Pendakian kali ini awalnya tercetus dari pesan yang dikirimkan oleh teman saya yaitu Kang Bayu dari Bandung. Diperkirakan hanya 11-12 orang yang akan berangkat, ternyata oleh komunitas beliau (Satu Bumi Kita) dijadikan sebuah acara pendakian bersama berjumlah 25 orang lebih. Saya pun ikut serta bersama teman seperjalanan yaitu Madhot. Walaupun ternyata terjadi kendala diluar keinginan yang menyebabkan saya hanya berangkat berdua dengan Madhot.
Berikut kisah selengkapnya :
Jumat, 24 Oktober 2014
Sore hari saya masih terjebak kemacetan di daerah Soreang, Kab. Bandung untuk mengambil beberapa peralatan pendakian yang ada dirumah saudara. Sementara rombongan Mang Bayu sudah berkumpul di Terminal Cicaheum. Saya sudah merasa tidak akan bisa mengejar waktu lagi, akhirnya saya dan Madhot memutuskan untuk berangkat dari Terminal Leuwipanjang pada pukul 18.30 dan berjanjian dengan rombongan Mang Bayu di Garut.
Namun, rencana hanya tinggal rencana. Kami terjebak kemacetan mulai dari exit toll Cileunyi sampai Rancaekek. Tak sampai disitu kemacetan juga ada di daerah Kadungora sampai Leles Garut. Saya sudah pasrah dan mempersilahkan rombongan Kang Bayu untuk berangkat menuju Pemancar Gunung Cikuray duluan.
Pukul 23.30 kami berdua baru tiba di Kota Garut. Kami turun di pom bensin Ciateul. Kami duduk-duduk sejenak sambil menunggu truk atau mobil pick-up yang lewat dengan tujuan menumpang sampai Terminal Guntur. Tak lama menunggu ada sebuah truk menawarkan untuk tumpangan gratis menuju terminal, kami langsung naik tanpa basa-basi.
Sabtu, 25 Oktober 2014
Pukul 00.15 kami tiba di Terminal Guntur. Disana kami bertemu beberapa pendaki yang juga mau mendaki Gunung Cikuray. Kami ikut dengan mereka agar biaya sewa mobil pick-up-nya sedikit lebih miring. Akhirnya pada pukul 02.00 kami berangkat dari Terminal Guntur menuju Pemancar Gunung Cikuray.
Perjalanan dari Terminal Guntur sampai Pemancar Gunung Cikuray memakan waktu sekitar satu jam setengah. Pukul 03.30 kami tiba di Pemancar Gunung Cikuray. Disana banyak sekali pendaki sehingga saya sulit menemukan Kang Bayu dan kawan-kawan. Saya berfikir mereka sudah jalan duluan sedari tadi.
Pukul 04.30 saya dan Madhot bersama teman-teman yang baru saja bertemu di teminal tadi sekitar 5 orang, kalau ga salah mereka dari Bekasi bersiap berangkat setelah mengisi full persediaan air. Kami memulai pendakian dengan berdoa terlebih dahulu agar setiap langkah kaki kami diberikan keselamatan oleh Sang Pemilik Kehidupan.
Perjalanan dimulai dengan trek menanjak di areal perkebunan teh Dayeuh Manggung. Kemudian masuk kedalam hutan yang tak terlalu rapat. Pagi ini cuaca nampak berkabut dengan angin yang berhembus sangat kencang. Kami terus berjalan dengan santai sambil menikmati sejuknya udara pagi. Hari itu saya sangat bersemangat, langkah kaki terasa ringan sekali, mungkin seminggu lalu saya baru turun dari Gunung Gede, jadi kaki masih terasa nikmat di trek menanjak. Sementara rekan seperjalanan yaitu Madhot terlihat harus mulai beradaptasi lagi dengan kakinya sebab sudah lama ia tak mendaki gunung.
