Januar Arifin

Gede - Pangrango "Puas-puasin Sebelum Puasa di TNGP"

Posted by Januar arifin on Sunday, 7 August 2011


Tidak pernah bosan saya untuk ke gunung yang satu ini. Selain letaknya yang dekat dengan Ibukota, gunung ini juga memiliki keindahan yang luar biasa. Padahal saat itu saya baru saja pulang dari Expedisi 3s di Jawa tengah, namun ajakan teman-teman dari KOMPAK tidak bisa saya tolak. Sebenarnya kondisi fisik belum pulih, namun kebersamaan bersama teman-teman membuat saya kembali bersemangat. Singkat cerita, hari selasa 26 juli 2011 saya bersama teman-teman packing di rumah saya. Semua team berjumlah 7 orang, yaitu Januar (saya), Putro, Dede, Steven, Imam, Pitax, dan Aline. Malam itu semua berkumpul di rumah saya dan membagi tugas untuk packing barang-barang yang diperlukan.
Keesokan harinya, jam 15.30 kami berkumpul kembali di rumah saya untuk persiapan menuju Cibodas. Setelah berpamitan kepada orang tua saya, kami mulai berjalan menuju terminal Lebak Bulus dengan menggunakan angkot 08. Sore itu jalan raya nampak padat sekali. Dari Lebak Bulus kami langsung lanjut menumpang Koantas Bima 510 ke arah Terminal Kp. rambutan.

Tiba di Kampung Rambutan sekitar jam 18.30, kami semua santai-santai sejenak sambi mengisi perut dengan batagor. Tidak begitu lama kami menunggu datang lah bus dengan jurusan Cianjur. Setelah nego ala pendaki gunung, akhirnya disepakati bahwa satu orangnya Rp. 13.000. Canda riang khas anak-anak kompak selalu menyertai perjalanan di bus ini, hingga kami semua terlelap dalam kantuk. Sebuah insiden yang membuat kami panik sekaligus kaget pada saat di dalam bus ternyata bus yang kami tumpangi mengeluarkan asap sontak penumpang seisi bus berhamburan keluar.

Sekitar 30 menit bus diperbaiki, akhirnya kami kembali menaiki bus tersebut. Pada jam 22.13 kami tiba di pertigaan Cibodas. Tanpa basa-basi langsung nego angkot disana. Kemudian harga pun sesuai dengan penawaran, langsung kami naik dan menuju warung kencana yang merupakan langganan anak-anak Kompak.

Banyak sekali pendaki pada malam itu, karena memang bulan juli adalah waktu yang terbaik untuk mendaki gunung. Malam yang dingin dan bertaburan bintang pertanda bahwa malam ini cerah. Anak-anak semuanya mengisi perut dengan nasi goreng. Kemudian setelah makan mencoba untuk memejamkan mata sejenak karena memang kami berniat untuk memulai pendakian sekitar jam 03.00 pagi.

Tepat jam 3 pagi, kami semua beranjak dari warung tersebut. Berdoa dan mempersiapkan senter sebelum jalan. Pagi ini Angin terasa berhembus kencang sekali. Dingin dan sunyi malam itu. Tak lama berjalan kami sampai di Pos pemeriksaan dan melapor ke petugas yang berjaga pada pagi itu. Setelah melapor kami berjalan menyusuri jalan berbatu hingga Pos panyacangan sekitar jam 4.15. Di pos ini kami santai sejenak mengambil nafas, sambil bercanda gurau khas para pendaki. Setelah 30 menit kami beristirahat, kami mulai berjalan lagi. Perjalanan kali ini seperti biasa saya selalu menjadi sweeper dibelakang rombongan. Sekitar jam 8.30 pagi kami sampai di Pos Hotspring, di pos ini kami kembali beristirahat dan memasak untuk sarapan pagi.Seperti biasa juga saya mulai menjadi koki untuk masak nasi, dan teman-teman yang lain meracik lauk-pauk yang bertenaga untuk sarapan.

Di Pos Hotspring
Setelah satu jam kami beristirahat dan makan di Pos Hotspring, kami mulai berjalan kembali sekitar jam 10 pagi. Perjalanan kami menuju Pos Kandang Badak. Kami disuguhkan trek yang cukup menguras tenaga. Teman-teman yang baru pertama kali ke gunung ini mengalami sedikit masalah dengan pernafasan dan tenaganya.

