Januar Arifin

Pendakian Gunung Semeru & Telusur Pulau Sempu

Posted by Januar arifin on Monday, 22 July 2013

Kompak Adventure Team di Puncak Mahameru
Pencetus awal pendakian ini adalah salah seorang anak KOMPAK yaitu Dede Jadoel. Bak gayung bersambut yang lain latah ikut-ikutan ingin berangkat juga. Saya yang mendengar kabar tersebut dari Bandung, langsung melipir pulang untuk memastikan akan kebenaran rencana tersebut. Setelah memastikan tanggal dan siapa saja yang ikut, kami mulai mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan. Waktu kami sangat mepet sekali, sekitar 2 minggu sebelum keberangkatan. Sehingga kami agak sedikit bingung dengan barang-barang yang belum terkumpul.
"Saya bisa menolak ajakan lain apapun itu, tapi tidak untuk ajakan mendaki gunung". (Januar)
Singkat cerita, sambil mengumpulkan barang, saya harus kembali ke Bandung untuk menyelesaikan masalah kampus. Sementara Dede mengurus masalah tiket kereta api di Jakarta. Ternyata kali ini terkumpul 8 pendaki galau yang ikut dalam pendakian ini. Diantara lain, Saya, Putro/Baso, Dede/Jadoel, Bowo, Boby, Pitak, Steven, dan Uci. Steven berangkat dari Semarang bersama satu orang lagi dari Lampung. Jadi total 9 orang yang akan mendaki Gunung Semeru nanti.  

Oke, Simak kisah lengkapnya berikut ini :

Senin, 17 Juni 2013 

Seperti biasa, semua barang sudah terpacking rapih di rumah saya. Hari ini kami berniat berangkat Pukul 09.00. Akan tetapi, seperti biasa, anak-anak selalu saja telat datang. Akhirnya Pukul 10.00 barulah kami berangkat menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Setelah saya berpamitan pada orang tua, kami mulai langkah pertama kami dengan membaca Basmallah. Dari rumah saya di kawasan Pondok Aren, kami naik angkot 05 jurusan Kebayoran Lama. Dengan rencana akan naik Patas dari daerah Cipulir. 
Tak disangka di daerah Cipulir macet parah membuat sebagian dari kami panik. Hampir satu jam kami di angkot. Bus Patas pun tak nampak oleh mata. Akhirnya kami teruskan naik angkot sampai Kebayoran Lama. Setelah sampai di daerah Kebayoran Lama, akhirnya kami putuskan untuk naik taksi  (baru kali ini, naik gunung pakai taksi). 
Di Stasiun Senen
Akhirnya Pukul 12.30 kami tiba di Stasiun Pasar Senen. Kereta kami berangkat Pukul 13.30, lumayan masih ada waktu satu jam untuk mengisi perut. Pukul 13.30 K.A Matarmaja siap berangkat, kami turut menjadi penumpang di dalamnya. Kegiatan dalam kereta hanya itu-itu saja, tidur, makan, dan jalan-jalan ke gerbong lain. Singkatnya kami tiba di Stasiun Malang Kota Baru keesokan harinya. 

Selasa, 18 Juni 2013

Pukul 09.00 kami tiba di Stasiun Malang Kota Baru. Kami langsung mencari makanan di depan stasiun. Hari ini kami berniat membeli tiket K.A untuk pulang nanti. Sialnya tiket K.A Matarmaja sudah habis 2 minggu kedepan. Akhirnya dengan terpaksa kami merogoh kocek lebih dalam untuk menebus tiket K.A Majapahit. 

Perjalanan kami lanjutkan dengan mencarter sebuah angkot menuju Tumpang. Sekitar 2 jam perjalanan tibalah kami di Tumpang dan bertemu 2 orang yang berangkat dari Semarang yaitu Steven dan Eva. Di Tumpang kami singgah di rumah Pak Laman, tempat yang tahun lalu saya singgahi juga. Di rumah Pak Laman, kami semua merasa lelah akhirnya kami memutuskan untuk istirahat satu malam disana.

Kediaman Pak Laman
 
Rabu, 19 Juni 2013
 
Kami terbangun pagi-pagi dan secara bergantian ke kamar mandi. Sementara sarapan sudah tersedia di meja makan, disediakan oleh Bu Laman. Selesai mandi tanpa aba-aba kami langsung mengambil sarapan yang sudah tersedia. Rencana awal kami berangkat lebih pagi, namun apa daya, mungkin kami kelelahan semenjak perjalanan kemarin.

Pukul 08.00 kami berangkat menuju Ranu Pani dengan truk milik Pak Laman. Sepanjang perjalanan menuju Ranu Pani kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Di tengah perjalanan truk sempat terhenti karena ada jalur tanah yang sulit dilewati truk. Terhitung ada 2 truk yang terjebak. Para supir dan kenek truk saling membantu membenarkan jalan hingga dapat dilewati lagi. 

