Berikut ini adalah sebuah cerita pendek yang saya baca di salah satu majalah dwi mingguan sekitar 3 tahun yang lalu. Entah mengapa setiap saya membaca cerita ini selalu membuat saya merasa terbawa oleh suasana dalam cerita tersebut. Berikut cerita pendeknya;
DI UFUK RINJANI
Oleh : Yan
Angin berhembus begitu kencang dan dingin. Suara pohon cemara gunung mengalun berirama di kejauhan, di antara dentingan logam teko penuh jelaga yang tergantung di atas perapian kecil. Tenda seakan tertarik kencang seakan ingin meninggalkan tempatnya diakibatkan angin yang masuk ke dalam tenda. Beberapa monyet ekor panjang mengintip dari bebatuan cadas, seakan ingin bergabung dengan para pendaki.
Pemandangan di punggung gunung Pelawangan Sembalun Lawang, tempat camp para pendaki, sudah terdengar ramai. Beberapa penghuni tenda sudah mulai bergegas untuk melanjutkan pendakian menuju puncak Rinjani, atau menuruni kawah menuju danau Segara Anak.
Pukul dua dini hari, Guruh dan Ari sudah bangun dari sleeping bag miliknya masing-masing. Rambut kusut mereka tertiup angin dan sesekali menguap untuk menyegarkan diri dari rasa kantuk yang tersisa. Untunglah cuaca begitu cerah, kabut dingin yang sering menyerang sepertinya tidak akan datang jika mendengar laporan dari radio informasi. Artinya, summit attack atau pendakian menuju puncak bisa dilakukan dengan aman.
Terlihat di kejauhan tiga orang highlander (sebutan untuk pendaki gunung) sudah beranjak pergi menuju puncak. Seorang porter mengiringi mereka sambil membawa perlengkapan yang terbilang sangat berat. Mereka menyapa ramah ke setiap tenda yang dilaluinya, seakan sudah kenal dekat dengan para penghuni tenda lainnya.
Guruh mulai bergegas melipat sleeping bag dan memasukan peralatan ke dalam ranselnya. Kedua tas ransel remaja itu menggembung besar, terisi perlengkapan perjalanan terakhir menuju puncak Rinjani.
Terlihat di kejauhan tiga orang highlander (sebutan untuk pendaki gunung) sudah beranjak pergi menuju puncak. Seorang porter mengiringi mereka sambil membawa perlengkapan yang terbilang sangat berat. Mereka menyapa ramah ke setiap tenda yang dilaluinya, seakan sudah kenal dekat dengan para penghuni tenda lainnya.
Guruh mulai bergegas melipat sleeping bag dan memasukan peralatan ke dalam ranselnya. Kedua tas ransel remaja itu menggembung besar, terisi perlengkapan perjalanan terakhir menuju puncak Rinjani.
“Ar . . Lo udah siap??”, Tanya
Guruh.
“Belom, kamera gw mana ya, Ruh??.
Jangan-jangan dibawa monyet waktu gw tidur!!”. Ari balik tanya.
“Ni ada di gw, Lu sih nyimpennya
sembarangan”. Jawab Guruh.
Yap. Memang monyet-moyet ekor
panjang memang suka mengganggu tenda para pendaki. Mereka sangat pandai membuka
tenda untuk mencari makanan.
Dengan ransel mencuat di punggung
masing-masing, Guruh dan Ari memulai perjalanan mereka. Medan menuju puncak
sangat berat dan berbahaya. Padang pasir, kawah, dan jurang menganga seolah
tanpa dasar, memaksa adrenalin berpacu. Dua ratus meter terakhir harus ditempuh
dengan penuh susah payah. Keringat terus mengucur dari kedua pendaki ini, meski
dingin menerpa tubuh mereka.
Ari terlihat kewalahan saat
melewati padang pasir bertabur kerikil. Begitupun Guruh walaupun tak
seterprosok Ari, tapi bisa dibilang setiap satu langkah kakinya maju, maka
setengah langkah akan turun kembali karena terperosok batuan kerikil.
Kurang lebih 3 jam perjalanan,
Guruh dan Ari akhirnya tiba di puncak Rinjani. Segala kelelahan dan kepenatan
yang dirasakan sebelumnya sirna terbawa hembusan angin kencang yang menerpa
diri. Dari ketinggian 12.420 kaki atau 3,726mdpl, di puncak Gunung Rinjani itu
mereka udara hangat bermandikan sinar mentari yang baru saja terbit.
