Kali ini kami dari KOMPAK berkesempatan menapaki indahnya Gunung Rinjani. Kami bertujuh meretas asa melakukan perjalanan panjang dari Jakarta menuju Lombok. Kami bertujuh antara lain, Januar (saya), Putro (baso), Dede (Jadul), Steven, Bobby, Wenty, dan Uci. Tulisan ini juga merupakan copy-paste dari blog teman seperjalanan yaitu Wenty (maklum sedang kurang bersemangat untuk menulis :D). Berikut cerita perjalanannya.
| Pagi hari nampak gagah Gunung Rinjani |
Gunung Rinjani memiliki ketinggian 3726 mdpl yang terletak di Kabupaten Lombok Barat, Tengah dan Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional sejak tahun 1977. Ada beberapa jalur pendakian untuk mencapai Puncak Rinjani, yaitu Sembalun Lawang, Senaru Lawang, dan Jalur Torean, sebenarnya ada satu jalur lagi yaitu punggungan di sebelah timur, namun sangat tidak direkomendasikan, karena membutuhkan keahlian panjat tebing khusus.
Rinjani dalam definisi kedaerahan berarti ‘tinggi’, sebuah legenda menceritakan Datu Tawun dan Ratu Dewi Mas yang berpisah tahunan karena sebuah kesalah pahaman. Singkat cerita bertemulah Datu dengan anaknya Dewi Anjani, dan mereka memutuskan untuk bermeditasi di Pegunungan Lombok untuk mencari jalan hidup, kemudian dipanggillah Dewi Anjani oleh jin wanita untuk dijadikan pemimpin mereka di Gunung tersebut, dan jadilah hingga kini nama itu diabadikan menjadi nama gunung.
Sembalun Lawang, Senin 3 September 2012
Pagi itu kami memulai pendakian dari titik awal yang dikenal dengan nama Bawa Nao, dari sana kita akan dihadapkan pada jalur pendakian yang masih landai, jalan setapak, dan sejumlah ilalang. Sejauh mata memandang ‘bukit teletubies’, kemudian jalur menjadi menantang ketikan teriknya sinar matahari dikombinasikan dengan angin dan debu. Sejumlah jembatan terlewati, dan tidak ada habisnya Gunung Rinjani menjulang tinggi di hadapan terlihat bersih tanpa kabut. Waktu normal 2 jam 30 menit kami habiskan dengan canda dan tawa, akhirnya tiba di Pos I atau Pos Pemantauan.
![]() |
| Pos I |
Padang sabana yang terhampar luas ini menjadi ‘surga’ bagi sapi-sapi di Lombok, wajar saja kalau 1 keluarga minimal memiliki 30 ekor sapi, dan terbukti, selama berada di Sembalun, kami sering sekali berhadapan dengan segerombolan ‘sapi-sapi liar bermajikan’. Dan ternyata ‘surga’, yang di depan mata itu tidak landai, jalurnya cukup naik turun, yang menjadikan jalur ini cukup sulit adalah panas dan debu. Waktu normal yang dibutuhkan untuk sampai Pos II atau Pos Trengengean adalah 60 menit.
![]() |
| Pos II |
Di Pos II ini terdapat sumber air, berupa sungai temporer yang kering ketika musim kemarau. Berada di kiri jalur pendakian, atau tepatnya dibawah jembatan. Ketika kami tiba disana airnya sedikit sekali, kotor dan tidak layak dikonsumsi. Akhirnya saya dan teman memutuskan untuk mengikuti sumber lainnya, yaitu bergerak sekitar 10 menit ke kiri jalur pendakian setelah jembatan. Meskipun sumber air berikutnya ini sedikit namun lebih layak dikonsumsi, dibandingkan yang sebelumnya. Di pos ini juga harus berhati-hati dengan makanan dan barang lainnya yang menarik perhatian, karena banyak monyet berkeliaran, berani, nakal dan ‘maling’.
Perjalanan selanjutnya masih sama, melewati sabana berbukit, naik turun tanpa henti, debu dan panas menjadi teman setia, yang mau tidak mau harus dijalani. Dibutuhkan waktu 90 menit untuk sampai di Pos III. Dari pos ini jalur pendakian sebenarnya dimulai, bukit-bukit penyesalan sudah dihadapan, sangat direkomendasikan untuk makan siang di Pos III, atau kalaupun kondisi tubuh sudah tidak kuat bisa mendirikan tenda disini. Karena jalur menuju Plawangan Sembalun adalah naik turun bukit.
