Baru saja saya pulang ke rumah dari kosan di Bandung, dan sampai di rumah sekitar pukul 21.00. Tak lama kemudian sorang teman SMA datang bertamu. Ia mengutarakan keinginannya untuk mendaki gunung yang sudah lama ia tinggalkan. Kurang lebih 2 tahun setelah lulus SMA Ia sudah tidak pernah mendaki lagi. Kebetulan seminggu kedepan Ia mendapat giliran cuti dari kerjaannya. Saya pun merasa luang waktu dan menerima ajakan teman saya tersebut.
Keesokan harinya kami mulai berbelanja logistik dan mengumpulkan perlatan pendakian. Seharian penuh kami mengumpulkan peralatan yang memang saat itu terpencar di beberapa teman lain. Kemudian malam harinya kami packing hingga tengah malam di rumah saya.
Jumat, 6 April 2012
Pagi hari saya terbangun oleh suara orang tua yang membangunkan saya karena teman saya telah datang ke rumah. Saya langsung mandi dan sarapan seadanya saja. Saya dan teman saya berangkat pukul 08.00. Kami Berangkat menuju Terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan. Setengah jam kami menunggu, bus yang kami tunggu datang (Bus Luragung). Ketika bus datang, langsung di serbu oleh penumpang yang telah menunggu. Banyak sekali yang ingin berangkat ke Kuningan, maklum ini adalah libur akhir pekan yang panjang. Kami tak mendapatkan tempat duduk, terpaksa kami berdiri di tengah-tengah bangku penumpang. Sesaat kami duduk di bawah untuk memejamkan mata. Sekitar 4 jam berdiri dan duduk di tengah-tengah bangku penumpang, bus pun berhenti di daerah Kertasemaya Indramayu. Sejenak kami keluar bus dan membuka bungkus nasi yang telah kami bawa dari rumah.
Tak lama bus pun kembali meneruskan perjalanan. Kami turun di daerah Ciperna Cirebon pukul 16.00. Turun di depan gerbang tol dan menunggu mobil elf dari arah Cirebon menuju Ciamis. Datang mobil elf, tanpa basa basi kami langsung naik. Dengan seharga Rp.4000 kami sampai di depan jalan menuju Linggarjati Kuningan. Saya kaget ternyata harga elf Rp.4000, padahal setahun lalu saya bayar Rp.20.000. "wah ternyata dulu saya tertipu rupanya", Gerutu dalam hati.
Di sana kami langsung menuju warung untuk melengkapi logistik yang belum lengkap. Setelah berbelanja kami naik ojek menuju Desa Linggasana. Saya naik ojek karena jika jalan kaki lumayan jauh dan membuang tenaga (pengalaman tahun lalu). Kami memilih jalur pendakian Desa Linggasana karena pengalaman tahun lalu saya melewati jalur Desa Linggasana ini.
Kami tiba di Basecamp Pendakian (100mdpl) pukul 15.30. Sesaat kemudian hujan deras pun turun. Kami beristirahat di Pos dan memesan makanan untuk mengganjal perut. Hingga magrib tiba hujan pun belum berhenti.
Pukul 20.00 hujan mulai reda, saya mengisi derigen dan botol-botol kosong dengan air. Karena selama pendakian Gunung Ciremei tidak ada air kecuali saat hujan turun. Kami kemudian berpamitan kepada penjaga Basecamp dan mulai berjalalan menyusuri jalan desa. Kami mulai memasuki jalur pendakian yang gelap dan sunyi. Berjalan 15 menit kami melewati Bumi Perkemahan Jawangsa (500mdpl), minum sejenak dan kembali berjalan di trek yang lumayan licin sehabis hujan ini. Setelah itu kami sampai di mata air yang terbuat dari palaron buatan warga, tempat tersebut merupakan sumber air terakhir yang bernama Kikuwu (700mdpl). Saya mengisi kembali botol yang sudah terminum di perjalanan tadi.
