijak bisa saja kita terjatuh dan terguling ke bawah tanpa ada yang bisa menghentikan. Beberapa dari kami memilih untuk merosotkan badannya, hal ini memang lebih baik ketimbang terguling jatuh kebawah. Bahkan ada pendaki yang memotong matrasnya sebagai alat untuk merosot di turunan yang sangat curam.
Dalam turun, sesekali kami berhenti cukup lama untuk sekedar menikmati pemandangan Kota Garut dari ketinggian. Cuaca siang itu sangat cerah bahkan panas terasa menyengat sekali. Saya turun di kemiringan seperti ini memang agak lambat, sebab saya sangat lemah dalam kondisi trek yang licin seperti ini.
Pukul 13.00 kami tiba di Pos 3. Di pos ini kami mengambil air kembali untuk persediaan. Saya dan beberapa teman bahkan sempat untuk bersih-bersih. Sekitar satu jam lebih kami di pos ini.
Pukul 14.00 kami melanjutkan perjalanan turun. Kami harus tetap berhati-hati sebab jalur turun teramat curam berbatu. Saat musim panas seperti ini trek sangat berdebu sekali. Sesekali kami berhenti untuk berteduh dari teriknya mentari. Setelah beberapa lama kami masuk hutan, setelah Pos 2 ada sedikit jalur hutan yang teduh. Hingga akhirnya kami tiba di Curug Citiis. Disana kami berhenti untuk beristirahat. Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di areal penambangan pasir. Tercatat pada waktu itu sekitar pukul 15.00.
Sampai di areal penambangan pasir, kami mencari truk yang akan turun dan meminta sang supir untuk bersedia kami tumpangi hingga bawah. Setelah negosiasi akhirnya kami dapat tumpangan dan sang supir berani mengantar kami hingga Terminal Guntur Garut. Satu jam kami terombang-ambing lagi di truk bermuatan batu tersebut, kami tiba di Terminal Guntur Garut. Di terminal kami bergantian untuk bersih-bersih.
Hari mulai gelap kembali, pukul 18.30 kawan-kawan yang tujuan Jakarta mulai naik bus dan meninggalkan Kota Garut. Saya pun kembali menuju Bandung dengan bus terakhir yang tersisa disana. Pukul 21.30 saya tiba di Bandung dan langsung menuju kosan. Waktu menunjukan pukul 22.12 saya tiba di kosan tercinta. Alhamdulillah tak ada halangan yang berarti dalam perjalanan ini.
Terima kasih telah menyimak catatan perjalanan saya. Sampai jumpa di pendakian si Janu berikutnya. Salam Lestari !!!
Thanks To :
- Allah S.W.T,
- Teman Seperjalanan (Harry, Arie Pitax, Imam, Fachrul, Ilham, Ari, Ponco, Waway, dan Ade),
- Orang Tua yang selalu mendoakan dari rumah (walau jarang ijin),
- Gunung Guntur yang sudah menyambut kami dengan penuh pesona dan pembelajarannya.
Catatan :
![]() |
| Puncak Gunung Guntur pagi hari terkena sinar mentari |
Berikut catatan perjalanannya :
Sabtu, 13 September 2014
Pukul 01.00 dini hari dengan diantar seorang teman saya berangkat menuju terminal Leuwipanjang, Bandung. Kemudian saya naik angkutan carry plat hitam jurusan Garut. Sebelumnya saya sudah berjanjian dengan Harry dan Arie Pitax di SPBU Tanjung, Garut. Ternyata bukan hanya kami bertiga yang mendaki kali ini. Seorang teman saya menitipkan 3 orang temannya dari Pondok Gede untuk ikut bareng dengan saya. Akhirnya kami berjumlah 6 orang yaitu saya, Arie Pitax, Harry, Ilham, Imam, dan Fachrul.
Pukul 03.15 saya tiba di SPBU Tanjung. Langsung menemui mereka yang sedang beristirahat. Mereka langsung terbangun ketika saya datang. Setelah itu kami mengobrol untuk menunggu datangnya pagi. Tak lama datang lagi 2 orang yang ingin gabung dengan kami yaitu Ari dan Ponco pendaki asal Jakarta. Jadi total kami 8 orang.
