Awal cerita pendakian kali ini digagas oleh Dede Jadoel waktu saya sedang pulang ke rumah di Pondok Aren. Kami rencanakan semuanya dengan matang seminggu sebelum pendakian. Saya harus segera kembali ke Bandung dan start dari kota tersebut karena peralatan pendakian ada di kosan.
Berbeda dengan gunung lain, mendaki Gunung Ciremei itu kita akan mendapat rintangan sejak awal kita melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah. Menurut pribadi saya.
Kamis, 19 Desember 2013
Sedari siang saya bersama Madhot mengantri tiket kereta api Ciremei Ekspres jurusan Cirebon hingga menjelang sore hari. Permasalahannya saya belum selesai Packing dan tiket kereta berangkat pukul 18.10. Saya berdua dengan Madhot langsung kembali menuju kosan menembus hujan deras agar kami bisa packing dan berangkat.
Pukul 17.45 baru selesai kami packing. Kami langsung berangkat menuju Stasiun Bandung. Hampir telat, untung saja kami diantar oleh kawan kosan yang berbaik hati. Pukul 18.05 kami tiba di Stasiun dan berlari langsung masuk ke dalam kereta. Nafas masih tersengal, tetapi Alhamdulillah kereta belum jalan. Tak lama kemudian pun kereta jalan meninggalkan Kota Bandung. Kali ini saya dari Bandung berdua dengan Madhot.
Dapat kabar dari rombongan Jakarta mereka yang beranggotakan Dede Jadoel, Imam, Harry "Ucup", dan Arie Pitax juga sudah meninggalkan Jakarta menuju Cirebon. Kami menuju Cirebon ke kediaman Putro "Baso". Salah seorang kawan di KOMPAK yang sudah pindah ke Cirebon.
Ini pertama kalinya saya mendaki Gunung Ciremei dengan 6 kawan saya. Biasanya mendaki gunung ini hanya berdua paling banyak atau biasa disebut duet maut.
Pukul 23.00 dengan dijemput oleh tuan rumah di Stasiun Kejaksan Cirebon dan langsung bertemu dengan rombongan dari Jakarta di rumahnya. Setelah makan malam, kami semua terlelap dalam dekapan hangatnya Kota Cirebon.
![]() |
| Kediaman Putro. Siap berangkat |
Jumat, 20 Desember 2013
Pagi hari kami semua terbangun dan bersiap berangkat menuju Linggarjati, Kuningan. Pukul 07.00 setelah berpamitan dengan Ibunda dari Putro, kami berangkat dengan angkot menuju daerah Ciperna. Kemudian dilanjut angkutan Elf. Angkutan tersebut setuju dengan ongkos Rp.8000 mengantarkan kami hingga Basecamp Pendakian Linggarjati.
Pukul 08.30 kami tiba di Basecamp Pendakian Jalur Linggarjati. Kami langsung registrasi dan melapor ke petugas yang sedang berjaga disana.
![]() |
| Lagi registrasi pendakian |
Pukul 09.30 dengan membaca doa sebelumnya, kami memulai perjalanan yang terhitung berat menanti di depan mata. Gunung Ciremei merupakan gunung dengan trek terlengkap dan jalurnya terjal ditambah tidak adanya air memang pantas gunung ini dikatakan berat. Saya biasa mendaki melalui Jalur Linggasana (desa sebelah Linggarjati). Jalurnya relatif sama dan bertemu di Pos Kondang Amis.
Trek pertama kami melewati jalanan beraspal sejauh -/+ 1 km. Kemudian jalan berubah beton dan mulai menanjak tajam hingga akhirnya kami tiba di daerah Cibunar (750mdpl). Tempat ini sangat ramai dengan para pendaki yang ingin mengadakan pendakian maupun remaja yang sekedar camping. juga terdapat sumber air yang cukup melimpah, yang tidak akan ditemui lagi sepanjang perjalanan sampai di puncak.