Naik truk
Pukul 11.00 kami tiba di desa Ranu Pani (2200mdpl). Kami langsung laporan ke kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan. Selesai melapor kami mengambil air untuk perbekalan selama mendaki. 

Pukul 11.30 kami berdoa terlebih dahulu untuk memohon perlindungan dari Allah S.W.T. Saya saat itu menjadi leader memulai langkah kaki pertama dengan penuh keyakinan. Trek pertama adalah jalan beraspal menurun sekitar 200 M. Lalu berbelok ke kanan memasuki trek yang berganti tanah. Kami terus berjalan dengan pasti, kini jalur landai dengan sedikit menanjak. Pos I (2300mdpl), disana kami berhenti sejenak sambil menghela nafas yang sudah mulai terasa habis. Sekitar 15 menit kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan hingga menjumpai Pos II (2335mdpl). Di Pos II pun kami berhenti sekitar 5 menit. 


Tahun lalu jembatan ini agak rusak, namun sekarang sudah baik lagi
Trek dari awal memang landai, akan tetapi jarak yang jauh dan berkelok-kelok mengikuti punggungan bukit membuat kaki malas untuk melangkah. Sekitar 5 KM dari titik awal kami menjumpai tebing yang berdiri kokoh yang disebut Watu Rejeng. Kemudian kami tiba di Pos III (2423mdpl). Kondisi shelter di pos ini masih seperti setahun kemarin waktu saya kesini. Shelternya masih ambruk belum diperbaiki. Di Pos III, kami beristirahat lagi sejenak untuk mempersiapkan nafas menghadapi tanjakan yang akan dilalui setelah ini. 

Tanjakan Pos III
Kami lanjut berjalan lagi menaiki sebuah tanjakan yang berdebu dan lumayan curam. Tanjakan yang tidaklah jauh, namun lumayan menguras tenaga. Selepas tanjakan tersebut, trek mulai datar dan menurun. Kemudian di kejauhan nampak sebuah cekungan yang berair, itulah Ranu Kumbolo. Kami semua semakin bersemangat saja untuk terus melangkahkan kaki, hingga akhirnya sampai di Pos 4 (2443mdpl). Pos ini berada persis diatas Danau Ranu Kumbolo.

"Wahai Ranu Kumbolo, aku kembali lagi untuk menepati janjiku. Diantara nafas yang memburu dan awan yang membiru, masih nampak Kebesaranmu" (Januar di Ranukumbolo)

Mahameru dibalik Gunung Kepolo
Ranu Kumbolo sudah nampak disana
Pukul 15.00 akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo (2400mdpl). Kami berembuk untuk memutuskan bahwa malam ini kami akan mendirikan tenda disini. Kelompok kami bagi 2 tim. Ada yang mendirikan tenda dan ada yang mempersiapkan makan malam. Sebelum magrib tenda sudah berdiri. Langit pun berubah menjadi mendung dan turun rintik hujan.

Tiba di Ranu Kumbolo
Kami semua masuk tenda dan langsung menyantap makanan yang sudah matang. Hujan diluar sepertinya makin deras. Namun, pukul 19.00 hujan sudah berhenti. Kami keluar tenda, mengelar matras dan tentunya masak air panas untuk menyeduh kopi sebagai penghangat. Tak lama kemudian, bintang mulai bermunculan dan bulan keluar dari peraduannya. Kami ingat bahwa sekarang adalah bulan purnama. Indah sekali malam itu. Langit bertabur bintang, bulan memendarkan cahaya yang terang, sehingga tidak memerlukan senter lagi. Subhanallah, sungguh besar mahakarya Mu. "Awas Ranu Kumbolo airnya pasang" itulah candaan dari Bowo, membuat kami semua tertawa terbahak-bahak. 

Pukul 22.00 dingin makin menusuk tulang. Malam itu tercatat sekitar 6° celcius di Ranu Kumbolo. Akhirnya kami semua masuk tenda dan tertidur dengan lelap berselimut kabut Ranu Kumbolo.

Kamis, 20 Juni 2013

Kami terbangun pagi-pagi sekali berharap dapat melihat sunrise. Namun, cuaca agak sedikit berkabut. Pagi ini terasa dingin sekali sekitar 5°C. Rasa-rasanya kami malas untuk keluar dari Sleeping Bag. Matahari mulai naik ke atas padahal masih Pukul 06.30 tetapi matahari sudah lumayan tinggi. Bukan anak Kompak namanya, kalau tidak konyol tingkah lakunya. Pagi hari dingin masih menyelimuti, orang lain masih memakai perlengkapan hangat tetapi kami malah sebaliknya yaitu berenang di Ranu Kumbolo. 