Kemudian kami mulai berjalan lagi, tanjakan-tanjakan mulai terasa berat. Saya sempat bingung karena jalur selanjutnya benar-benar tertutup oleh alang-alang tinggi. Sudah tidak terlihat jalur pendakian malam itu. Namun berbekal pendakian tahun lalu, saya tetap berjalan dan yakin bahwa jalur yang kami lalui ini benar. Menerabas ilalang yangg basah membuat celana dan baju kami basah semua. Salahnya kami tak membawa golok saat itu untuk menebas ilalang yang tinggi menutup jalur pendakian. Vegetasi dari ilalang, pohon pisang dan pepohonan cemara berganti dengan hutan bambu. Teman saya terlihat agak kaget dengan suasana hutan bambu yang mencekam dan seram. Namun, kami menikmati perjalanan ini jadi tidak ada rasa ketakutan yang berlebihan.
Pukul 22.06, kami tiba di Pos Kondang Amis. Kami duduk di dalam shelter dan beristirahat sejenak. Di pos ini sudah berdiri beberapa tenda pendaki lain. Kami berdua akhirnya memilih untuk membua tenda sejenak di pos ini, dan berniat untuk melanjutkan perjalanan dini hari pukul 03.00. Malam itu kami tidur nyenyak sekali hingga alarm pukul 03.00 pun tidak terdengar, dan kesiangan bangun jadi pukul 06.00. Kami berdua mungkin terlalu lelah karena seharian kemarin berdiri di bus dari Jakarta sampai Cirebon.
Saya membuat kopi pagi ini untuk menambah semangat pagi. Kemudian mencari air lagi untuk mengisi ulang air yang telah terpakai untuk menyeduh kopi. Saya menemukan air di cerukan aliran air di jalur arah Linggasana dan melipir ke kanan sedikit. Kini air terisi penuh kembali, air sangat berharga di gunung Ciremei ini.
Pukul 06.30 kami packing kembali dan pukul 07.00 kami melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan kurang lebih 2 jam kami tiba di Pos Kuburan Kuda (1600mdpl). Di jalur ini tanjakan-tanjakan melelahkan mulai terasa sekali di kaki. Menuju pos Kuburan kuda banyak sekali buah rambutan hutan yang berserakan di jalur pendakian. Kami berjalan sangat berirama sesekali berhenti untuk minum dan beristirahat. Selanjutnya kami berjalan menuju Pos Pangalap (1800mdpl). Tanjakan semakin curam dan melelahkan akhirnya kami tiba di Pos Pangalap (1800mdpl). Di pos ini kami beristirahat dan membuka beberapa roti untuk sarapan, karena kami memang belum makan sama sekali.
Segelas susu hangat dan beberapa lembar roti tawar mengganjal perut kami. Sekitar 15 menit kami beristirahat kami lanjut kembali berjalan. Tanjakan-tanjakan tiada henti menanti kami. Kurang lebih 45 menit kami sampai di Tanjakan Bin-bin (1900mdpl). Selepas Tanjakan Bin-bin kami melintasi tanjakan-tanjakan yang melelahkan bahkan terkadang kami melewati tanjakan yang terputus sehingga kami haru berpegangan pada akar-akar pohon. Sampailah kami di Tanjakan Seruni (2000mdpl). Jarak antara Tanjakan Bin-bin menuju Tanjakan Seruni lumayan jauh dan menanjak, sehingga sangat menguras tenaga.
![]() |
| Di Pos Pangalap |
Dari Tanjakan Seruni trek selanjutnya semakin menanjak dan menguras tenaga. Trek yang habis diguyur hujan semakin menambah berat langkah kami. Sekitar satu jam setengah saya berkutat dengan tanjakan dan trek yang panjang kami tiba di sebuah tanah lapang dekat Tanjakan Bapatere (2200mdpl). Di tempat inilah tahun lalu saya mendirikan tenda. Kami beristirahat disini. Saya menawarkan opsi kepada teman saya untuk mendirikan tenda di tempat ini atau lanjut menuju Pos Sanggabuana atau Pos Pangasinan. Ternyata kami sepakat mendirikan tenda di tempat ini. Karena Pendaki saat itu sedang banyak, kemungkinan di pos-pos selanjutnya penuh dengan tenda orang lain. Serta tempat ini merupakan tempat strategis menurut saya, karena jika turun kembali menuju desa tidak terlalu memakan waktu yang banyak.
Terlihat waktu menunjukan pukul 13.00 di tempat ini. Tenda pun sudah berdiri. Kami kelelahan dan terlelap tidur hingga pukul 19.00. Kami tidur sangat puas sekali. Ternyata sudah berdiri beberapa tenda orang lain di samping kami malam itu.