“yuuuuuhuuuu” teriak Ari puas,
seraya merentangkan kedua tangannya. Angin menerbangkan ujung slayer kepala dan
jaket gunungnya.
Guruh duduk lega di atas sebuah
batu besar yang dikelilingi rumput. Ia tak henti memandangi sunrise di ufuk
Rinjani. Sinar kemerahan membaur orange dan mengabur kuning, hingga membuat
warna biru cerah di langit yang luas. Danau Segara Anak dengan bias
buri dan hijau menyilaukan terlihat sangat cantik bagaikan Dewi Anjani yang
deipercaya sebagai penguasa Gunung Rinjani ini oleh penduduk setempat. Tampak
dari kejauhan gunung-gunung di Pulau Jawa dan Bali, seperti Gunung merapi-ijen
di Banyuwangi, Semeru di Lumajang dan Gunung Agung di Bali.
Beberapa pendaki yang telah tiba
lebih dahulu pun mengheningkan diri untuk menikmati dan mengagumi keindahan
alam yang luar biasa. Mungkin bukan hanya ingin menikmati dan mengagumi alam
ciptaan Tuhan ini yang membuat mereka rela bersusah payah untuk mencapai
puncak. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dari pada semua itu, yaitu
perasaan di mana batasan fisik saat mendaki sudah lemah dan diambang
keputusasaan, maka muncul semacam kekuatan mental untuk bertahan dan berjuang,
hingga para pendaki akan merasa tetap “ada” saat kekuatan mental tersebut
terlewati. Seperti kata-kata Sir Edmund Hillary pendaki pertama Gunung Everest
“……Because It’s There..”
Ari sedang sibung memotret
beberapa pemandangan alam yang indah dengan kamera digitalnya. Guruh masih
duduk termenung, melihat jauh ke depan. Ia mengeluarkan selembar foto kecilnya.
Di foto tersebut tergambar Guruh dan Ari lengkap dengan pakaian gunungnya. Di
antara mereka berdua tergambar seorang gadis kecil nan cantik. Mereka tertawa
lepas dengan sebuah latar Danau Segara Anak yang menyembul dari balik
pucuk-pucuk pohon cemara. Guruh sejenak terhanyut dalam kenangan. Sesaat
kemudian Ia meletakan foto itu di atas batu kecil dan rumput liar, dalam posisi
kearah matahari terbit.
“Rin . . Gw sama Ari berhasil !!!
kita melakukan ini buat Lo. Semoga Lo bisa tenang dan bahagia di sana”, ucap
Guruh pelan dengan sedih.
Dipetiknya beberapa tangkai
Anaphalis Javanica (edelweiss), lalu diletakannya di samping foto tersebut. Ari
mendekati Guruh dan ikut memandangi foto kenangan mereka. Teringat Ririn pernah
bilang ke Guruh.
“Aku akan buktiin kalau aku ada
artinya buat hidupku dan orang tuaku,
dan jalan yang kupilih Cuma ini…”
Desiran angin semakin kencang.
Rerumputan tertiup hingga goyah dari pangkalnya. Udara dingin dibawah 20
derajat Celcius menghantarkan kenangan jauh sebelum Guruh, Ari, dan Ririn masih
bersama-sama.
Guruh lumayan nakal, tapi dian
sosok yang pendiam. Sementara Ari justru gak bisa diam dan ceplas-ceplos. Kalau
Ririn? Oh dia gadis yang sangat cuek. Meskipun sebenarnya dia gadis yang sangat
manis.
Ririn jika dibandingkan dengan
anak perempuan lain emang beda. Ia lebih menyukai tantangan. Waktu kecil,
ketika anak perempuan lain senang main boneka, Dia malah lebih suka pergi ke
bukit dan memanjat pohon yang tinggi, atau bermain dengan anak cowok yang salah
satunya Guruh.
Mereka kenal sudah sejak SD.
Sering main berdua hanya untuk memuaskan rasa penasaran akan tempat-tempat yang
belum mereka tau. Apalagi pada saat mereka SMP kenal dengan Ari, hobi mereka
melanglang ke berbagai tempat seolah tak terbendung. Baru setelah mereka masuk
SMA, hobi mereka tersalurkan di organisasi pecinta alam.