Sejenak kami mengambil persediaan air di Cibunar. Setelah mengambil air, kami lanjutkan perjalanan. Trek mulai menanjak melewati hutan pinus yang indah sekali. Kemudian kami melewati trek agak sedikit datar dan kami tiba di daerah Leuweung Datar (1250mdpl). Beberapa kali kami mulai merasakan kaki mulai panas dan nafas yang tersengal. Sesekali kami berhenti untuk sekedar menghirup nafas yang mulai habis.
![]() |
| Di Pos Kondang Amis *jelek yah banyak pendaki yg vandal corat-coret tembok :( |
Pukul 11.30 kami tiba di Pos Kondang Amis (1350mdpl). Pos Kondang Amis ini merupakan pos satu-satunya yang ada shelter untuk para pendaki beristirahat. Karena hari ini jumat, kami berhenti sejenak untuk menunggu lewatnya waktu sholat. Pukul 13.00 kami mulai melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan kurang lebih 2 jam kami tiba di Pos Kuburan Kuda (1600mdpl). Di jalur ini tanjakan-tanjakan melelahkan mulai terasa sekali di kaki.
![]() |
| Pos Kuburan Kuda |
Setelah Pos Kuburan Kuda kami melewati tanjakan yang semakin curam. Hingga akhirnya pukul 16.15 kami tiba di Pos Pangalap (1800mdpl). Di Pos ini kami beristirahat untuk memasak mie instan. Sebab sedari pagi kami hanya mengisi perut dengan gorengan saja. Sore ini terlihat langit mendung, dan kabut tebal mulai turun. Akhirnya kami putuskan untuk membuka tenda di pos ini. Pada awalnya kami ingin menjangkau dataran luas dekat tanjakan Bapatere. Namun, karena tempat tersebut masih jauh dan cuaca mulai rintik hujan akhirnya kami bermalam disini.
Setelah masak dan makan makan sore, kami mulai terlelap berselimut kabut dingin Pos Pangalap. Beberapa pendaki lain bergabung mendirikan tenda didekat kami. Menambah ramainya malam ini. Pukul 24.00, tengah malam saya terbangun dan membangunkan teman-teman untuk memasak makanan sebagai sarapan. Karena kami akan summit attack pukul 02.00. Memang masih jauh sekali jika start summit dari Pos Pangalap, tetapi apa boleh buat kami harus berjuang semampu kami.
![]() |
| Di Pangalap. Gubuk derita kami |
Sabtu, 21 Desember 2013
Pukul 01.30 kami mulai mengepak beberapa persiapan untuk summit. Misalnya air (penting), jas hujan, dan makanan ringan. Setelah semuanya siap, kami berdoa dan mulai melangkahkan kami menuju puncak.
Kali ini saya berada di barisan paling akhir dari rombongan. Kami terus merangsek jalan melewati trek yang terjal. Tanjakan-tanjakan tiada henti menanti kami. Kurang lebih 45 menit kami sampai di Tanjakan Bin-bin (1900mdpl). Selepas Tanjakan Bin-bin kami melintasi tanjakan-tanjakan yang melelahkan bahkan terkadang kami melewati tanjakan yang terputus sehingga kami harus berpegangan pada akar-akar pohon. Sampailah kami di Tanjakan Seruni (2000mdpl). Jarak antara Tanjakan Bin-bin menuju Tanjakan Seruni lumayan jauh dan menanjak, sehingga sangat menguras tenaga.
Dari Tanjakan Seruni trek selanjutnya semakin menanjak dan menguras tenaga. Trek yang habis diguyur hujan semakin menambah berat langkah kami. Sekitar satu jam setengah saya berkutat dengan tanjakan dan trek yang panjang kami tiba di sebuah tanah lapang dekat Tanjakan Bapatere (2200mdpl). Di tempat inilah saya selalu mendirikan tenda jika mendaki gunung ini.
Tanjakan Bapatere, merupakan tanjakan yang paling populer di telinga pendaki. Tanjakan curam dengan hanya berpegangan pada akar-akar pohon. Kami melewati tanjakan tersebut dan beristirahat didaerah yang cukup lapang untuk 2 tenda. Di tempat tersebut satu orang dari kami yaitu Arie Pitax menyerah karena kelelahan menyatakan tidak sanggup dan meminta diantar untuk turun kembali ke tempat camp.