Maju terus
Si Janu
Kami memutuskan untuk memperlambat pola berjalan menjadi agak sedikit santai untuk menunggu teman yang kurang fit dalam pendakian ini. Sekitar jam 12.00 siang kami tiba di Pos Kandang Badak. Kami beristirahat kembali untuk mengisi tenaga. Kami semua berembuk untuk mengambil keputusan dalam mendirikan tenda. Dua opsi untuk hari ini, mau mendirikan tenda di pos ini atau mendirikan tenda di Lembah Mndalawangi Pangrango. Keril yang kami bawa rata-rata tinggi dan besar menjadi pertimbangan untuk mendirikan tenda di Kandang Badak.

Kami memutuskan bermalam di Pos Kandang Badak dan berniat untuk menggapai Puncak Pangrango esok subuh. Semua anggota berkerja mendirikan tenda dan mempersiapkan alat masak-memasak. Saya dan kawan-kawan pun terlelap hingga malam tiba. Saya terbangun sekitar jam 10..00 malam, saya langsung keluar tenda dan membakar spritus untuk membuat kopi. Dingin sekali malam itu. Memang pendakian dimusim kemarau sangat dingin jika malam tiba. Dua orang pendaki lain mendekati saya dan meminjam kompor untuk membuat kopi. Kami semua berkenalan dan bercanda gurau untuk mengusir suhu yang dingin.

Jam 03.00 telah tiba, saya membangunkan seluruh teman-teman saya. Kami semua bersiap menuju puncak Pangrango. Membawa air dan makanan seperlunya agar tidak terasa berat dalam pendakian nanti. Kami semua berdoa dan memohon perlindungan dari Allah SWT. Kemudian dengan perlahan kami mulai berjalan. Trek awal masih terasa landai dan menurun. Kemudian sekitar 30 menit berjalan trek mulai menanjak dengan beberapa rintangan berupa pepohonan yang tumbang.

Beberapa teman saya merasa keram dan sakit perut. Saya yang berada dibelakang rombongan menjaga satu-satunya wanita dirombongan kami, ia merasa tidak kuat. Namun, setelah saya motivasi dan saya bujuk akhirnya ia mau untuk melanjutkan pendakian ini. Sementara teman-teman saya sudah dipuncak, saya masih berada dipertengahan untuk menemani teman yang satu itu. Sekitar jam 7.30 pagi akhirnya saya mencapai Puncak Pangrango (3019mdpl).

Nampak Gunung Gede
Si Janu
Kompak di Puncak Pangrango
Di Puncak Pangrango kami merasa terhipnotis oleh keindahan pagi itu, cerah sekali pagi ini. Segelah kopi dan beberapa batang rokok menjadi sebuah menu khas jika di Puncak Gunung.

Setelah puas kami menikmati Puncak Pangrango, jam 9.30 kami mulai turun dan menuju Pos kandang badak untuk kembali menuju tenda kami. Kurang lebih jam 11.00 kami tiba di tenda kami, acara masak-memasak dimulai kembali. Mengisi perut yang kosong sedari malam. Di sinilah awal perbincangan yang konyol mulai keluar. Bahwa kita akan mendaki Gunung Gede dan Nge-camp di Suryakencana untuk semalam lagi, padahal simaksi ijin mengharuskan kami untuk turun hari ini juga.

Setelah makan bersama, kami membereskan seluruh tenda dan mulai packing kembali. Tanpa pikir panjang kami berjalan menuju Puncak Gunung Gede, dua orang diantara kami sempat berdebat masalah ini karena memiliki masalah fisik yang sudah lelah. Dengan motivasi dari teman-teman lain akhirnya dia optimis melanjutkan pendakian.

Dari percabangan Puncak Gede dan Puncak Pangrango kami melihat sudah jam 01.30 siang. Kami berjalan perlahan-lahan. Untungnya cuaca siang ini begitu cerah tidak nampak mendung sedikitpun. Saya seperti biasa berada di paling akhir rombongan menjaga seorang wanita satu-satunya di rombongan kami. Ia terlihat sangat lelah dan mulai putus asa. Saya tak pernah berhenti untuk memotivasi dia dan mengajak ngombrol agar rasa lelah terlupakan.

Sekitar jam 15.30 kami tiba di Puncak Gunung Gede. Semua teman-teman berfoto ria di cuaca yang cerah ini.