Pukul 06.00 kami mulai bersiap untuk berangkat. Kami menunggu tumpangan truk pasir menuju Curug Citiis. Tak berapa lama akhirnya kami dapat tumpangan dengan membayar Rp.10.000/ orang. Hampir satu jam lebih kami terombang-ambing di truk akhirnya kami tiba di Areal Penambangan Pasir Gunung Guntur. Jalur Pendakian Gunung Guntur dimulai dari ujung areal penambangan pasir kemudian menuju Curug Citiis. Sebelumnya kami juga izin terlebih dahulu dengan petugas RW setempat untuk data identitas pendaki.
Disana kami mulai bersiap-siap beres-beres dan mengecek kembali barang bawaan. Pukul 08.00 kami berkumpul dan memanjatkan doa kepada Allah S.W.T untuk keselamatan kami semua. Lalu kami mulai melangkahkan kaki kami dengan pasti. Kali ini saya sedikit bingung memulai pendakian sebab kami diturunkan jauh dengan seperti yang biasa saya mendaki gunung ini. Saya biasa mengambil jalur menurun melewati pinggir aliran air Curug Citiis, namun kali ini beda, saya mengambil jalur tegak lurus menanjak masuk ke hutan savana.
Kami harus menemukan sumber air sebab kami hanya membawa air sedikit. Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak. Pagi itu terasa panas sudah menyengat di kepala. Saya berjalan sambil mempelajari trek yang saya lewati, ternyata kami berbeda punggungan dengan jalur yang sebenarnya. Walau begitu, jalur ini sama saja menuju Puncak Gunung Guntur.
| Istirahat sejenak di pertemuan punggungan sambil ngopi |
![]() |
| Gambaran trek yang kami lewati. Ungu : Jalur yang kami lewati, Hijau : Jalur yang asli (dahulu saya lewati) |
![]() |
| Ambil air |
Pukul 12.30 barulah kami melanjutkan kembali pendakian, badan mulai lemas sebab terlalu lama beristirahat. Trek semakin terjal saja sekitar 50°- 85° kemiringannya. Luar biasa sekali trek pendakian Gunung Guntur ini. Perlahan namun kami melangkah melewati jalur ini. Sesekali kami berhenti untuk sekedar beristirahat dan melempar canda tawa untuk menghilangkan rasa lelah. Kali ini saya merasa berat sekali untuk melangkah, rasa lapar yang begitu menyiksa membuat kaki ini enggan berjalan lagi.
![]() |
| Istirahat di tengah trek |
Gunung guntur tidak seperti gunung – gunung di daerah tropis lainnya. Gunung ini justru terlihat tandus dan gersang. Jalurnya pun di dominasi oleh savanna dan batuan kerikil kecil sisa letusan.jarang kita menjumpai pohon besar sepanjang lintasan pendakian yang bisa kita gunakan untuk berteduh.Matahari masih tetap bersinar terang diatas kepala kami, peluh bercucuran membasahi wajah kami. Trek berbatu terjal dan berdebu kami lewati dengan perlahan dan pasti. Setiap beristirahat, kami harus mencari pepohonan besar yang rindang. Kali ini pendakian sangat santai sekali. Setiap istirahat memakan waktu yang cukup lama.
| Lihat pohon, inilah kemiringan trek pendakian Gunung Guntur |
Selepas maghrib, kami semua masuk tenda dan mulai beristirahat merebahkan badan yang sudah lelah ini. Malam hari pukul 22.00, Ari Pitax membangunkan saya, sebab ada suara yang terdengar janggal dari luar tenda. Saya takut suara tersebut berasal dari maling yang sering berkeliaran di Gunung Guntur.
