Januar Arifin

" Gunung Ciremei " Duet Nekat Menuju Atap Jawa Barat

Posted by Januar arifin on Saturday, 30 April 2011

Gunung Ceremai
Akhir-akhir ini sudah sangat jenuh dengan kegiatan yang saya lakukan sehari-hari, maka dari itu ingin sekali rasanya untuk pergi mendaki gunung. Untung saja salah seorang teman saya mengajak mendaki gunung. Tanpa basa-basi, saya langsung menghubungi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, namun kouta pada saat itu penuh. Saya bingung mendaki gunung apa karena libur hanya 4 hari. Dengan pertimbangan yang cukup lama akhirnya kami memumutuskan untuk mendaki Gunung Ceremai di Kuningan Jawa Barat. 

Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah dinamakan "Ciremai") secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. 

Barang-barang pendakian yang biasa kami bawa sedang dipakai untuk diklat di di TNGP, kami hampir putus asa dengan ketiadaan barang. Akan tetapi, kami mempunyai barang yang masih lumayan baik kondisinya untuk dipakai walaupun seadanya saja. 

Dengan barang seadanya dan ongkos yang pas-pasan kami pun berangkat pada hari Jumat 22 april 2011 pukul 13.00. kami berangat dari terminal Lebak Bulus Jakarta dengan mengunakan bus Luragung jurusan Kuningan jawa Barat. Kondisi bus yang sangat penuh membuat saya rada susah untuk memejamkan mata yang memang kondisi saya saat itu kurang tidur dan kurang istirahat. 

Lebih kurang 7 jam kami diturunkan oleh kondektur bus di daerah Ciperna, kami menunggu kendaraan Elf  yang ke arah Kuningan, namun tiada yang lewat. Seorang ibu menyarankan kami untuk ke terminal Cirebon terlebih dahulu, benar saja sesampainya terminal Cirebon, saya langsung mendapatkan mobil Elf jurusan Ciamis yang melewati Kuningan. 

Dengan Elf dari terminal Cirebon saya turun di pertigaan Linggarjati. Dari pertigaan untuk mencapai pos pendakian Linggasana sejauh 6km, kami memilih berjalan kaki karena tidak mau mengeluarkan ongkos lagi untuk menyewa ojek yang mahal. Beberapa ratus meter berjalan ada sebuah mobil pick up yang sangat berbaik hati menawarkan tumpangan, tanpa banyak bicara kami langsung naik ke mobil tersebut.

Singkat cerita sampai lah kami di pos pendakian Linggasana. Saya lapor terlebih dahulu dan pergi ke warung untuk mengisi perut, karena cacing di perut saya sudah pada demo. Sepiring nasi goreng habis saya makan dengan lahapnya. Selang beberapa menit mulai lah kami menyiapkan penerangan untuk jalan malam ini. Pukul 10.15 tepat kami mulai pendakian. Suasana begitu mencekam saat pertama kali masuk hutan di sana. Beberapa kali saya berhenti karena saya merasa nasi di perut saya belum tercerna dengan baik.

Di tengah hutan gelap kami bertukar keril, lalu lanjut berjalan hingga seratus meter. Akan tetapi tas kecil saya yang berisi handphone dan dompet tertinggal saat kami bertukar keril. Mau tak mau kami turun lagi untuk mengambil tas kecil tersebut. Kami lalu mulai melangkahkan kaki perlahan lahan naik ke atas, sampai di mata air Ci Kukuwu (780 mdpl)  kami akhirnya mendirikan tenda untuk sejenak tidur dan menghilangkan kelelahan karena perjalanan di bus semalam. 

Baru saja kami merebahkan badan, tiba-tiba ada dua orang pendaki yang datang berasal dari Bekasi. Mereka juga mendirikan tenda di sebelah tenda kami, dan akhirnya mereka berdua menjadi teman sependakian seperjalanan hingga pulang. 