Pada saat naik kelas XI Guruh,
Ari dan Ririn bisa sekelas lagi di kelas IPA. Mereka bertiga pun sering
mengobrolkan berbagai gunung untuk pendakian. Ayah Ririn mulai tidak menyetujui
kalau anak perempuan satu-satunya itu terus-menerus ikut kegiatan pecinta alam.
“Buat apa kamu ikut kegiatan
laki-laki? Kamu itu perempuan!!!! Malu ayah dan ibu tau.
Lagian ngapain naik gunung Cuma
untuk turun lagi??? Ngerti kamu Ririn!!!”. Keras ayah Ririn berkata
Ririn hanya menunduk sedih tidak
mampu melawan, Ia hanya bisa menerima untuk sementara apa yang dikatakan
ayahnya. Tapi setelah itu, hatinya berontak! Alasan yang terlalu dangkal karena
rasa malu oleh pandangan orang lain. Ririn pun memilih untuk menghindari ketika
ayahnya mulai marah-marah. Di saat seperti ini, Guruh lah yang sering menghibur
Ririn, dengan cara mengajak Ririn ke bukit dekat sekolah dan menenangkan hati
Ririn hingga Ririn tersenyum kembali.
Hubungan Guruh dan Ririn selama
ini hanya sebatas sahabat. Namun, diam-diam Guruh naksir Ririn. Sayangnya Ia
terlalu takut untuk mengutarakan isi hatinya. Dan sebenarnya Ririn juga
menunggu Guruh yang memendam perasaannya. Ari lah yang sering berusaha
menyatuka mereka berdua, namun selalu gagal.
Di tengah guyuran hujan di akhir
tahun. Bertempat di sekretariat pecinta alam sekolahnya. Sedang berlangsung
rapat dan membicarakan gunung-gunung yang akan menjadi tujuan pendakian. Ririn
sangat antusias pada Gunung Rinjani. Pasalnya gunung tersebut sangat indah dan
merupakan tujuan para pendaki lokal dan mancanegara.
Gunung Rinjani yang berlokasi di
Lombok, Nusa Tenggara Barat, adalah gunung berapi yang ketinggian puncaknya
hanya terkalahkan oleh Pegunungan Jayawijaya Papua. Di tengah gunung tersebut
terdapat sebuah danau yang sangat indah yaitu Danau Segara Anak dengan air yang
membiru terlihat dari kujauhan.
“Aku harus ke sana”. Batin Ririn
Guruh dan Ari pun saling
berpandangan dengan perasaan yang sama denga Ririn. Dan hampir setiap saat
Ririn selalu mengungkapkan keinginannya untuk mendaki Gunung Rinjani.
Awal tahun, Ririn di kamarnya
sedang membereskan peralatan mendakinya dengan tergesa-gesa. Dari matanya
keluar air mata serta isakan. Sementara di luar kamar ayahnya sedang marah-marah
karena Ririn tak mau juga berhenti dari kegiatan mendakinya. Rasa berontak
Ririn telah di luar batas. Saat itu juga ia lari dari rumah tanpa tujuan.
Kemudian ia pergi ke saung bambu yang ada di bukit dekat sekolah. Hujan terus
mengguyur. Tak lama kemudian Guruh datang.
“Ruh,… aku . . .hiks. . hiks. . .
“ Ririn menangis dipelukan Guruh.
“udah Rin, . . gue bakal selalu
nemenin lo.” Kata Guruh.
Lama mereka berdiam sambil melihat rintik hujan yang
semakin deras.
“aku mau berngkat ke Rinjani Ruh”
kata Ririn
“bener” sahut Guruh
“he-eh,” angguk Ririn
“gak bisa Rin, kalo cuaca buruk
gini, lo gak bisa maksain diri” tegas Guruh
“gak !! aku harus. . . aku akan
buktiin kalo aku ada artinya buat hidupku dan orang tuaku. Dan, jalan yang
kupilih cuma ini,” ucap Ririn.
Guruh hanya melihat sorot mata
Ririn yang tajam penuh dengan tekad yang kuat.
“kalo kamu gak mau nemenin, aku
akan berangkat sendirian” ucap Ririn
Guruh terpaksa mengangguk dengan
berat.
Curah hujan masih sangat tinggi.