Kemudian kami mulai memasak untuk mengisi perut, karena kami sadar perut kami sangat kosong saat itu. Menu malam ini adalah Spageti. Setelah makan kami mulai berbincang. Malam ini terasa tak begitu dingin, kami menghabiskan waktu untuk mengobrol. Kami sudah tidak pernah mendaki bareng semenjak 2 tahun lalu, jadi kami banyak bercerita dan mengobrol malam itu.
Pukul 01.00 dini hari kami mulai mempersiapkan summit attack. Saya membawa keril berisikan air, roti, kompor serta minuman seduh untuk pesta di puncak sana. Kami berjalan di kegelapan malam yang sunyi ditemani sinar bulan purnama saat itu. Tanjakan Bapatere (2200mdpl) yang terjal dengan cara mendaki akar-akar pohon terlewati malam ini dengan sempurna. Satu setengah jam lebih kami berjalan melewati satu dua tenda pendaki di sisi jalur pendakian, kami tiba di Pos Batu Lingga (2400mdpl). Ternyata di pos ini sangat sepi tidak ada satu tenda pun disini. Kami duduk sejenak di pos ini, saya duduk di batu yang konon dikeramatkan itu. Suasana sedikit mencekam, mengingat tahun lalu saya melihat hal yang aneh di pos ini.
Sekitar 10 menit kami beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Sampailah kami di Pos Sanggabuana Bawah (2550mdpl). Di pos ini ada beberapa tenda yang berdiri. Mereka tenda dari anak-anak Jakarta yang bertemu di Pos Kondang Amis kemarin malam. Kami langsung berjalan lagi dengan trek yang terus-menerus menanjak semakin curam. Kemudian kami sampai di Pos Sanggabuana Atas (2670mdpl). Di pos ini kami bertemu dengan rombongan dari Bekasi yang berjumlah 4 orang. Saya berkenalan dengan mereka. (sebut saja Budi dkk). Kebetulan mereka juga ingin menuju ke puncak saat itu. Kami summit bertambah menjadi 6 orang. Waktu menunjukan pukul 04.30, terdengar sayup-sayup suara adzan subuh. Saya berhenti sejenak sambil beristirahat.
Kemudian kami lanjut lagi hingga sampai di Pangasinan (2860mdpl) pukul 04.50 pagi. Kami berhenti sejenak di pos ini, terlihat beberapa tenda telah berdiri di pos ini. Langit sudah mulai kebiruan, cahaya bulan purnama pun mulai memudar. Kami melanjut kan menuju puncak gunung Ciremei. Perjalanan semakin berat saja meniti jalur mendaki berbatu yang curam. Setelah berjuang 45 menit kami sampai di Puncak Gunung Ciremei (3078mdpl). Alhamdulillah kami berucap syukur. Khususnya syukur sekali bagi saya bisa ke tempat ini lagi, tahun lalu di tempat ini kondisi saya sedang buruk cuaca pun kurang baik. Tapi saat ini saya Alhamdulillah diberikan kesempatan kembali yang luar biasa oleh Allah untuk menikmati keindahan alam-Nya.
Kami Sedikit terdiam menyaksikan matahari terbit (sunrise) pagi itu. Subhanallah ciptaan Allah sangat luar biasa. Kami kemudian berfoto untuk mengabadikan keindahan alam ini. Karena hanya foto lah yang kami boleh ambil dari alam, jangan pernah mengambil apapun kecuali foto atau kenangan. Setelah puas berfoto saatnya summit party. Membuka cemilan-cemilan biskuit dan memasak air untuk kopi. Di puncak juga telah sampai rombongan dari UPI Bandung. Mereka mendaki dengan jumlah yang lumayan banyak.
Pukul 08.30 kami mulai turun dari puncak, karena menurut pengalaman saya diatas Pukul 09.00 kabut mulai turun. Dan benar saja kabut mulai turun saat itu. Kami turun bersama dengan rombongan Bekasi tadi. Kami terus berjalan menuruni jalur-jalur yang curam hingga sampai di Pos Sanggabuana Atas. Di sini merupakan tempat camp anak Bekasi (Budi dkk). Kemudian saya langsung turun lagi ke bawah menuju Pos Bapatere dan berpamitan kepada Budi dkk. Kami berniat bertemu kembali di bawah nanti.