Mengingat saya sudah pernah ke gunung ini jadi saya harus turun mengantarnya ke tempat camp kami di Pos Pangalap. Diantara yang melanjutkan ke puncak, sebelumnya belum pernah mendaki gunung ini sehingga pantas untuk menggapai puncaknya pagi hari ini. Sementara saya harus turun kembali.
Agak malas rasanya untuk turun kembali, akan tetapi apa boleh buat. Saya hanya berdoa untuk yang melanjutkan ke puncak agar senantiasa dilindungi oleh Allah S.W.T.
Waktu tercatat pukul 03.25. Saya bersama Arie Pitax menuruni turunan yang terjal dan curam. Kami harus tetap fokus jangan sampai terjatuh dan tergelincir ke jurang. Saya masih memiliki kesempatan menuju puncak jika saya bisa mengantar teman yang tadi saat subuh sampai di Pos Pangalap. Akan tetapi kenyataannya subuh saya masih berada di Tanjakan Seruni.
Karena di gunung ini masih ada sinyal ponsel, saya mengabarkan Dede Jadoel bahwasanya saya tidak bisa menyusul mereka ke puncak sebab sudah kesiangan, jika saya tetap memaksakan ke puncak. Yang ada saya baru sampai Pos Sanggabuana sementara teman-teman sudah turun dari puncak.
Pukul 06.00 saya sampai pos dimana kami mendirikan tenda yaitu Pos Pangalap. Saya isi pagi hari dengan kopi dan mie instan setelah itu terlelap tidur kembali. Pukul 10.00 dapat kabar dari Dede Jadoel bahwa mereka sudah kehabisan air. Tapi tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Hilang semua permasalahan air mereka. Lega rasanya doa mereka didengar oleh Tuhan.
Pukul 11.00 mereka belum turun juga dari puncak, disini saya mulai khawatir. Hujan pun semakin deras sekali siang itu. Pukul 12.00 belum ada tanda-tanda bahwa ada pendaki yang turun. Kini hujan mulai reda. Pukul 13.00 semakin khawatir karena sepi sekali belum ada tanda-tanda pendaki yang turun maupun naik. Saya sudah bersiap bahwa jika sampai pukul 14.00 belum ada juga saya akan menyusul mereka ke atas.
Alhamdulillah, pukul 13.40 mereka semua tiba di Pos Pangalap. Kondisi mereka basah kuyup karena diterpa hujan beberapa jam. Kami langsung memasak makanan dan minuman hangat untuk mereka.
Pukul 14.30 kami mulai packing tanda dan semua peralatan. Pukul 15.00 kami mulai meninggalkan Pos Pangalap untuk turun menuju desa. Pos Kuburan Kuda terlewati dan kami terus berjalan turun tanpa henti. Dan akhirnya kami berhenti di Pos Kondang Amis. Hujan turun kembali sore itu. Kami berteduh di shelter disana. Ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda disini.
Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan. Menerabas hujan yang tak tentu kapan berhentinya. Leweung Datar terlewati, dan akhirnya kami tiba di Cibunar pukul 17.25. Ramai sekali Cibunar oleh anak-anak sekolah yang camping. Kami terus menuruni jalan beton hingga aspal dan tiba di Basecamp Pendakian Jalur Linggarjati pas adzan magrib.
Di warung basecamp kami lampiaskan makan dengan menu yang lebih beradab. Semenjak kemarin perut kami terisi dengan mie instan terus.
Pukul 19.00 kami meninggalkan Linggarjati dengan angkot carteran dan dilanjut dengan angkot Elf hingga Cirebon. Alhamdulillah kami semua sampai dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Malam ini kami bermalam kembali di kediaman Putro "Baso".
Minggu, 22 Desember 2013
Pagi hari terbangun dari tidur yang lelap karena kelelahan sekali. Pagi hari diisi dengan canda tawa dan obrolan khas anak-anak Kompak. Pukul 12.00 saya harus berpamitan duluan karena kereta menuju Bandung berangkat Pukul 13.45. Diantar oleh Putro "Baso" dengan roda duanya kami tiba di Stasiun Kejaksan Cirebon. Setelah menukarkan tiket, saya dan Madhot sempat berjalan-jalan sebentar mencari oleh-oleh khas Cirebon.