Banyak pendaki di Gunung Guntur yang merasa kehilangan sebab barangnya ada yang mengambil. Dahulu barang hilang sebab tenda ditinggal pemiliknya menuju puncak. Sekarang maling di Gunung Guntur lebih berani dengan cara menyilet tenda pendaki yang sedang tidur dan mengambil barang berharga seperti dompet, kamera, hp dll. Waspadalah !!!Setelah saya amati secara perlahan suara tersebut, ternyata bukan berasal dari manusia. Ternyata itu suara babi hutan yang sedang mengacak-acak logistik kami. Saya membangunkan Harry, kemudian membereskan logistik dan bekas masak kami yang diacak-acak babi hutan itu. Malam itu saya dan Harry berjaga agar babi hutan tersebut tak kembali ke tenda kami. Sebab babi hutan dengan taringnya bisa saja merusak tenda kami. Setelah dirasa cukup aman, kami kembali tidur.
Minggu, 14 September 2014
Pukul 05.30 kami semua terbangun dari tidur yang nyenyak karena kelelahan. Kami memulai hari dengan secangkir kopi sebagai penghangat. Pukul 06.12 kami mulai berjalan menuju Puncak Gunung Guntur. Perjalanan dari Puncak 1 menuju Puncak Gunung Guntur membutuhkan waktu paling lama setengah jam melewati trek terjal dengan kemiringan 75°.
![]() |
| Mentari pagi mulai bersinar |
![]() |
| Langit mulai terang |
| Pemandangan Gn. Cikuray dari Puncak Guntur |
| Nampak Gn. Ciremei di ujung sana |
![]() |
| Janu Jalan Jalan |
![]() |
| Di puncak Gunung Guntur |
Setelah selesai acara makan-makan kami mulai packing barang bawaan. Tak lupa kami membersihkan sampah yang ada disekitar kami. Sebab saat ini Gunung Guntur sudah mulai kotor menurut saya. Padahal beberpa bulan yang lalu masih sangat bersih dan asri, bahkan ada yg bilang bulan agustus kemarin saja masih bersih. Saya sengaja bawa karung bekas beras untuk mengangkut sampah. Kelebihan karung dibanding trashbag adalah tidak mudah sobek saat diseret atau tersangkut ranting, selain itu juga dapat memuat lebih banyak sampah.
Saya mengetahui Gunung Guntur sedang naik daun sebab keindahannya yang luar biasa, maka dari itu saya menyiapkan bekas karung beras dari rumah untuk memungut sampah disana. Saya ingin memulai menggalakkan aksi bersih gunung dengan cara membawa bekas karung beras dalam mendaki gunung. Minimal kita membawa sampah kita sendiri jika anda tidak sanggup memunguti sampah bekas orang lain. Gunung Bukan Tempat Sampah !!
Jika kita tak sanggup membersihkan sampah di gunung, minimal janganlah kita menambahnya
Dengan hal seperti itu kita bisa tetap menjaga kebersihan gunung. Minimal kita membawa sampah kita sendiri jika anda tidak sanggup memunguti sampah bekas orang lain. - See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2014/09/gunung-bukan-tempat-sampah.html#sthash.XVP7sRNn.dpuf
![]() |
| Ayo kawan penggiat alam, mari lakukan AKB (aksi karung beras) untuk kelestarian tempat bermain kita |
Dalam turun, sesekali kami berhenti cukup lama untuk sekedar menikmati pemandangan Kota Garut dari ketinggian. Cuaca siang itu sangat cerah bahkan panas terasa menyengat sekali. Saya turun di kemiringan seperti ini memang agak lambat, sebab saya sangat lemah dalam kondisi trek yang licin seperti ini.
Pukul 13.00 kami tiba di Pos 3. Di pos ini kami mengambil air kembali untuk persediaan. Saya dan beberapa teman bahkan sempat untuk bersih-bersih. Sekitar satu jam lebih kami di pos ini.
![]() |
| Di Pos 3 |
Sampai di areal penambangan pasir, kami mencari truk yang akan turun dan meminta sang supir untuk bersedia kami tumpangi hingga bawah. Setelah negosiasi akhirnya kami dapat tumpangan dan sang supir berani mengantar kami hingga Terminal Guntur Garut. Satu jam kami terombang-ambing lagi di truk bermuatan batu tersebut, kami tiba di Terminal Guntur Garut. Di terminal kami bergantian untuk bersih-bersih.