Baru bangun
Ranu Kumbolo pagi hari
Berenang di Ranu Kumbolo *Jangan ditiru yah, bahaya hipotermia*
Nanjak Tanjakan Cinta
 Pukul 09.30 setelah sarapan dan packing kembali barang, kami meninggalkan Ranu Kumbolo menuju Kalimati. Trek Pertama kami menghadapi Tanjakan Cinta. Dalam mendaki tanjakan ini, beberapa dari kami mencoba mitos tanjakan cinta tersebut. Setelah berlelah-lelah mendaki tanjakan cinta, kami beristirahat diatas punggungannya. Kemudian perjalanan kami lanjutkan, di depan kami tersaji pemandangan yang begitu indah yaitu Blok Oro-oro ombo dengan Lavendernya yang sedang berwarna Ungu. Trek pendakian menurun terjal, lalu datar di tengah-tengah semak Lavender. 

Foto dari ujung Tanjakan Cinta
Turun menuju Oro-oro Ombo
Oro-oro Ombo
Lavender
Kemudian kami tiba di batas vegetasi, dari padang savana menjadi hutan cemara. Tempat itu dinamakan Cemoro Kandang (2500mdpl). Di sana kami berhenti untuk sekedar berfoto, beristirahat dan berteduh dari teriknya sang mentari. 





di Cemoro Kandang
Kemudian Trek kembali agak menanjak, walau tidak menanjak tajam tapi sangat menguras tenaga. Tanjakan di Cemoro Kandang perlahan namun pasti, landai tapi berisi.  Sesekali langkah terhenti karena semakin melemahnya fisik kami. Setelah beberapa lama melipir dan melewati punggungan Gunung Kelopo, akhirnya pukul 13.20 kami tiba di Blok Jambangan (3200mdpl). Dari Blok Jambangan menuju Kalimati trek kembali menurun. Sekitar setengah jam menurun akhirnya kami tiba di Kalimati (2700mdpl).  

Disana kami tidak mendirikan tenda. Ada ruangan kosong di pos yang bisa dijadikan tempat berlindung dari cuaca dingin. Tim terbagi 2 kembali, ada yang masak dan ada yang mengambil air di mata air Sumbermani. Jarak mata air Sumbermani sekitar 1 jam bolak-balik ke arah barat. Saya bertugas mengambil air di mata air Sumbermani. 

Kalimati sore itu
Menuju mata air Sumber mani
Di mata air Sumber Mani
Setelah masakan sudah matang, kami semua melahap habis untuk mengisi tenaga kembali. Kemudian kami tidur sejenak untuk menghilangkan rasa lelah dari perjalanan tadi. Kami berniat akan melakukan Summit Attack pada pukul 23.30.

Pukul 23.30 cuaca berkabut disertai gerimis. Kami semua keluar dan melakukan pemanasan. Kemudian kami berdoa memohon perlindungan selama pendakian menuju Puncak Mahameru. Saya sebagai leader memulai langkah pertama menuju puncak. Trek menurun ke arah timur ujung Kalimati, kemudian berbelok ke selatan. Trek kini mulai menanjak terjal, kami terus merangsek naik dengan penuh tekad. Namun, apa daya hujan semakin besar saat kami hampir memasuki daerah Arcopodo. Alam sepertinya sedang tidak bersahabat. Hujan terus mengguyur kami sepanjang perjalanan. Akhirnya di Arcopodo kami berembuk dan memutuskan untuk turun kembali menuju Camp kami di Kalimati. 

Keputusan ini kami ambil mengingat, pertama cuaca yang buruk. Bukan hanya hujan tetapi angin juga bertiup sangat kencang. Kedua, baju kami basah, sehingga suhu tubuh menurun drastis membuat kemungkinan hipotermia semakin besar. Ketiga, trek dari Arcopodo - Puncak Mahameru sudah tidak ada lagi pepohonan, dipastikan angin yang bertiup semakin kencang (bahkan bisa jadi badai). Keempat, trek dari Arcopodo - Puncak Mahameru adalah trek terberat, sehingga membutuhkan kondisi fisik yang prima, sementara kami semua sudah kehujanan menggigil tidak prima lagi. 

Akhirnya kami turun, dan sebagian dari kelompok lain pun ikut turun bersama kami. Satu jam kami turun dengan diguyur hujan deras, akhirnya kami sampai di tempat camp kami di Kalimati. Kami langsung beristirahat dan terlelap tidur. Kami akan mencoba menggapai puncak lagi keesokan harinya. 
"Bukan berarti alam tidak bersahabat dengan kita, tetapi justru inilah kasih sayang alam kepada kita. Mereka akan memberi yang terbaik untuk kita di waktu yang terbaik juga. Saat ini memang bukan waktu yang terbaik, maka besok Insya Allah hari yang terbaik dan kita akan mencobanya kembali". (Januar di Lereng Arcopodo)

Jumat, 21 Juni 2013

Pagi hari yang cerah kami terbangun. Kegiatan hari ini hanya makan dan tidur saja di camp Kalimati. Kami juga menjemur pakaian yang basah semalam. Satu hari hanya diisi dengan obrolan dan candan khas anak-anak Kompak. 

Mahameru nampak cerah pagi itu
Makan besar. *jemuran berserakan disampingnya*
Singkat cerita, sore telah tiba. Kami mulai masak kembali untuk persiapan Summit Attack. Kali ini Summit Attack akan dimajukan menjadi pukul 23.00.