Pukul 13.45 kereta meninggalkan Kota Cirebon menuju Bandung. Di dalam kereta hanya tertidur dan merokok di bordes kereta. Susahnya bagi perokok di kereta, harus kucing-kucingan dengan petugas. Seharusnya PT. KAI mengakomodasi para perokok dengan memberi gerbong smoking room. Karena perokok juga mempunyai hak juga untuk menggunakan jasa kereta api. *opini pribadi.
Pukul 18.10 kami tiba di Kota Bandung. Alhamdulillah, kami langsung menuju kosan dan beristirahat. Terima kasih sudah menyimak. Sampai jumpa di Pendakian si Janu Lainnya. Salam Lestari !!!!
Karena pada kali ini saya tidak ke Puncak Gunung Ciremei, jadi kalau mau tau cerita tentang puncak bisa baca di >> Link 1 dan Link 2
Thanks To:
- Allah S.W.T,
- Teman-teman dari KOMPAK ( Dede Jadoel, Imam, Harry Ucup, Putro "Baso", Arie Pitax, Madhot ),
- Orang Tua yang selalu mendoakan dari rumah,
- Terima kasih kepada keluarga dari Putro di Cirebon atas tumpangan tidurnya,
- Terima kasih kepada sahabat-sahabatnya dari Putro yang rela mengantar jemput kami ke stasiun,
- Allah S.W.T,
- Teman-teman dari KOMPAK ( Dede Jadoel, Imam, Harry Ucup, Putro "Baso", Arie Pitax, Madhot ),
- Orang Tua yang selalu mendoakan dari rumah,
- Terima kasih kepada keluarga dari Putro di Cirebon atas tumpangan tidurnya,
- Terima kasih kepada sahabat-sahabatnya dari Putro yang rela mengantar jemput kami ke stasiun,
- Terima kasih untuk Gunung Ciremei yang tak henti-hentinya memberikan pelajaran bagi saya.
Catatan :
- Di Gunung ini tidak ada sumber air. Usahakan isi di desa atau isi di Cibunar,
- Jalur sudah cukup jelas, ikuti jalur dan jangan membuat jalur baru,
- Hutan Ciremei masih sangat rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
- Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
- Hutan Ciremei masih sangat rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
- Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
- Jaga sikap anda di tempat-tempat keramat, antara lain di Goa Walet, Kuburan Kuda, Batu Lingga, dan Pangasinan,
- Jalur Linggarjati jalur terberat, pastikan fisik dan mental anda prima, karena medan pendakian cukup berat banyak "tanjakan setan",
- Jangan berbuat vandal. Sampah harap bawa turun kembali !!!
Para Artisnya :
![]() |
| Si Janu |
![]() |
| Imam ( Happy Graduation Mam) |
![]() |
| Dede Jadoel ( Happy Graduation Dul) |
![]() |
| Harry Ucup |
![]() |
| Arie Pitax |
![]() |
| Putro "Baso" |
![]() |
| Madhot ( gaya mejen paling okeh) |
Foto-foto selengkapnya :
![]() |
| Di Pangalap |
![]() |
| Summit nih |
![]() |
| Puncak Ciremei |
![]() |
| Cintamu Tak Seberat Carrierku |
![]() |
| Pemandangan dari Puncak Ciremei |





Saturday, 4 January 2014




























waah, tglnya hampir sama, kami mendaki tgl 19-22 desembe 2013, via apuy turun via linggarjati.. salam dari bandung.
ReplyDeleteSalam sahabat satubumikita
Deletemantap sob, dah kangen pengen daki lgi gunung ciremai, cuman ga blom da waktu
ReplyDeletekapan2 kita mendaki bareng sob
DeleteBuset wisudaan di atas guung, keren men, niat bawa toga segala
ReplyDeletehttp://gimmimore.blogspot.com/
inilah hal nyeleneh kami :)
DeletePerjalanan ke gunung selalu ada hal-hal yang gak bisa diduga ya... nice story
ReplyDeleteterima kasih mas baktiar
Delete