Hari mulai gelap kembali, pukul 18.30 kawan-kawan yang tujuan Jakarta mulai naik bus dan meninggalkan Kota Garut. Saya pun kembali menuju Bandung dengan bus terakhir yang tersisa disana. Pukul 21.30 saya tiba di Bandung dan langsung menuju kosan. Waktu menunjukan pukul 22.12 saya tiba di kosan tercinta. Alhamdulillah tak ada halangan yang berarti dalam perjalanan ini.
Terima kasih telah menyimak catatan perjalanan saya. Sampai jumpa di pendakian si Janu berikutnya. Salam Lestari !!!
Thanks To :
- Allah S.W.T,
- Teman Seperjalanan (Harry, Arie Pitax, Imam, Fachrul, Ilham, Ari, Ponco, Waway, dan Ade),
- Orang Tua yang selalu mendoakan dari rumah (walau jarang ijin),
- Gunung Guntur yang sudah menyambut kami dengan penuh pesona dan pembelajarannya.
Catatan :
- Gunung Guntur saat ini sudah dikelola warga setempat, ijin lah terlebih dahulu di Basecamp (rumah RW)
- Untuk trek pendakiannya sudah jelas, walau ada beberapa tempat yang treknya bercabang. Cobalah banyak melakukan orientasi dan pelajari treknya saat berjalan.
- Untuk menuju tambang pasir, tunggulah di SPBU Tanjung, jika ada truk mintalah tumpangan dan kasih uang atau rokok seikhlasnya.
- Gunung Guntur masih sedikit yang mendaki jadi masih sangat asri rasanya walau terlihat gersang karena memang seperti itu tipe gunungnya.
- Gunung Cikuray dan Papandayan sudah sangat berbeda jauh, alamnya rusak karena banyak pendaki yang tidak mau membawa sampahnya turun lagi. Semoga gunung ini terjaga.
- Jangan berbuat vandalisme di gunung ini, jaga keindahannya.
- Jangan membuat api unggun, sebab tipe hutan di gunung ini berupa savana rerumputan yang mudah terbakar.
- Bawa sampah turun kembali, jangan ditinggalkan di gunung. Saat saya mendaki ada beberapa tenda disamping saya tidak membawa sampahnya turun.
- Hati-hati terhadap pencurian yang sering terjadi. Jika ingin aman, masukan barang berharga anda ke dalam Sleeping bag saat tidur. Jangan di taruh di sisi tenda.
- Jalur pendakian Gunung Guntur bisa dikategorikan berat, persiapkan fisik yang prima.
- Persiapkan persediaan air di Curug Citiis, karena diatas akan sulit mendapatkan air kecuali hujan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salam dari Gunung Guntur
Pada Akhirnya pakailah Prinsip Leave No Trace
Jangan kau tinggalkan apapun kecuali jejak,
Jangan kau ambil apapun kecuali gambar,
Jangan kau bunuh apapun kecuali waktu,
Jangan kau bakar apapun kecuali semangat.
Salam,
Januar arifin





Tuesday, 16 September 2014

























Indahnya ciptaan ALLAH...Beruntung dapat sendiri ke pendakian ini...Teruskan menikmati keindahan ciptaanNya yang luas. TAHNIAH!!!
ReplyDeletebestnya dapat daki gunung
ReplyDelete"Jika kita tak sanggup membersihkan sampah di gunung, minimal janganlah kita menambahnya" setuju sama kata-kata ini... kayanya sekarang makin banyak pendaki yg buang sampah sembarangan, nggak cuma di gunung guntur mungkin....
ReplyDeleteDan bener juga sih, kayanya lebih baik jgn bikin api unggun didaerah savana kaya gitu, bahaya klo sampe ada kebakaran hutan... :)
Salam lestari brow....
wah, Mas Janu makin semangat aja naik gunung nya yah hehehe, Jangan lupa tetap jaga kesahatan ya Mas. Salam Lestari Buana Nusantara :)
ReplyDeletehttp://www.tipskreatif.net/
ReplyDeletesekedar berbagi informasi..
ReplyDelete"7 pekerjaan yang cocok untuk pendaki gunung"
http://goo.gl/GRiJPp