Hari cepat sekali berubah menjadi terang, kami sudah berada di Pos 1. Kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Setelah berhenti sejenak kami lanjutkan perjalanan. Kali ini langkah kaki lebih lambat sebab trek semakin terjal. Sering kami berhenti untuk sekedar menghela nafas dan menghisap batang-batang kehidupan.
| Si Janu (mentari pagi baru saja muncul langsung foto) |
Tiba di Pos 2 kami langsung berjalan sebab tiap pos terlihat ramai oleh pendaki. Kami lebih memilih beristirahat di tempat yang agak sedikit sepi. Semakin tinggi mendaki semakin kami merasa kantuk yang sangat berat. Sebab dari kami berdua belum tidur dari kemarin malam. Kami berjalan terus melawan rasa kantuk di trek yang semakin terjal ini.
Pukul 09.14 kami tiba di Pos 3. Disana juga banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda. Kami terus melanjutkan pendakian dan mencari tempat yang sedikit sepi untuk beristirahat. Di Pos 3 ini kami berpisah dengan rombongan Bekasi yang bareng sejak terminal semalam.
Kami harus pintar-pintar mengatur sisa-sisa tenaga, sebab selepas Pos 3 trek semakin menanjak curam. Tipe trek Gunung Cikuray sebenarnya mirip dengan Gunung Ciremei di Kuningan sana. Hanya saja trek Gunung Cikuray ini lebih pendek dibanding Gunung Ciremei. Makanya sering saya menyebutnya "Cikuray itu adalah Ciremei versi mini".
| Trek Cikuray |
Kami terus berjalan dengan sesekali berhenti menghela nafas. Ada satu spot dimana kami berhenti lumayan lama untuk mengisi perut dengan roti yang sudah dibawa dari rumah. Kami berhenti sekitar satu jam.
Hari ini nampak banyak sekali pendaki yang ingin naik ke atas. Memang Gunung Cikuray menjadi primadona saat ini semenjak kegiatan pendakian gunung ini sedang naik daun dikalangan pemuda Indonesia. Dahulu Gunung Cikuray ini termasuk sepi pendaki, paling banyak 5 rombongan yang mendaki. Kini hampir ratusan orang naik setiap weekend-nya. Hampir setiap pos dipenuhi tenda pendaki. Dalam pikiran saya selalu ditakuti oleh perasaan kalau kami tidak akan kebagian lapak untuk mendirikan tenda, untuk itu kami melanjutkan perjalanan kembali.
Hari ini nampak banyak sekali pendaki yang ingin naik ke atas. Memang Gunung Cikuray menjadi primadona saat ini semenjak kegiatan pendakian gunung ini sedang naik daun dikalangan pemuda Indonesia. Dahulu Gunung Cikuray ini termasuk sepi pendaki, paling banyak 5 rombongan yang mendaki. Kini hampir ratusan orang naik setiap weekend-nya. Hampir setiap pos dipenuhi tenda pendaki. Dalam pikiran saya selalu ditakuti oleh perasaan kalau kami tidak akan kebagian lapak untuk mendirikan tenda, untuk itu kami melanjutkan perjalanan kembali.
Setiap pos di Gunung Cikuray ini sangat sempit paling banyak bisa menampung 15 tenda. Untuk itu mendaki lah sedari malam hari agar mendapatkan tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda.
Pos 4 dan pos 5 kami lewati dengan pasti. Kami berjalan santai menapaki satu demi satu tanjakan yang semakin lama semakin terjal. Pukul 12.30 kami tiba di Pos 6 atau Puncak Bayangan. Di pos ini ramai sekali pendaki yang sudah mendirikan tenda. Kami maju sedikit di tanah yang sedikit lapang lalu duduk untuk beristirahat.
Disini saya meninggalkan Madhot sendirian. Saya berniat untuk mendaki sedikit cepat sambil mencari lapak untuk mendirikan tenda. Madhot sudah mulai kelelahan dan nampak kantuk mendera dirinya. Saya mulai mendaki dengan cepat berharap lapak di Pos 7 atau dataran sebelum Puncak masih ada yang kosong.
Sekitar setengah jam saya mendaki dengan sedikit berlari saya sampai di Pos 7. Di pos tersebut hanya ada lapak seluas kisaran 2 tenda. Saya akhirnya maju sedikit ke atas dan menemukan Pos 7 yang agak luas. Disana sudah banyak berdiri tenda. Saya mencari tempat yang sedikit kosong untuk ukuran tenda 2 orang.