Satu jam setengah dari puncak menuju tempat camp kami di daerah bawah Tanjakan Bapatere. Sesampainya di tempat camp kami bergegas membereskan tenda dan memasak makanan. Menu pagi ini masih sama yaitu spageti.
Sambil menunggu Budi dkk datang, kami makan dan berberes. Namun, hingga Pukul 11.00 Budi dkk belum juga terlihat. Akhirnya kami memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan berharap akan bertemu di Pos Kondang Amis.
Turunan-turunan terjal yang licin setelah diguyur hujan membuat kami terpeleset dan terjatuh beberapa kali. Sesekali bertemu pendaki yang naik, kebanyakan pendaki yang naik berasal dari Cirebon. Tanjakan Seruni kami istirahat sejenak dan minum air. Kemudian lanjut lagi hingga Tanjakan Bin-bin. Kami berjalan terus hingga Pos Pangalap. Di pos ini hujan besar mulai turun, cuaca sepertinya memburuk. Kami memakai Ponco untuk melindungi dari dinginnya air hujan. Kami berjalan terus sampai sesekali terjatuh karena licin. Terkadang tangan kami terluka akibat duri-duri pepohonan di pingir trek karena kami selalu berpegangan pada pohon dan menyusuri turunan-turunan licin.
Pos Kuburan Kuda telah terlewati, kami terus berjalan. Pukul 14.20 kami tiba di Pos Kondang Amis. Kami hampir saja di gigit anjing disana. Ternyata anjing-anjing itu milik dari pencari burung yang sedang meneduh di shelter Kondang Amis. Untung pemilik anjing langsung sigap memanggil anjing-anjingnya. Di shelter ini kami berteduh memasak air panas untuk membuat susu. Pencari burung itu pun bergabung dengan kami untuk menghangatkan badan sore itu.
Hujan masih tak kunjung berhenti. Kami merasa kantuk yang begitu berat di shelter ini. Satu persatu pendaki dari UPI Bandung turun. Mereka turun melalui Desa Linggarjati. Tak lama berselang Budi dkk pun datang dan bergabung untuk membuat makanan minuman hangat setelah kehujanan.
Pukul 16.00 kami berpisah dengan yang lain. Mereka semua turun melalui Desa Linggarjati sementara saya melalui Desa Linggasana. Suasana hening kembali karena kami hanya berdua saja. Melewati jalur hutan bambu dan alang-alang yang menutup jalur pendakian. Di pikiran saya sempat terbesit rasa takut yang berlebih. Bukan dengan hewan atau takut tersesat, tapi takut akan orang-orang yang berniat jahat menodong kita. Sebab kami tak membawa golok atau pun senjata lainnya, hanya pisau lipat yang kecil.
Kami tiba di jalur yang tertutup seperti yang kemarin malam kami lewati. Rasa khawatir dalam hati masih belum hilang. Tapi keyakinan saya melebihi segalanya. Kami melewati sebuah shelter kayu di kanan jalan yang terlihat menyeramkan. Kami terus berjalan mengingat sudah tidak punya air lagi. Sekitar 45 menit berjalan kami tiba di persimpangan jalan, untuk mengambil Desa Linggasana kita terus saja lurus jangan ambil kiri, karena itu menuju perkebunan kopi warga. Sebenarnya saya menemukan arah petunjuk dari Taman Nasional di spot ini, namun sudah terjatuh ada di tanah. Saya tidak mengerti mengapa petunjuk jalan ini dirusak, padahal ini sangat berguna bagi pendaki yang pertama kali ke Gunung Ciremei ini.
Kemudian ada lagi persimpangan di depan. Kedua jalur ini sama saja akan tembus di Mata Air Cikukuwu. Saya saat itu mengambil kanan, namun tertutup jalurnya dan lebih terjal. Teman saya tidak yakin akan jalurnya, padahal saya yakin. Akhirnya kami melipir ke kiri melewati tanah gambut yang lunak hingga bertemu jalan setapak lagi.
Ternyata ke dua jalur tersebut sama, bedanya jika lurus akan tembus dari belakang bangunan Kikuwu, kalau kanan akan tembus persis di samping mata air palaron warga.
Kami tak mengambil air di Kikuwu, langsung menuju desa. Trek menuju desa sangatlah licin jika turun, sebab terlihat tanah bercampur lumut. Bumi perkemahan Jawangsa terlewati kami tetap berjalan hingga keluar batas hutan dan bertemu warga yang sedang berbincang disana.