Tepat pukul 3.30 kami packing membereskan tenda dan siap-siap untuk melanjutkan pendakian. Kami berjalan menembus hawa dingin yang menusuk badan, sekitar 20 menit berjalan kami sampai di Pos Kondang Amis (1350 mdpl) yang merupakan percabangan dari jalur Linggarjati. Sambil menunggu adzan subuh berkumandang, kami istirahat sejenak. Perjalanan pun kami lanjutkan hingga Pos Kuburan Kuda (1450 mdpl) selama 2 jam pejalanan penuh peluh keringat. Di pos ini kami istirahat sambil memasak mie instan untuk mengisi perut yang memang sudah memainkan alunan music keroncong. Kemudian kami tidur selama 2 jam karena memang kami semua kurang tidur semenjak perjalanan dari Jakarta. 

Kami meneruskan perjalanan lebih kurang jam 12an, pendakian semakin melelahkan sekali dengan tanjakan tanpa ampun. Terkadang kita hanya menemukan lintasan yang terputus dan hanya berpegang pada akar-akar pohon. Kemudian sampai lah kami di Pos Pangalap (1650 mdpl). Kaki saya terasa kram saat itu, teman-teman sudah berjalan terlebih dahulu  dan saya tertinggal lumayan jauh. Namun, dengan tekad untuk mencapai puncak, akhirnya saya terus melangkah walau sedikit demi sedikit. 

Pos Tanjakan Bin-bin (1920 mdpl) dan saya masih tertinggal di belakang, terus saja saya menyusuri jalan setapak yang menanjak terus. Memang benar jalur pendakian Ceremai ini tanpa bonus, terus menanjak dan terjal. Hujan mulai turun serta kabut dingin menyelimuti. Sampai lah kami di Pos Tanjakan Seruni (2080 mdpl), kami pun semua beristirahat sejenak sambil diguyur hujan yang cukup lebat. 

Trek semakin menantang tanjakan yang terjal ditambah hujan membuat jalur seperti aliran sungai kecil dan licin. Tanjakan Seruni merupakan tanjakan yang sangat berat, kita hanya berpegang pada akar-akar pohon.

Pukul 16.30 kami sampai di sebuah tanah kosong yang datar dan luas, banyak pendaki yang mendirikan tenda disini. Kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda disini karena kondisi cuaca yang hujan ditambah trek licin. Beristirahat satu malam untuk memulihkan tenaga yang terkuras selama pendakian tadi siang. 

Pukul 2.15 kami terbangun dan siap untuk melanjutkan pendakian menuju puncak (summit attack). Kami disini Loss Carrier atau meninggalkan tenda dan hanya membawa air dan makanan ringan agar beban tidak terlalu berat. 

Disini anggota perjalanan bertambah 3 orang, mereka ingin bareng menuju puncak dengan kami. Kami pun berjalan menembus malam hutan yang lebat ini. Setelah 30 menit berjalan sampai kami di Pos Bapa Tere (2200 mdpl). Gas terus tanpa berhenti hingga pada saat azdan subuh sampai di Pos Batu Lingga (2400 mdpl). 

Setelah 15 lanjut jalan untuk mengejar puncak, sampai di Pos Sangga Buana Bawah (2545 mdpl). Kemudian lanjut terus karena semangat ingin melihat indahnya sunrise. Sampai lah di Pos Sangga Buana Atas (2665 mdpl) pada puku 05.00. Berhenti sebentar untuk mengambil nafas kemudian lanjut lagi hingga Pos Pangasinan (2860 mdpl), di pos ini kami tiba pada pukul 06.30. Telat sekali untuk mendapatkan sunrise di puncak, namun, dari pos ini sudah sangat terlihat jelas sunrise. 