Disana saya mendapatkan lapak untuk tenda saya yang berukuran 2 orang. Tapi posisi tanah miring untuk mendirikan tenda. Bagi saya kemiringannya masih sangat normal untuk tenda karena saya pernah tidur miring sekali waktu di Pestan Gunung Sumbing sana. Saya berbincang sejenak dengan 2 orang pendaki. Mereka adalah anak-anak dari Garut. Setelah saya berbincang sambil beristirahat sejenak. Saya menitipkan barang kepada mereka lalu saya kembali turun untuk menjemput Madhot.
Dalam perjalanan turun saya bertemu banyak pendaki yang naik. Rata-rata pendaki yang naik bertanya tentang adakah lapak yang kosong untuk mendirikan tenda.Hari itu memang semua lapak mendirikan tenda sudah full menurut saya.
Sedang asyik menikmati jalur turun saya bertemu Kang Gustav dari SatubumiKita Bandung. Saya sempat mengobrol sejenak, karena mereka lah rombongan yang sedari awal harusnya bareng dengan saya. Karena macet kemarin jadi tidak bisa mendaki bersama. Kang Gustav juga menanyakan tentang lapak yang kosong di Pos 7. Namun saya yakin diatas masih ada beberapa lapak yang bisa dimaksimalkan untuk tenda lagi.
Disini saya meninggalkan Madhot sendirian. Saya berniat untuk mendaki sedikit cepat sambil mencari lapak untuk mendirikan tenda. Madhot sudah mulai kelelahan dan nampak kantuk mendera dirinya. Saya mulai mendaki dengan cepat berharap lapak di Pos 7 atau dataran sebelum Puncak masih ada yang kosong.
Sekitar setengah jam saya mendaki dengan sedikit berlari saya sampai di Pos 7. Di pos tersebut hanya ada lapak seluas kisaran 2 tenda. Saya akhirnya maju sedikit ke atas dan menemukan Pos 7 yang agak luas. Disana sudah banyak berdiri tenda. Saya mencari tempat yang sedikit kosong untuk ukuran tenda 2 orang.
Disana saya mendapatkan lapak untuk tenda saya yang berukuran 2 orang. Tapi posisi tanah miring untuk mendirikan tenda. Bagi saya kemiringannya masih sangat normal untuk tenda karena saya pernah tidur miring sekali waktu di Pestan Gunung Sumbing sana. Saya berbincang sejenak dengan 2 orang pendaki. Mereka adalah anak-anak dari Garut. Setelah saya berbincang sambil beristirahat sejenak. Saya menitipkan barang kepada mereka lalu saya kembali turun untuk menjemput Madhot.
Dalam perjalanan turun saya bertemu banyak pendaki yang naik. Rata-rata pendaki yang naik bertanya tentang adakah lapak yang kosong untuk mendirikan tenda.Hari itu memang semua lapak mendirikan tenda sudah full menurut saya.
Sedang asyik menikmati jalur turun saya bertemu Kang Gustav dari SatubumiKita Bandung. Saya sempat mengobrol sejenak, karena mereka lah rombongan yang sedari awal harusnya bareng dengan saya. Karena macet kemarin jadi tidak bisa mendaki bersama. Kang Gustav juga menanyakan tentang lapak yang kosong di Pos 7. Namun saya yakin diatas masih ada beberapa lapak yang bisa dimaksimalkan untuk tenda lagi.
Saya tak lama turun langsung bertemu Madhot sedang beristirahat dan tidur dibawah pohon. Kami langsung mendaki ke atas kembali menuju tempat yang sudah saya dapat di Pos 7. Sekitar 45 menit berjalan akhirnya kami sampai di Pos 7. Kami langsung mendirikan tenda dan langsung membuat mie instan sebagi pengisi perut yang sedari malam belum terisi.
| Baru kali ini bawa snack segede ini |
| Lapak tenda penuh terpaksa ditempat agak miring |
| 5 Tahun Janu Jalan Jalan |
Hari beranjak gelap, saya beserta pendaki disamping tenda berbincang-bincang hingga sekitar pukul 20.00. Kemudian saya masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Cuaca diluar nampaknya mulai gerimis dan berkabut tebal. Malam ini terasa sangat dingin sekali ditambah kondisi badan yang sedang tidak bagus. Akhirnya saya terlelap dalam selimut dingin angin Cikuray.