Pukul 22.30 kami semua bersiap dan keluar dari tempat camp. Kami melakukan pemanasan dan berdoa kembali untuk memohon perlindungan dari yang Maha Kuasa. Pukul 23.00 saya kembali menjadi leader memulai langkah dengan pasti. Cuaca kali ini sangat cerah bertabur bintang. Kami berjalan terus mendaki trek yang semakin terjal. Sekitar 2 jam berjalan kami tiba di Arcopodo. 

Kami melanjutkan perjalanan melewati batas vegetasi yang dikenal dengan nama Kelik, disana yang terlihat hanyalah hamparan pasir yang menjulang tinggi. Langkah kaki mulai terasa berat sebab pasir yang kita pijak selalu saja turun lagi, maju 1 langkah turun 2 langkah. Setiap langkah seakan sia-sia naik lalu turun kebawah lagi. Saya melangkah dengan teknik menancapkan ujung sepatu ke pasir, saya rasa teknik tersebut benar-benar ampuh untuk menjaga agar tidak terperosok ke bawah lagi.

Langkah kami mulai gontai, stamina terkuras habis. Setiap 10 langkah kami berjalan, kami duduk berhenti untuk sekedar menghela nafas. Kami tidak berhenti terlalu lama, sebab dingin terasa hingga menusuk tulang. Suhu kali ini berkisar 0-2°C. 

Sabtu, 22 Juni 2013

Kami terus berjuang melewati trek pasir yang seakan-akan tidak ada ujungnya ini. Akhirnya setelah 5 jam bertarung dengan trek pasir lereng Mahameru, kami tiba juga di Puncak Mahameru pada pukul 05.30. Suasana puncak saat itu masih sedikit pendaki. Dingin sekali saat berada diatas puncak. Kami semua terdiam melihat kebesaran alam disini. Matahari sudah tak malu-malu lagi terbit di ufuk timur. Lautan awan mengelilingi tempat kami berpijak. Subhanallah.

Sunrise
Matahari sudah mucul
Lautan awan
Seperti biasa, ritual diatas puncak gunung adalah mengabadikan momen-momen indah yang terjadi disana. Sebab jangan ambil apapun dari alam kecuali foto. Apalagi momen saat kawah Jonggring Saloka menegeluarkan letusan. Itu merupakan momen yang ditunggu-tunggu pendaki untuk berfoto. 

Kepulan asap letusan kawah Jonggring Saloka
Kompak Adventure Team
Janu Jalan Jalan *si Janu jadi item kelamaan di gunung*
Pukul 07.00 setelah puas berfoto dan menikmati keindahan, kami turun kembali menuju Kalimati. Jika kita turun dari puncak, perhatikan betul-betul titik dimana kita memasuki kawasan puncak, maka dari sana pula kita turun. Posisi jalur turun agak serong kiri sedikit, jangan mengambil terlalu kanan. Sebab kebanyakan orang yang tersesat di Semeru adalah pada waktu turun dari Puncak Mahameru. Dahulu saat Cemoro Tunggal masih berdiri bisa dijadikan patokan saat turun, namun saat ini Cemoro Tunggal sudah tumbang, jadi harap berhati-hati saat turun dari puncak Mahameru.

Turun melalui trek pasir membuat kami berlari-larian karena jatuh pun tidak akan sakit, kecuali jatuh ke jurang. Sekitar 2 jam kami turun akhirnya kami sampai di tempat camp kami di Kalimati. Kami langsung bergegas masak untuk sarapan dan packing barang-barang. Karena hari ini kami berencana akan jalan terus sampai desa Ranu Pani. 

Pukul 12.00 kami sudah siap-siap untuk meninggalkan Kalimati. Namun, hujan turun saat itu. Kami menunggu hingga hujan reda. Pukul 13.00 barulah kami meninggalkan Kalimati. Kami terus berjalan menanjak hingga Blok Jambangan dengan sesekali berhenti untuk menghela nafas. Kemudian trek menurun menuju Cemoro Kandang. Kali ini langkah kami cepat dan berirama. Karena mengejar waktu dan tiket kereta api yang telah dipesan.

Di Cemoro Kandang kami berhenti sejenak. Kemudian lanjut berjalan lagi menanjaki bukit diatas Oro-oro Ombo. Selepas bukit, kami tiba di atas Tanjakan Cinta. Kini trek menurun tajam hingga Ranu Kumbolo. Tercatat saat itu pukul 17.00. Kami berhenti sejenak di Ranu Kumbolo. Banyak pendaki yang camp di tempat ini. Ranu Kumbolo kini banyak sekali sampah yang berserakan disamping shelter. Miris melihatnya, apakah mereka yang dinamakan pecinta alam?? Selamat anda telah berhasil merusak tempat bermain kami.
"Bumi merupakan secuil keindahan dari surga, mengapa kita tidak lestarikan agar kita bisa menikmatinya terus-menerus"
Kami melanjutkan perjalanan, melipir diatas Ranu Kumbolo. Banyak berpapasan dengan pendaki yang baru datang. Mereka sepertinya banyak yang bermalam minggu di Ranu Kumbolo melihat mereka hanya membawa barang seadanya sekali.