Saya disini sangat semangat karena puncak sudah didepan mata. Saya berjalan terus dan terkadang berhenti untuk mengambil nafas. Perjalanan menanjak terus terasa sekali di kaki kiri saya yang kemarin sempat kram. Setelah 25 menit menanjak di trek berpasir dan kerikil saya akhirnya sampai di puncak gunung Ceremai. Yeaah saya berteriak sekuat-kuatnya dan mengucap syukur Alhamdulillah. 


Atap Jawa Barat dengan dikelilingi gumpalan awan begitu indah pagi itu. Tak henti bersyukur dan menyebut kebesaran-Nya. Subhanallah. Kami di Puncak berfoto ria dan memasak air untuk membuat kopi. Beberapa pendaki bergabung dengan kami sambil berbincang menikmati hangatnya kopi dan indahnya alam pagi di Puncak Ceremai. 

Di Puncak Ciremei
Setelah puas menikmati puncak, pukul 09.30 kami turun melewati jalur yang sama. Berjalan turun ternyata lebih susah karena trek yang sangat licin sehabis hujan kemarin. Waktu turun lebih cepat karena kami sedikit berlari, satu jam berjalan sampailah kami di tenda yang kami tinggalkan. 

Memasak nasi dan menghabiskan makanan adalah tujuan kali ini agar beban turun menjadi lebih ringan. Nugget dan mie instan menjadi menu utama hari itu. setelah melahap makanan hujan kembali turun, kami pun tertidur pulas karena keletihan. Tepat Pukul 14.00 kami packing dan siap untuk turun dan menyudahi perjalanan ini. 

Turun di trek yang licin membuat kami bergerak lamban. Gerigi pada sepatu saya telah habis membuat saya ekstra hati-hati dalam melangkah. 

Berjalan terus tanpa henti menuruni turunan terjal dan licin. Pukul 17.30 sampai lah kami di Pos Kondang Amis. Berhenti sejenak mengambil nafas. Lanjut jalan menuju desa Linggasana, magrib terlewati, gelap pun kembali datang namun, kami belum sampai di desa. 

Dengan sepatu yang licin, saya sering terjatuh. Lebih kurang 40 kali saya terpeleset di tanah. Namun, saya tetap berdiri dan terus berusaha fokus terhadap trek yang licin. Pukul 19.00 akhirnya kami tiba di pos Penjagaan desa Linggasana. Alhamdulillah semua sampai dengan selamat.

Istirahat sebentar dan mengisi perut. Lalu pukul 21.00 kami menyewa angkot untuk menuju Pasar Cilimus.Di Pasar Cilimus kami menunggu bus yang jurusan Jakarta. Setengah jam kami menunggu akhirnya datang juga bus Luragung, namun, kondisi bus sangat padat. Tidak ada alternatif lain selain kami berdiri di bus.

Dengan kondisi yang sangat lelah, kita semua berdiri di bus, bisa dibayangkan bagaimana rasanya. Teman-teman yang lain memilih tidur di bawah kursi, tetapi saya tidak bisa karena tidak cukup. 

Kota demi kota terlewati, saya tetap berdiri. Gemetar kaki saya, tapi saya harus tetap tabah, ini sebuah penguji kesabaran. Sesekali saya jongkok di tempat yang sempit. Dari Kuningan Jawa Barat sampai di Pulo Gadung Jakarta saya baru bisa merasakan enaknya duduk di bangku bus. Masya Allah perjalanan yang sangat melelahkan, namun, sangat memberikan pelajaran bagi saya. 

Sampai Pasar Rebo Pukul 05.00 pagi, lanjut ke Lebak Bulus dan akhirnya tiba di rumah tercinta. Rasa letih terbayar oleh hangatnya teh manis buatan ibu saya.


Sampai Jumpa di Pendakian Selanjutnya

Tambahkan Komentar

1 comment:

  1. keren jan yang sunrisenya,
    bisa kali nih di sent lewat bb :D
    *ga ada email ym apa jan -,-" gua lewat Anonymous aje yeh ga ngerti nih haha by:nyui

    ReplyDelete