Ombak di lautan menggulung besar dan mengombang-ambingkan kapal fery. Desakan
air laut menampar keras lambung kapal. Ririn denganwajah pucat berpegangan pada
besi kursi. Menahan keseimbangan sambil tersenyum pada Guruh dan Ari.
Perjalanan mereka sekarang menuju
Lombok, melalui Selat Lombok. Sampai di pelabuhan laut Lembar, perjalanan
dilanjutkan menuju terminal bus di kota Mataram. Dari sini mereka menggunakan
jasa angkuta elf. Dengan waktu tempuh kira-kira satu jam mereka tiba di daerah
Aikmel untuk melanjutkan perjalanan dengan elf lagi menuju pos pendakian
Sembalun Lawang. Rasa lelah mereka terbayarkan oleh pemandangan jajaran hutan
tropis yang sangat indah dan terlihat atraksi monyet liar yang loncat diantara
pepohonan hijau.
Hujan rintik-rintik membasahi
dedaunan. Pos pendakian Sembalun Lawang memberikan informasi kepada para
pendaki agar mengurungkan niatnya mendaki ke Puncak Rinjani, lantaran keadaan
cuaca yang sangat buruk dan berbahaya bagi keselamatan pendaki. Hujan yang
deras, badai yang kencang, tanah longsor dapat berakibat fatal.
Banyak pendaki yang kecewa dengan
keputusan itu. Tapi, ada pula pendaki yang nekat. Termasuk Ririn! Ia tak
mengindahkan anjuran tersebut. Dia bersikeras melanjutkan perjalanan, meski
Guruh dan Ari mencegah.
Keadaan cuaca sangat berubah
cepat. Saat ini kondisi panas menyengat. Radiasi matahari membakar kulit,
menyertai perjalanan mereka. Padang savanna dengan hamparan ilalang dan tanah
tandus berdebumembuat stamina cepat terkuras. Tanjakan terjal dengan jurang
menganga mulai terlihat diantara rimba rimba hutan heterogen. Suara monyet,
burung dan ayam hutan sesekali terdengar.
Setelah delapan jam berjalan,
sampailah mereka di Pelawangan Sembalun Lawang, di ketinggian 9000 kaki atau
2700mdpl yang merupakan pos terakhir menuju Puncak Rinjani. Ririn Nampak begitu
bahagia, ditengah kelelahannya, ia menatap takjub rimbun pohon cemara dengan
latar Danau Segara Anak. Dia berlari-lari layaknya anak kecil.
“Guruh. . . Guruuuuh. . Aku pasti
mencapai puncaknya besok pagi”, teriak Ririn
Ari juga berteriak kegirangan.
Guruh hanya menatap kea rah mereka berdua dengan bahagia. Baru kali ini ia
melihat Ririn Nampak begitu bahagia dengan tawa lepas hadir di wajahnya. Sore
itu mereka berfoto-foto sambil mengagumi indahnya sunset di ufuk barat.
“makasih Ruh”, kata Ririn
“iya”, jawab Guruh
Ririn tersenyum sinar kemerahan
menerpa wajahnya. Ingin rasanya Guruh melihat senyum itu untuk selamanya.
Cuaca kembali memburuk. Hujan
mulai turun. Mereka lalu mendirikan tenda untuk berkemah. Hanya terlihat
sedikit tenda yang berdiri di samping tenda mereka. Beberapa pendaki mulai
sibuk menghangatkan badan karena suhu dingin mulai menusuk. Angin kencang di
tengah hujan deras seakan ingin merobek dan menerbangkan tenda-tenda para
pendaki. Gelap malam perlahan turun. Ketika tengah malam hujan pun reda. Ari
sudah tertidur, Ririn terlihat merenung gelisah di atas sleeping bag-nya,
dengan penerangan kecil dari lamp camp.
“Rin, lo harus istirahat dulu.
Besok subuh kan kita mau jalan lagi,” ucap Guruh, mengusik lamunan Ririn.
Ririn menutup tubunya dengan busa
sleeping bag. Lalu mencoba untuk tidur. Tapi, matanya tetap terbuka!
Memancarkan sinar kegelisahan, di tengah angin kencang yang berhembus masuk
melalui celah-celah kain tenda.
Pukul tiga dini hari. Guruh dan
Ari sedang merapihkan peralatan.