Pukul 18.00 magrib kami tiba di Pos III. Kami berhenti sejenak di pos tersebut. Sebab kearifan lokal warga menyebutkan bahwa jika waktu magrib tiba sebaiknya berhenti sejenak. Sekitar setengah jam kami berhenti, kami melanjutkan perjalanan turun. Kami terus bergerak cepat dan berirama. Tak disangka tim terpecah 2. Saya menjadi tim depan dengan 4 kawan, sementara di belakang ada 4 kawan lainnya.

Saya terus berjalan tanpa henti dan berniat menunggu tim belakang di Pos 1. Daerah Waturejeng hingga Pos 1 saya merasa berputar-putar ditempat yang sama sebanyak 2 kali. Benar-benar melelahkan sekali. Serupa dengan saya, tim belakang pun merasakan hal yang saya. Wallahu a'alam, semua kejadian ini atas kehendak dan ijin-Nya.

Kami akhirnya bertemu kembali di Pos I dan beristirahat disana. Sekitar 15 menit kami beristirahat, kami lanjut turun melipir beberapa punggungan lagi. Hingga akhirnya kami tiba di Desa Ranu Pani pukul 22.00. Kami langsung menuju warung, karena perut sudah sangat lapar sekali. Kemudian Pukul 23.00 kami turun ke Tumpang dengan truk dan tiba di Tumpang pukul 01.00. Langsung menuju kediaman Pak Laman.

Pulau Sempu 

Trek berwana biru yang kita lalui

Minggu. 23 Juni 2013

Kami terbangun pagi hari. Sebagian dari kami pulang lebih dahulu. Bowo yang awalnya sudah memesan tiket lebih dahulu akan meninggalkan kami. Ternyata Boby pun memilih ikut dengan Bowo. Sementara Steven bersama Eva harus pulang menuju Semarang. Tinggallah Saya, Baso, Jadoel, Uci dan Pitak. Lima orang pejuang terakhir berdiri hingga paling akhir dari perjalanan ini.

Kami berlima berniat melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sempu. Pukul 13.00 berangkatlah kami dari kediaman Pak Laman menuju Pulau Sempu dengan menggunakan angkot carteran milik kerabat Pak Laman.

Pukul 16.00 kami tiba di Sendang Biru yang merupakan titik penyebrangan menuju Pulau Sempu. Kami segera melapor ke pihak Perhutani untuk mendapatkan ijin menginap di pulau. Ternyata bagi pengunjung yang pertama kali ke pulau ini diwajibkan memakai guide. Hal tersebut dikarenakan jalur di dalam pulau masih belum jelas dan banyaknya kejadian orang yang hilang di dalam pulau.
Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ini Sempu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata air payau.

Secara geografis, Pulau Sempu terletak di antara 112° 40′ 45″ - 112° 42′ 45″ bujur timur dan 8° 27′ 24″ - 8° 24′ 54″ lintang selatan. Pulau itu memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikepung Samudera Hindia di sisi Selatan, Timur dan Barat.

Pulau Sempu dapat ditempuh dari Malang melalui Pantai Sendang Biru, dan penyeberangan menggunakan perahu nelayan, serta mendapat perijinan. (wikipedia)
Karena kami datang terlalu sore, maka kami mengurungkan niatan untuk langsung jalan ke dalam pulau. Malam hari kami membakar ikan tuna yang dibeli oleh Uci dan Jadoel. Karena mereka sedang merayakan ulang tahun. Kami membakar ikan dengan peralatan dan alat seadanya yang penting bisa mengisi perut yang lapar. 

Malam ini kami beristirahat di sebuah warung yang berjajar di wilayah Tempat Pelelangan Ikan Sendang Biru. Tidur rasanya tidak nyenyak. Banyak nyamuk serta lalu lalang orang yang membuat kami waspada terhadap barang berharga yang kami bawa. Alhasil saya terjaga sepanjang malam. 

Senin, 24 Juni 2013

Pagi hari sudah terbangun, sebab kegiatan nelayan di pelelangan ikan sudah ramai sekali. Pak Suparman sebagai tour guide pun sudah hadir. Kami semua mempersiapkan barang-barang. Pukul 07.00 kami berangkat menuju Pulau Sempu dengan perahu nelayan. Luar biasa, air laut disini sangat biru dan jernih sekali. Beda dengan air laut di pelelangan ikan lainnya. Saya pun takjub sejenak akan keindahan daerah ini. 

Laut di Sendang Biru
Seperempat jam di perahu akhirnya kami sampai di Teluk Semut. Dari sinilah titik awal trekking kami menuju Segara Anakan. Sebenarnya dalam pulau ini ada 25 destinasi wisata yang indah dan masih jarang terjamah wisatawan. Namun, keterbatasan waktu dan bugdet hanya bisa membuat kami 2 hari di pulau ini. 