Puncak Gunung Gede
Saya di tanjakan setan
Tidak lama kami berada di Puncak Gede, Sekitar jam 16.00 kami mulai turun menuju Alun-alun Suryakencana. Perjalanan menurun dibebatuan terjal sangat terasa karena hari mulai nampak gelap. Hari mulai gelap namun kami belum tiba di Alun-alun Suryakencana. Kami mengeluarkan senter untuk pencahayaan perjalanan ini.

Sekitar jam 18.30 kami tiba di Alun-alun suryakencana. Saya berlari ke depan dan mencari lapak untuk 3 tenda yang kami bawa. Setelah saya menemukan lapak yang tepat, saya kembali ke atas dan memanggil teman-teman saya. Teman-teman mendirikan tenda, sementara saya mengambil air di bawah bersama saudara Imam. Saya membawa 2 derigen untuk air, di bawah terasa sangat dingin malam itu, angin pun berhembus sangat kencang. Tak terkira ternyata air di bawah kering, namun masih ada beberapa sumber air bersih di tempat ini. Setelah mengambil air kami kembali ke tenda yang sudah jadi didirikan oleh teman-teman. Mulai masak-memasak lagi mengisi perut yang kosong. Setelah itu kami semua terlelap dalam dinginnya malam.

Saya terbangun jam 12.00 malam oleh suasana yang dingin sekali. Malam yang cerah tanpa hujan, namun suhu yang terasa sangat menusuk tulang. Untuk menghangatkan badan saya membuat kopi jahe. Beberapa teman terbangun, dan kembali kami ngopi-ngopi bersama untuk mengusir rasa dingin. Hingga pagi tiba saya tidak bisa melanjutkan tidur karena suasana dingin membuat kami semua harus beraktifitas agar tidak mengigil dan hipotermia.

Jam 06.30 saya keluar tenda berniat untuk mencuci nesting dan gelas. Namun, ternayata di seluruh rerumputan Alun-alun suryakencana dipenuhi oleh butiran-butiran es. Pantas saja dingin malam tadi. Kami yang berniat untuk mencuci nesting dan gelas menurungkan niat karena air terasa sangat dingin sekali.

Di Alun-alun Suryakencana
Akhirnya kami mencuci nesting dan gelas menggunakan tisu basah. Acara sarapan kembali dilakukan untuk mengisi perut yang kosong agar tidak masuk angin karena udara yang sangat dingin. Sekitar jam 09.00 pagi kami packing dan membereskan tenda, tak lupa sampah selama kami mendaki dikumpulkan. Kami memutuskan berjalan jam 10.00. Kami turun melalui desa Gunung Putri Cipanas. Perjalanan turun terasa sangat cepat, Kami semua berlari untuk menuruni gunung ini.

Setelah 4 jam menuruni trek yang terjal dan licin ini, kami tiba di pos pemeriksaan. Kami bingung untuk menghadapi pos pemeriksaan, karena kami di gunung melebihi batas waktu yang ditentukan. Dengan beralasan bahwa salah seorang teman kami sakit, akhirnya kami beranikan untuk melapor. Kami semua dimarahi oleh beberapa ranger di pos pemeriksaan. Dan akhirnya kami didenda seharga uang masuk. Sebenernya bagi kami tidak masalah akan hal ini karena memang dari awal kami ingin berlama-lama di gunung yang sangat terkenal ini.

Setelah melapor kami menuju warung yang biasa untuk mengisi perut. Makan dengan menu yang mantap membuat kami kembali bersemangat. Sekitar jam 17.00 kami meninggalkan desa Gunung Putri dengan naik sebuah angkot menuju Cipanas. Di Cipanas tak seberapa lama kami mendapatkan bus jurusan Kp. Rambutan. Setelah nego akhirnya kami naik, Tidur lelap di bus, pas bangun tiba di Kp. Rambutan.  

Dari terminal Kp. rambutan kami lanjut menuju terminal Lebak Bulus dan dengan menggunakan angkot kecil, akhirnya kami semua tiba di Rumah saya dengan kondisi sehat wal afiat tanpa kekurangan sedikit pun. Alhamdulillah !!! Salam Lestari...


Satu lagi salam dari saya 
Save Edelweiss...!!!





Tambahkan Komentar

3 comments:

  1. kisah pendakian yg bagus, nih ......

    ReplyDelete
  2. wah sama gan....., q jg hobby muncak.... alam ini memang begitu indah.....

    ReplyDelete