![]() |
| Pos III |
Diperjalanan antara Pos III dan Plawangan Sembalun terdapat 2 Pos Extra, dan sebelum Pos Ekstra I kita akan melewati aliran sungai mati, sangat serupa dengan Kalimati yang ada di Gunung Semeru. Menuju Pos Extra II jalur mulai menanjak dan penuh tipuan, dari satu bukit turun-naik ke bukit lainnya. Namun, setelah menikmati jalur pendakian yang ekstra tenaga ini kita akan berjumpa pada pelataran cukup luas, dan Pemandangan Segara Anak lengkap dengan Gunung Barujari.
Normalnya menghabiskan waktu 4 jam, namun pada kesempatan ini kami tiba pada malam hari, sehingga perjalanan untuk menuju puncak ditunda, kami pun memilih untuk menambah 1 hari lagi bermalam di Plawangan Sembalun. Seharian saya menikmati perpindahan waktu yang ada, saat fajar menyingsing, ketika cerah dan teriknya siang hari, serta kembalinya sang surya ke ufuk barat, hingga romantisnya taburan bintang di malam hari. Namun hati-hati, disini jumlah monyetnya yang paling banyak dari seluruh tempat di Rinjani, ini seakan menjadi ‘rumah’ bagi mereka.
| Penghuni Plawangan Sembalun |
![]() |
| Plawangan Sembalun |
![]() |
| Segara anak dari Plawangan Sembalun |
| Sore Plawangan Sembalun |
Summit Attack, 5 September 2012 …
Kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah setinggi 3726 mdpl harus diperjuangkan sejak dini hari, dari Plawangan Sembalun kami berangkat menuju puncak jam 00.30 WITA. Jalur yang dilalui adalah tanjakan berdebu, dengan elevasi yang cukup curam. Untuk mencapai punggungan gunung, membutuhkan sekitar 1 jam. Setelah sampai di persimpangan, maka ikuti jalur pendakian ke kiri.
Jalan kecil setapak berpasir dan berkerikil menjadi ‘santapan’ selama 5 jam pendakian menuju puncak. Naik turun bukit terasa seperti tidak ada habisnya, terutama di tanjakan terakhir mendekati titik triangulasi, ada Puncak Semu. Jalur ini mirip dengan trek pasir di Gunung Semeru meskipun ini cukup lebih mudah. Sesampainya di Puncak Rinjani, terdapat Kawah Mati di sisi kiri dan Danau Segara Anak di sisi kanan, serta pemandangan Gunung Agung dikejauhan.
![]() |
| Trek berpasir dengan elevasi yang sangat curam |
Kami menghabiskan waktu lama untuk menikmati pemandangan, berfoto-foto, atau bercanda tawa di Puncak, hingga panas cahaya matahari mulai menusuk kepala, baru kami memutuskan untuk turun. Tripod yang dibawa untuk mengabadikan terbitnya sang surya akhirnya bermanfaat untuk foto bersama, karena kami menjadi rombongan yang terakhir meninggalkan puncak. Seperti tidak ingin cepat meninggalkan titik triangulasi yang sulit ditempuh.
| Kompak Adventure |
| Ini Indonesia Bung!!! Indah bukan?? |
Perjalanan turun tidak dapat juga dikategorikan mudah, jalur yang kini jelas terlihat terasa jauh, panas, dan berdebu. Namun keseluruhannya tetap terasa indah luar biasa, di Kiri Segara Anak, dan di kanan Desa Sembalun serta pemandangan bukit penyesalannya. Karena pendakian ini dilakukan dengan sangat santai, kami bahkan memutuskan untuk turun ke Segara Anak keesokan harinya. Sehingga total kami menghabiskan 3 malam di Plawangan Sembalun, saya sendiri sudah berkali-kali ke Sumber Air di Plawangan Sembalun, airnya dingin dan menyegarkan.
Segara Anak dan Gunung Barujari, 6-7 September 2012 …
Menuju ke Segara Anak ternyata bukan prihal mudah, turunan berbatu ini memiliki elevasi mendekati 90 derajat, kami beruntung karena saat itu sedang kabut, sehingga jalur tidak begitu berdebu. Waktu tempuh santai itu kami habiskan 3 jam 30 menit, untuk dapat berteriak girang di Area Tenda Segara Anak. Sesampainya disana, saya mencoba untuk memancing dan berjalan menuju Kolam Air Panas.
Selama di Segara Anak kami mendapatkan tambahan logistik dari para pendaki lainnya, bahkan mendapatkan ikan gratis dari ‘tetangga’ tenda. Selama di danau saya menghabiskan waktu menikmati pemandangan, berbincang dengan Suku Sasak yang kebetulan sedang mengadakan upacara keagamaan, dan tidak lupa berfoto ria di setiap jengkal kawasan indah itu. Saya mulai membandingkan danau ini dengan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru. Speechless, keduanya bukanlah untuk dibandingkan, masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Tempat-tempat yang selalu mampu membuat kita bersemangat untuk datang kembali.