Menyebrang dengan perahu
Di Teluk Semut
Sebelum memasuki kawasan hutan bakau kami berdoa terlebih dahulu memohon agar dilindungi sepanjang perjalanan. Menurut Pak Suparman sebagai guide kami, perjalanan dapat di tempuh sekitar 3 jam, apalagi kami membawa keril dan ransel yang besar.

Perjalanan dimulai dengan trek yang becek dan landai. Melintasi hutan-hutan bakau, nampak diatas pohon monyet-monyet liar bergelantungan. Untung saja sudah seminggu tidak hujan, jadi trek tidak terlalu becek. Jika hujan turun trek berubah menjadi lumpur setinggi betis bahkan paha orang dewasa. Kami terus berjalan tanpa henti, keringat mengucur deras sekali. Maklum hawa laut panas sekali berbeda dengan gunung.

Sekitar 45 menit berjalan kami diajak Pak Suparman untuk menuju Pantai Baru-baru terlebih dahulu. Sebab disana ada sumber mata air payau untuk bekal minum kita di Segara Anakan. Luar biasa, kami takjub dengan keindahan pantai ini. Sepi dan masih sangat bersih sekali pantainya. Mudah-mudahan akan selamanya bersih sehingga saat kami kesini lagi masih bisa menikmati keindahannya.

Pantai Baru-baru
Jadoel sedang mengambil air payau
Setengah jam kami di Pantai Baru-baru akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Segara Anakan. Tak lama sekitar setengah jam kami akhirnya sampai di Segara Anakan. Luar biasa, tempat ini begitu eksotis bagi saya. Kami berhasil mencapai tempat ini dengan waktu 1 jam 45 menit. Padahal menurut Pak Suparman bisa 3 jam.

Di sana kami tidak langsung mendirikan tenda. Kami santai sejenak di bawah pohon rindang, berlindung dari sengatan terik matahari. Ternyata di Segara Anakan sudah banyak sekali sampah yang berserakan. Hari itu kami bersama rombongan dari Surabaya dan Semarang melakukan bersih-bersih di sisi pantai.

Pukul 11.00 kami mendirikan tenda. Setelah tenda semua berdiri kami langsung berenang di Laguna Segara Anakan sampai lupa untuk berfoto ria. Kami luapkan semua kelelahan hanyut terbawa arus air laut. Panas matahari membakar kulit tak kami hiraukan, yang kami tau hanya satu yaitu kami sedang menikmati anugrah yang telah Tuhan berikan.

Tak terasa kami berenang hingga pukul 14.00. Akhirnya kami kembali ke tenda dan acara masak-memasak pun dimulai. Menu sisa-sisa dari gunung kami olah, yang penting perut kami terisi oleh makanan.

Gubuk sederhana kami
Sore hari pukul 16.00 setelah makan, kami berjalan-jalan keliling laguna. Sore itu air di laguna sedang surut. Kami naik ke tebing yang berada di sisi selatan laguna. dari atas sini nampak hamparan luas Samudera Hindia yang membiru.

Laguna Segara Anakan
Diatas tebing
Gubuk sederhana terlihat dari atas tebing
Pemandangan dari atas tebing
Tak terasa hari mulai gelap. Kami mulai masak-masak untuk makan malam. Setelah makan malam kami semua duduk diluar dengan matras. Memandangi bintang yang bertaburan di angkasa. Air laut mulai pasang lagi. Saya memindahkan satu tenda karena letak tenda tersebut bakal kena gelombang air pasang.

Semilir angin laut membawa rasa kantuk yang berat. Apalagi kami belum tidur puas dari kemarin. Akhirnya kami lelap tertidur bersama angin laut dan deburan ombak yang menderu.

Selasa, 25 Juni 2013

Pukul 06.00 saya terbangun oleh alarm handphone. Kemudian saya membangunkan yang lain. Kami harus cepat bergegas meninggalkan pulau ini, sebab kami mengejar jadwal kereta yang telah dibeli. Pukul 06.30 kami sudah siap semua. Kami berjalan meninggalkan Segara Anakan dengan janji dalam hati bahwa kami akan berkunjung lagi nanti dilain kesempatan. Rasanya 2 hari belum cukup menikmati keeksotisan Pulau Sempu.

Kami berjalan pulang dengan tempo yang sangat cepat. Pak Suparman pun sebagai guide berjalan dengan lincah. Keril di pundak sudah tak kami rasakan beratnya, yang terpenting kami harus sampai Teluk Semut secepat mungkin. Alhamdulillah 45 menit berjalan kami sampai di Teluk Semut. Perahu nelayan yang kemarin mengantarkan kami pun datang tepat waktu. Tanpa basa-basi kami langsung naik perahu untuk menyebrang ke Sendang Biru.