Tercatat Pukul 17.10 kami tiba di Desa Linggasana, dan Sampai Basecamp pukul 17.25. Alhamdulillah Kami berdua selamat sampai di desa. Langsung pesan makanan karena perut sudah berontak minta diisi.
Setelah makan kami membersihkan diri dan packing ulang. Tragedi sendal gunung yang baru saya beli sebelum berangkat ternyata hilang, terpaksa saya membeli lagi sendal jepit.
Pukul 20.00 kami berpamitan dengan penjaga Basecamp, dan diantar Bapak penjaga Basecamp sampai pertigaan Linggarjati. Di pertigaan ini uang saya sudah menipis, saya mencari ATM dahulu. Kemudian kami menunggu bus yang menuju Cirebon. Bus 3/4 jurusan Cirebon datang, kami langsung naik. Sampai terminal Cirebon kami menunggu bus jurusan Jakarta. Namun sudah tidak ada, kami disarankan oleh calo untuk menunggu bus Jawa Tengah yang transit. Namun, ternyata bus yang ditunggu penuh semua. Ini imbas dari long weekend jadi semua transportasi penuh semua.
Kami sudah lelah dan ngantuk saat itu, terutama teman saya sudah tertidur di emperan toko. Akhirnya saya membangunkan teman saya dan berjalan ke luar terminal. Ternyata ada bus Setia Negara jurusan Jakarta. Setelah tawar menawar ala pendaki, akhirnya kami naik. Tecatat bus pukul 02.00 meninggalkan kota Cirebon. Saya terlelap tidur dan terbangun pukul 05.30 sudah sampai di daerah Cikampek.
Pukul 07.00 sampai di terminal Kp. Rambutan, lanjut naik Koantas Bima 509 jurusan terminal Lebak Bulus. Kemudian angkot 08 jurusan Pd. Betung Bintaro. Akhirnya pukul 09.18 sampai di rumah tercinta.
Thanks To;
- Allah S.W.T,
- Teman Duet Kali ini ( Muhammaad Nur Prabowo ),
- Orang Tua yang selalu mendoakan dari rumah,
- Sdr. Iwan atas tenda yang hangatnya,
- Budi Dkk ( Dari Bekasi ) atas cemilan-cemilan di puncaknya,
- Teman-teman KOMPAK yang tidak bisa ikut,
- Serta teman-teman lain yang mendukung seluruh kegiatan saya.
Transportasi;
- Angkot 08 ( Pd. Betung - Lebak Bulus ) = Rp. 5000
- Bus Luragung ( Jakarta - Cirebon ) = Rp. 45.000
- Elf ( Cirebon - Pertigaan Linggarjati ) = Rp. 5000
- Ojek ke Basecamp Pendakian = Rp. 10.000
Biaya Total Perjalanan = Rp. 65.000 X 2 = Rp. 130.000
Kumpulan Foto-foto;
Kumpulan Foto-foto;





Friday, 13 April 2012















nice jan, tanjakan-tanjakan yang ga akan bisa gue lupain itu, sayang waktu gue kesana ga sunrise, kabut, triangulasi jam 1an.. but so far gue puas dengan tanjakan seruni dan bapa tere, puas puas puas. haha
ReplyDeletetulisan pangrango mana nih?
Iya wen Tanjakannya bikin ketagihan, dengkul ketemu jidat. hehehe
DeleteLain kali bisa wen kita ksana lagi pas sunrise :D
Tulisan Pangrango lagi dalam proses wen. .
thanks
ReplyDeletethank you :D
ReplyDeleteYour comment contains the same thing, and too much. I have deleted some.
wahh ini pas gw balik ke jakarta lo brangkat ke cermai ya .. curang .. akakakakaka
ReplyDeletelu lama re datengnya. . hahah bowo udah kebelet banget pengen jalan, yaudah lu gw tinggal.
Deletemantap abis bro....
ReplyDeletethanks ya bro... atas sukarelanya mnjdi Gaet gw... hahaa...
kapan" kita bersama mndaki jan... (putro/baso,arivin dwi/pare,bowo,januar)...
*-*"Salam Rimba"^_^
mantaap woo. semangaat oke nanti kita jalan bareng lagi.
Delete