![]() |
| bukti otentik |
Sebenarnya saya masih sangat ingin menambah hari untuk menikmati dinginnya Segara Anak dan Romantisnya taburan bintang dikegelapan langit malam. Dan suatu hari saya berharap dapat besama orang-orang saya cintai, menikmati ciptaan-Nya, disini, di negeri ini, Bumi Pertiwi. Amin.
Sayonara Segara Anak, 7 September 2012 … Selamat Datang di Plawangan Senaru.
Kami akhirnya memutuskan bergerak meninggalkan begitu banyak kenangan di Segara Anak, menuju Plawangan Senaru. Sepertinya sudah menjadi ciri khas Trek Gunung Rinjani, naik turun bukit, sama halnya dengan perjalanan menuju Plawangan Senaru. Pertama kita menyusuri Pinggiran Danau Segara Anak, lalu ambil tren ke kanan naik bukit berbatu, terjal dan berdebu. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai di Plawangan Senaru.
Disana kami menikmati cahaya matahari yang bergerak turun ke ufuk barat, berdapingan dengan siluet Gunung Agung di Kejauhan. Selama di Plawangan Senaru kami tidak banyak berkaktivitas, selain dingin, kami sudah hampir seminggu di kawasan ini. Malam hari kami bahkan menikmati makan malam di dalam tenda, sambil mendengarkan lantunan musik bersama, hingga masing-masing memutuskan beristirahat demi perjalanan turun esok harinya.
Menuju Senaru Lawang, 8 September 2012
Perjalan turun dari Plawangan Senaru menuju Pos III menghabiskan waktu 1 jam, jalan sangat berdebu dan sangat disarankan menggunakan masker. Sesampainya di Pos III akan ada 2 bangunan terbuka, yang kemungkinan sangat nyaman untuk membangun tenda di Pos ini. 10 menit kemudian perjalanan masuk ke pintu hutan, kini jalur tidak lagi Sabana seperti jalur sembalun, ini hutan tropis yang cukup rapat, dan jalurnya sangat jelas sekali. untuk sampai ke setiap posnya hanya butuh 1 jam dengan berlari.
Dijalur senaru ada titik air di Pos II, berjalan kira-kira 10 menit, dan ada petunjuk jalannya. Saya tidak kesana, karena kurangnya air dan sangat lapar, jadi memutuskan untuk terus berlari, akhirnya sumber makanan di depan mata, Senaru Lawang ada warung, pemiliknya adalah Pak Ridwan yang sudah 15 tahun menjalankan kegiatannya, selain berjualan, kebun disekitar adalah miliknya. Saya yang haus dan lapar, mengahabiskan banyak jualannya, ketika semua sudah berkumpul, kami bersama turun menuju Basecamp, yang ternyata masih 1 jam perjalanan.
Setelah tiba di Basecamp Senaru, kami semua membersihkan diri dan siap menempuh perjalanan panjang berikutnya, overland Lombok – Bali – Jakarta. Kami beruntung karena mendapatkan mobil sewaan dengan Pak Supir yang sangat baik, selain dibawa bekeliling menikmati sunrise di sepanjang bibir pantai di Lombok, kami juga berkesempatan makan di tengah kota Lombok, Plecing Kangkung, yang berhasil membuat metabolisme tubuh saya terguncang seketika setelah melahap makanan itu, bahkan baru 1 suap.
Kemudian Sekitar jam 22.00 WITA kami tiba di Pelabuhan Lembar Lombok. Disana kami sempat beristirahat sejenak dan bersih-bersih di toilet pelabuhan. Jam 23.00 kami mulai menaiki kapal ferry menuju pulau Bali. Malam itu gelombang terasa sangat tidak bersahabat. Kami terombang-ambing dalam kegelapan malam di tengah laut. Kami semua memilih untuk memejamkan mata ini dari pada mual terus.
Pagi hari jam 06.00 kami tiba di pulau Bali tepatnya di pelabuhan Padang Bai. Di sana sempat bertemu beberapa pendaki yang ingin menuju Lombok. Pagi itu kami sarapan dengan Gado-gado di depan pelabuhan.
![]() | ||
| Hajar terus gado-gado, lapar sihh :D |
Banyuwangi, kami harus menunggu 2 hari di kota ini sebab tiket kereta kami tertera tanggal pada hari berikutnya. Di kota ini kami habiskan waktu dengan berjalan-jalan dan beristirahat. Singkat cerita tibalah hari dimana kami meninggalkan Banyuwangi dengan kereta Sri Tanjung menuju Jogjakarta.