“Ruh, lo tau kalo persediaan
makan kita cuma cukup untuk satu kali jalan ini?”, Ari berkata
“iya, tapi Ar. . . apapun yang
terjadi, kita tetap prioritaskan buat Ririn,” kata Guruh.
Ririn sudah berdiri di lereng,
sementara pendaki yang lain mengurungkan niat untuk meneruskan perjalanan menunggu
cuaca membaik.
Tiga ransel besar di punggung
masing-masing plus jaket gunung pengusir dingin mengiringi kepergian mereka
menuju puncak. Hujan rintik-rintik masih terasa. Satu jam perjalanan dilalui
dengan susah payah karena medan yang semakin berat akibat kondisi tanah yang
rapuh dan gampang longsor. Lalu, cuaca kembali memburuk tiba-tiba. Hujan derass
mengguyur, angin kencang menyapu pepohonan dan sangat kuat. Mereka terpaksa
berlindung dari serangan badai di antara celah bebatuan. Kulit terasa perih,
pandangan pun kabur.
Walau terlindung batu curam, tapi
mereka tetap terkena air hujan. Rasa dingin semakin lama semakin menjadi,
membuat badan terasa kaku. Radio komunikasi tidak bisa berfungsi lagi. Mereka
hanya bisa pasrah menunggu waktu untuk melewati keadaan tersebut.
Hampir tiga jam tidak terlihat
tanda-tanda cuaca akan membaik. Guruh mencoba memberikan makanan yang tersisa
kepada Ririn dan Ari, untuk mengusir rasa dingin. Wajah pucat Ririn membaik
setelah makan.
Tak lama cuaca berubah menjadi
lebih buruk lagi, suhu mencapai dibawah 10 derajat celcius. Mereka semakin
terjebak, persediaan makanan pun telah habis. Mereka tak bisa berbuat apa-apa
untuk melawan rasa dingin yang kian menyakitkan dan bisa merenggut nyawa.
Sore itu Guruh, Ari dan Ririn masih
mencoba untuk bertahan dari kabut dingin yang belum beranjak, meski hujan sudah
mulai reda. Kulit pucat membiru terlihat dari masing-masing wajah mereka. Ari
menyelipkan badannya di antara dua batuan. Sedangkan Guruh memeluk Ririn yang
menggigil kedinginan dengan kondisi yang sangat lemah.
“Ruh. . Ruh . . Ruh . ak . .
akuuu nggak kuuuuaaat. . . “ bisik Ririn terbata-bata
“Ruh. . Kamuuu say . sayaang . .
.ak ak akkuuu??” Tanya Ririn
“iya, Rin gue juga sayang lo,
tapi lo janji harus kuat yaa!” jawab Guruh
“akuuuu jugaa say sayyyang kamu”
ucap Ririn terbata
Bibir merah kebiruan Ririn
tersenyum. Itu menjadi senyum terakhirnya. Pegangan tangan mulai melemah. Mata
sayu Ririn mulai menutup pelan untuk selama-lamanya. Guruh hanya bisa memeluk
lebih erat dengan air mata bekunya. Ari yang di sampingnya hanya melihat dengan
lemah, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Kabut dingin mulai mengabur
dengan meninggalakan duka yang mendalam. Membekas perih, menjadi kenangan yang
tak terobati.
Gontai bunga edelweiss bergerak
lembut mengiluti semilir angin di Puncak Rinjani. Langit cerah semakin hangat
dengan mentari yang tak malu-malu beranjak naik. Kenangan Guruh dan Ari tentang
Ririn tidak akan pernah terlupakan. Ririn yang manis, cuek, keras kepala namun
berpendirian kuat, mengajarkan kepada mereka berdua untuk pantang menyerah
meraih setiap tujuan yang hendak dicapai. Guruh menatap awan putih seputih
salju yang seakan membentuk wajah Ririn yang sedang tersenyum bahagia.





Thursday, 14 April 2011
cantiknya...
ReplyDeleteFollower number 184 :)
ReplyDeleteThis is a good blog ,... :)
follow me back :)
sebagai pendaki dan banyak pengalaman y mas janu ...artikelnya panjang sekali dan menarik....thx
ReplyDeletePecinta alam, pecinta lingkungan saat nya berbuat nyata dalam pelestarian hutan, tenaga dan pikiran dicurahkan untuk lingkungan tanpa melupakan kesejahteraan keluarga kita sendiri
ReplyDelete