Pukul 07.30 kami sudah di Tempat Pelelangan Ikan Sendang Biru. Kami langsung bersih-bersih di wc umum. Waktu kami hanya tinggal 30 menit untuk bersih-bersih, sebab pukul 08.00 kami harus meninggalkan Sendang Biru.

Kenang-kenangan dari Sendang Biru
Pukul 08.00 tepat kami meninggalkan Sendang Biru dengan menggunakan angkot carteran yang sedari kemarin sudah dipersiapkan oleh bapak pemilik warung yang kami singgahi. Angkot berjalan lumayan cepat, melewati jalan yang berliku. Pukul 09.30 kami sampai di daerah Turen. Disana kami harus tukar angkot, sebab angkot Sendang Biru tidak boleh memasuki kawasan Kota Malang. Dari Turen kami tidak membayar lagi, sebab sudah satu paket dengan angkot Sendang Biru tadi.

Akhirnya pukul 11.00 kami sampai di Stasiun Malang Kota Baru. Kami harus segera menukarkan tiket yang sebelumnya dibeli di Minimarket. Setelah menukarkan tiket, kami berjalan-jalan mencari makanan dan mencari warung nasi untuk bekal di kereta nanti. Makan pecel sama bakso menu hari ini. Saya menghabiskan 1 piring pecel dan 2 mangkuk bakso.

Makan pecel depan Stasiun Malang
Pukul 13.45 kami meninggalkan Kota Malang dengan K.A. Majapahit. Seperti biasa kegiatan dalam kereta hanya makan, tidur, dan jalan-jalan ke gerbong lain. Singkatnya kami tiba di Jakarta keesokan harinya.

Meninggalkan Kota Malang.. tuut ttuut naik kereta api
Rabu, 26 Juni 2013

Pukul 07.30 kami tiba di Stasiun Pasar Senen Jakarta. Kami langsung mencari sarapan, sebab perut sudah tidak bisa berkompromi lagi. Semangkuk bubur ayam sudah cukup mengganjal perut ini. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan dengan bus Patas jurusan Cileduk. Kemudian kami turun di daerah Cipulir dan langsung naik angkot 05 jurusan Ceger. Pukul 11.00 akhirnya kami tiba di rumah saya di daerah Pondok Aren. Alhamdulillah kami semua selamat tanpa kekurangan satupun. Terima Kasih. Salam Lestari!!! Sampai Jumpa di Pendakian Si Janu Berikutnya !!!!

Catatan :
  1. Perizinan Semeru memerlukan surat keterangan sehat dari dokter, sebaiknya persiapkan dari rumah agar tidak repot mengurusnya di Tumpang,
  2. Sebaiknya membawa logistik yang lebih sebab anda akan merasa betah menikmati keindahan Semeru,
  3. Jika menuju puncak sebaiknya membawa logistik agak sedikit lebih, karena daerah Kalimati-Arcopodo-Puncak merupakan daerah dengan dukungan survival yang minim,
  4. Jangan mengambil air di mata air Sumbermani Kalimati terlalu sore karena binatang-binatang biasanya berkumpul di sana sore hari, termasuk Macan Tutul dan Macan Kumbang. 
  5. Di mana kita memasuki kawasan puncak maka dari sana kita akan turun lagi. perhatikan dengan benar jangan sampai salah, jika salah fatal akibatnya bisa memasuki Semeru Death Zone (Blank 75),
  6. Bulan Juni-September merupakan bulan terbaik mendaki Semeru. 
  7. Jika berniat menuju Pulau Sempu, laporlah pada petugas agar dibimbing oleh guide yang paham seluk beluk pulau.
  8. Bawalah banyak air bersih pada saat masuk pulau untuk persedian selama di pulau.
  9. Mata air payau di pulau bersifat temporer, bawalah air yang lebih.
  10. Pesan dari diri pribadi saya : JAGALAH KEBERSIHAN DAN KELESTARIAN GUNUNG SEMERU MAUPUN PULAU SEMPU. BAWALAH KEMBALI SAMPAH YANG DIHASILKAN DARI KEGIATAN ANDA. KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI YANG MENJAGA ALAM INI. SALAM LESTARI !!!
Jarak Pendakian:
  • Ranu Pani - Watu Rejeng = 5km = 120 menit
  • Watu Rejeng - Ranu Kumbolo = 5km = 120 menit
  • Ranu Kumbolo - Kalimati = 5km = 180 menit
  • Kalimati - Arcopodo = 1,5km = 120 menit
  • Arcopodo - Puncak Mahameru = 1,5km = 4-6 jam
Thanks to:
  • Allah S.W.T,
  • Teman-teman seperjalanan ( Baso, Jadoel, Pitak, Uci, Bowo, Epen, Boby, dan Eva)
  • Pak Laman atas pinjaman motor dan tumpangan di rumahnya  (081334950454)
  • Saudara Pare yang sudah meminjamkan peralatannya,
  • Pak Suparman sebagai guide Pulau Sempu,
  • Bapak pemilik warung di Sendang Biru,
  • Bapak nelayan di Sendang Biru,
  • Terima kasih yang terakhir untuk Semeru dan Sempu atas sambutan-Mu yang begitu luar biasa. 
Para Artisnya nih :

Si Januar *keukeuh pemilik blog kudu pertama :p*
Dede Jadoel
Boby
Putro / Baso
Steven
Uci
Bowo / Kumendan Djenggo
Pitak / Ari
Eva









Tambahkan Komentar

58 comments:

  1. Hahaha mantap. Perjalanan udah direkam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tinggal video aja dul. bntar lagi nyari lagu2 yang pas ini..