Pagi itu jam 07.00 kereta bertolak dari Banyuwangi menuju Jogjakarta. Sekitar 8 jam perjalanan kami tiba di Jogjakarta. Di sana kami menginap di rumah seorang teman yaitu Eky. Di rumah beliau kami beristirahat dengan nyaman. Pagi harinya kami masih sempat berjalan-jalan menuju Parangtritis dan Pantai Depok. Makan seafood jadwalnya. Hingga sore hari kami balik ke Jogja untuk berangkat menuju Jakarta dengan Kereta api Progo.
Sekitar 8 jam perjalanan jam 03.00 kami tiba di stasiun Pasar Senen Jakarta. Kami langsung dijemput teman kami yang terlebih dahulu pulang dari Rinjani yaitu Bobby. Pagi hari kami semua sudah tiba di rumah masing-masing. Alhamdulillah tanpa kekurangan apapun kami semua selamat.
Thanks to :
- Allah S.W.T
- Teman-teman seperjalanan KOMPAK Team (Baso, Jadoel, Epen, Uci, Bobby dan Wenty)
- Teman Seperjalanan dari Lampung (Kiki dan Agung)
- Orang Tua yang selalu mendoakan di rumah
- Eky dan Kawannya yang menyambut di Jogja dengan sangat istimewa
- Bang Ramond yang ketemu di Segara Anak, terima kasih atas cerita-cerita yg penuh arti
- Pak Hasri sebagai driver kami di Lombok
- Kaskus OANC sebagai sumber informasi kami ke Rinjani
- Serta pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu
- Terima Kasih ku juga untuk Mu Rinjani yang Menyambutku dengan LUAR BIASA!!!
Catatan:
- Jakarta – Surabaya: KA Kertajaya (15.30 – 06.30) : Rp 43.500
- Surabaya – Banyuwangi: KA Sri Tanjung (15.30 – 06.30): Rp 19.500
- Ketapang – Gilimanuk: Kapal Ferry (30 menit): Rp. 6000
- Terminal – Padang Bay: Bus: (5 jam): Rp. 30.000
- Padang Bay – Lembar: Kapal Ferry (4 jam): Rp 36.000
- Lembar – Mandalika: Mobil (1.5 jam): Rp. 10.000
- Mandalika – Aikmal: Mobil (2 jam): Rp. 15.000
- Aikmal – Sembalun: Mobil (3 jam): Rp. 20.000
- Kendaraan Sewa untuk Sembalun – Senaru: Pak Hasri (081997995414)
Foto-foto banyak sekali kami dapatkan tetapi kami kumpulkan beberapa foto menjadi satu dalam video ini :
Terima kasih Wenty tulisan ini berasal dari blog beliau dengan penambahan sedikit dari saya. Salam Lestari, Sampai jumpa di Pendakian Berikutnya :D





Wednesday, 10 October 2012













Saya selalu bermimpi ke gunung ini. kapan ya bisa kesini :(
ReplyDeleteinsya allah secepatnya om
DeleteNangis gulung-gulung pengen kesana (T__T)
ReplyDeleteayao kesana lagi, saya juga pengen ksana lagi kalo ada kesempatan.
DeleteWah itu foto sepatu yang di atas, sepatu custom Bandung ya ? :D
ReplyDeletesebagian iya :p haha
Deleteterima kasih artikelnya, mengingatkan pendakian saya 18 tahun yang lalu, terbiasa dengan tantangan Mendaki Gunung (alam) memberikan efek pada mental kita hingga kini (dalam kehidupan dunia nyata)
ReplyDeleteSelamat beraktivitas, Salam Lestari
terima kasih juga sudah menyimak. salam lestari
DeleteKunjungan Balik
ReplyDeleteterima kasih
Deleteadem banget ya gan ... keren tuh waktu di puncaknya...
ReplyDeleteiya gan keren, tapi sekarang udah rada beda..
DeleteSetiap baca artikel disini bagaimana gt,keren banget infonya
ReplyDeleteterima kasih gan :)
DeleteDulu udah ada rencana mau Ke sana , tapi karena kebentur dana Akhirnya cuman bisa daki gunung Merapi Padang :(
ReplyDeleteyah kami juga terbatas dana sob. tapi kami kan ambil jalur darat dari Jakarta. udah gitu juga kita saling back-up pendanaan sesama teman. jd bisa deh
DeletePemandangannya sangat luar biasa tapi medannya berat untuk ditempuh ya.
ReplyDeletemedan berat kalo untuk pemula, trek lebih panjang dan di beberapa tempat kemiringannya lumayan menguras tenaga.
DeleteSubhanallah, Indahnya... Jadi Kepingin ikut Mendaki bersama Mas Januar
ReplyDeleteblog'nya masih di kelola nggak to? heheh
ReplyDeleteterima kasih banyak bang informaisnya
ReplyDelete