Minggu, 26 Oktober 2014
Pukul 03.00 saya terbangun dari tidur. Pagi ini badan terasa dingin sekali. Saya akhirnya kembali masuk ke dalam sleeping bag untuk kembali tidur. Pukul 08.00 saya kembali terbangun. Kali ini saya langsung bergegas memasak nasi untuk sarapan pagi hari. Hari itu nampak berkabut, beberapa pendaki lain yang baru turun dari puncak berkata bahwa di puncak cuaca sangat gelap berkabut.
Pukul 09.00 semua masakan telah matang. Saya beserta teman-teman sekitar tenda yang berasal dari Garut dan Majalaya ikut sarapan bersama. Menu hari ini cukup sederhana yaitu sayur sop, tempe, dan mie instan.
| Sarapan Pagi |
Selesai sarapan, kami semua beres-beres tenda dan mulai packing barang bawaan. Kawan-kawan dari Garut dan Majalaya memilih pulang duluan. Sementara saya dan Madhot masih santai dalam packing barang. Kami packing semua barang namun menyisakan tenda. Semua barang dimasukan dalam tenda dan saya berniat untuk ke Puncak Cikuray sebentar.
Dari tempat kami mendirikan tenda ke Puncak Gunung Cikuray paling lama 10 menit. Setibanya kami di puncak masih terdapat beberapa pendaki yang belum turun. Cuaca memang cerah namun berkabut. Pemandangan ke bawah dan sekitar puncak kali ini kurang bagus. Tak masalah bagi kami sebab kami bukan pengejar pemandangan yang indah tapi kami pengejar pelajaran dan pengalaman dalam setiap pendakian.
Saya yakin dari 100% pendaki yang mendaki di hari itu sekitar 90% nya kecewa sebab tidak bisa melihat lautan awan di Puncak Gunung Cikuray. Karena cuaca dari pagi berkabut terus. Gunung Cikuray bukan sekedar lautan awan yang indah tapi pelajaran dari setiap jengkal tanah yang kita pijak juga indah.
Keadaan puncak tak berubah begitu banyak menurut saya, hanya beberapa lokasi berubah. Dimana lokasi dahulu merupakan pepohonan kini menjadi tanah lapang tempat mendirikan tenda. Bangunan di puncaknya juga sudah banyak lagi coretan-coretan oleh pendaki yang tidak bertanggung jawab.
Selain sampah, masalah klasik di dunia pendakian adalah vandalisme tulisan di bangunan-bangunan pos, ukiran-ukiran di pohon. Inilah pendaki Indonesia, semakin banyak yang mengaku pecinta alam tapi alam semakin rusak. Miris!!
Di puncak kami sempat berfoto sejenak dan menikmati semilir angin yang berhembus. Waktu menunjukan pukul 11.00 saat itu.
| Puncak sedikit berkabut siang itu |
| Di Puncak |
| Di Puncak |
Pukul 12.00 kami memutuskan untuk turun dari Puncak Gunung Cikuray dan kembali menuju Pos 7 dimana tenda kami berada. Sekitar 5 menit turun kami tiba di Pos 7. Pos 7 sudah sepi dari pendaki, sebagian dari mereka sudah turun. Saya kembali packing barang bawaan. Setelah semua barang bawaan beres kami langsung "operasi semut" membersihkan sampah yang ada di Pos 7 dan memasukannya kedalam karung yang kami bawa. Seperti biasa saya namakan ini Aksi Karung Beras.
| Pos 7 (terasa damai kalau sepi seperti ini) |
| Aksi Karung Beras |
Pukul 12.30 kami sudah beres semuanya, kami mulai meninggalkan Pos 7. Kami berjalan turun dengan langkah pasti dan cepat. Sekitar setengah jam lebih kami tiba di Pos 6 Puncak Bayangan. Disana kami berhenti sejenak dan kembali mengumpulkan sampah dan memasukannya ke dalam karung.
Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan. Kami berjalan turun dengan cepat namun tetap fokus. Pos 5 dan 4 tak sadar sudah kami lewati saat itu. Pukul 14.00 kami tiba di Pos 3. Disana kami berhenti sedikit lama untuk beristirahat minum dan menghisap beberapa batang rokok. Kami mengangkut beberapa sampah lagi untuk dimasukan dalam karung di Pos ini.
Pukul 14.15 kami melanjutkan perjalanan turun dengan sedikit berlari hingga kami berhenti istirahat kembali di Pos 1 sekitar setengah jam. Dari Pos 1 kami berlari turun lagi menuju Pemancar. Di tengah perjalanan turun sebelum Pemancar saya kembali bertemu dengan Kang Gustav dan rombongannya. Akhirnya juga saya bertemu dengan Kang Bayu. Di atas ladang hampir sampai Pemancar saya beristirahat lagi sambil berbincang dengan Kang Bayu. Kemudian kami turun menuju Pemancar dan tercatat saat itu pukul 16.50. Alhamdulillah, kami semua selamat tanpa kekurangan satu hal yang berarti.
| Pemancar ada disana |
| Kang Panggul sampah |
| Kang bawa aer |
Sore itu, saya dan Madhot berniat untuk balik bareng dengan rombongan Satubumikita ke Bandung. Mereka mencarter truk sampai Terminal Guntur. Pukul 18.45 truk meninggalkan Pemancar menuju Terminal Guntur. Satu jam perjalanan kami tiba di Terminal Guntur. Kemudian kami langsung naik bus jurusan Terminal Cicaheum Bandung. Tiba di Bandung pukul 24.00. Kami berpisah dengan rombongan SatubumiKita di Cicaheum, karena kami melanjutkan dengan angkot menuju Kb. Kalapa. Akhirnya saya tiba di kosan Pukul 01.00. Alhamdulillah perjalanan kali ini tak ada halangan yang berarti.
Terima kasih Sudah menyimak. Sampai Jumpa di Pendakian Si Janu Lainnya!! Salam Lestari !!!
Thanks to :
- Allah S.W.T
- Madhot rekan seperjuangan
- Kawan dari Garut dan Majalaya (Berkat kompornya saya jadi bisa masak)
- Orang Tua ( Yang selalu mendoakan anak Mu ini)
- Kawan dari Garut dan Majalaya (Berkat kompornya saya jadi bisa masak)
- Orang Tua ( Yang selalu mendoakan anak Mu ini)
- Komunitas SatubumiKita
- Gunung Cikuray ( Yang selalu menyambut Ku dengan sejuta pesona Mu).
Catatan :
Catatan :
- Di Gunung ini tidak ada sumber air. Usahakan isi di desa atau di pemancar,
- Trek lumayan menguras tenaga jangan sepelekan, badan kondisikan fit,
- Jalur sudah cukup jelas, ikuti jalur dan jangan membuat jalur baru,
- Hutan Cikuray masih sangat rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
- Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
- Jangan berbuat vandal. Jaga warna bangunan yang telah dicat, jangan dicorat-coret lagi,
- Jalur sudah cukup jelas, ikuti jalur dan jangan membuat jalur baru,
- Hutan Cikuray masih sangat rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
- Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
- Jangan berbuat vandal. Jaga warna bangunan yang telah dicat, jangan dicorat-coret lagi,
- Jangan membuang air kencing di botol air mineral. Saya banyak menemukan botol berisi air kencing pendaki yang dibuang begitu saja di hutan. Kencing lah seperti biasa dan bawa turun botolnya!!!
- SAMPAH bawa turun kembali !!!!
| Selfie dulu biar kekinian :D |





Friday, 31 October 2014

semoga bisa berjumpa kembali kang janu di kegiatan selanjutnya... ijin re-post ya kang di blog sabuki :) Nuhun.
ReplyDeleteokeh silakan kang. nuhun kang.
Deletegayat mama tgk tempat tinggi2 ni..
ReplyDeleteWah kalo urusan naik gunung emang mas Janu jagonya.. asyik baca tulisannya
ReplyDeleteMas janu emang kaki dewa :D
ReplyDeleteWah salut deh atas kepeduliannya terhadap lingungan! Setuju, gunung bukan tempat sampah!
ReplyDelete