      Delete
    2. keren gan travelingnya. kapan y bisa ikutan menikmati indahnya dunia alam di indonesia gak kalah dengan di luar negeri. kapan2x aen boleh ikutan gan. he3x slm dari www.aairwan.blogspot.com

      Delete
    3. boleh kok. kalo mau gabung silakan aja sama saya. kita menikmati indahnya alam. .

      Delete
  2. ditunggu video nya jan haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. siaap wen.. tunggu aja lagi ada masalah sama aplikasinya

      Delete
  3. kereeen, like banget deh. ditunggu perjalanan selanjutnya nyaaa~ :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih.. siap nanti akan berjalan-jalan lagi :D

      Delete
  4. Keren bener perjalanannya.....

    ReplyDelete
  5. nyimak banget ini dari Pluit :D

    ReplyDelete
  6. wah jadi rindu naik gunung nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah rupanya mantan pendaki gunung juga nih :D

      Delete
  7. ajip nh perjalannya.
    kapan2 saya join lah, mau belajar hiking nh.. hehehe...
    sukses untuk hiking selanjutnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap. nanti kalo ada rencana saya kabarin. terima kasih kang

      Delete
  8. Mantap sob ... salahsatu favourite ku nih kalau yg berbau gunung dan laut hhe

    ReplyDelete
  9. Mantap sobat. Rupanya menikmati sekali ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sob. saya emang selalu menikmati perjalanan saya.

      Delete
  10. Keren soB bisa bolang seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sobat. ya begitulah kehidupan saya, membolang mencari pengalaman :D

      Delete
  11. wah keren ...
    pengalaman mendaki dahulu aja jaman kuliah
    tapi dulu belum suka posting hehehe...

    sebenarnya artikel ini bisa dua kalo posting, lebih keren

    trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih.. iya pengennya 2 kali posting tapi gak seru kalo dipisah-pisah gitu sob.

      Delete
  12. seribu likeeeeeeeee...............

    ReplyDelete
  13. wow jalan2 nya jauh yah ?
    sip dah salam fauzanashariblog.blogspodotcom

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam blogger sob. terima asih sudah berkunjung

      Delete
  14. wahhh keren banget gan, aku aja anak tumpang lum pernah ke mahameru... hehe
    oh ya gan, gak ada dokumentasi bentuk video nya ?

    ReplyDelete
  15. duh jadi kangen smepu lagi,ngga foto dari puncak karang ya mas? yang area ngecampnya bisa kelihatan full dari atas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada kok fotonya. itu beberapa saya upload. sebagian gak saya upload :)

      Delete
  16. Mantebs sob selamat yah sudah sampai ke puncak semeru

    ReplyDelete
  17. wah, jalan jalan terus... :)

    ReplyDelete
  18. menerima anggota baru gk ni buat jalan-jalan ??, ;) agenda terdekat pasca 17an kemana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap kawan. silakan bergabung kami terbuka kok untuk siapa saja yg tertarik terhadap alam indonesia... agenda terdekat pasca 17an blm ada nih.

      Delete
  19. Pokoknya keren deh... cuman itu yg bisa sy ungkapkan.. hehe

    ReplyDelete
  20. Ane mao banget nih ngikut kapan2 Jan.. Apalagi pas 5cm booming kmaren.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow. hati2 gan jangan gara2 film dong kali mau naik. tapi udah memang kewajiban kita sebagai manusia untuk mencintai alam. Salam Januar Arifin

      Delete
  21. salam lestari gan.. indonesia emang indah ya alam nya :)

    ReplyDelete
  22. ane kurang setuju gan buat yang renang di kumbolo. sejatinya sekarang sudah dilarang untuk menjaga keasrian dari ranukumbolonya. mohon di advice lagi buat yang renang tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke terima kasih atas peringatannya. sejak dahulu sih emang beberapa dari kami sering renang disana. tapi bukankah yang lebih berbahaya kalau cuci alat masak dan mencuci muka dengan sabun.
      lain kali akan kami pikirkan lagi untuk berenang disana.

      Delete
  23. Kenapa gag coba lewat jalur ayak2 bang. Lbih menyingkat waktu. Tpi capek jg sih. . Nanjak mulu. Haahaa. .

    ReplyDelete
  24. Info dong bang kalo mw ksna. Siapa tau gw bsa join. Heehee

    ReplyDelete