Januar Arifin

Pendakian Gunung Gede 2014

Posted by Januar arifin on Thursday, 30 October 2014


Kembali lagi dengan perjalanan saya menyusuri hijaunya hutan hujan tropis di Gunung Gede. Kali ini saya mendaki mengantarkan kawan-kawan dari Jakarta yang berjumlah 6 orang. Ini merupakan pengalaman pertama mendaki gunung bagi mereka. 

Mari simak kisah selengkapnya :

Jumat, 17 Oktober 2014

Hari jumat pukul 17.00 saya berangkat dari kediaman saya di Pondok Aren dengan menggunakan angkutan umum menuju Cibodas, Cianjur. Berawal diantar seorang teman menuju Lebak Bulus kemudian saya melanjutkan dengan naik bus jurusan Sukabumi. Satu jam lebih berlalu, saya tiba di daerah Ciawi, kemudian saya berganti bus untuk menuju Cibodas. Akhirnya pukul 21.00 saya tiba di Cibodas. 

Saya langsung menuju warung milik teman saya yaitu Kang Dindin (Toink). Kang Dindin merupakan teman lama saya yang dahulu membantu saya ketika ada kesalahan dalam urusan Simaksi (Surat Ijin Masuk Wilayah Konservasi). Kali ini pun begitu, saya bermasalah dengan Simaksi dan beliau lah yang mengurusnya hingga selesai.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Pukul 02.00 kawan-kawan dari Jakarta tiba, kami langsung bergegas re-packing barang bawaan. Setelah itu, kawan-kawan beristirahat dan tidur sejenak di warung teman saya untuk menghilangkan rasa lelah di perjalanan. Awalnya saya berniat memberangkatkan kawan-kawan pada pukul 03.00 atau paling lambat pukul 05.00, hal ini bertujuan agar pada start awal dari jalur Cibodas ini mereka tidak banyak menguras tenaga, sebab mereka harus beradaptasi terlebih dahulu maklum ini pengalaman pertama bagi mereka. Akan tetapi mereka terlihat lelah sehingga baru bangun dari istirahatnya pada pukul 05.00.


Pukul 07.00 setelah semuanya beres, akhirnya kami bersiap berangkat menuju Pos Pemeriksaan Taman Nasional (1250 Mdpl). Kemudian saya melapor kepada petugas yang berjaga di pos pemeriksaan, waktu menunjukkan pukul 07.45. Kemudian kami mulai berjalan memasuki hutan hujan tropis di Gunung Gede ini. 


Kami berjalan menyusuri trek berbatu yang landai dengan santai sesekali berhenti untuk beradaptasi dengan kondisi gunung. Kami terus berjalan, Pos 1 (1375 Mdpl) terlewati lanjut menuju Pos 2 yaitu Telaga Biru (1575 Mdpl). Disana mereka berfoto-foto dahulu sambil menikmati Telaga Biru. 

Telaga Biru
Kemudian kami lanjut berjalan mendaki menyusuri jalan setapak hingga Pos 3 Panyacangan (1628 Mdpl). Disana terlihat banyak sekali pendaki maupun para wisatawan yang menuju Air Terjun Cibeureum. Kami berhenti sejenak di pos ini untuk meregangkan kaki dan menghela nafas. Terlihat di jam tangan sudah pukul 09.00. Sudah sangat siang menurut saya. 

Gunung Pangrango nampak berdiri gagah dilihat dari Rawa Gayongong
Kami melanjutkan pendakian kembali. Kami terus berjalan dengan banyak sekali berhenti di trek selanjutnya. Wajar saja sebab trek antara Pos 3 Panyacangan sampai Pos Air Panas memang sangat membosankan. Kadang landai, kadang menanjak dan berkelok-kelok. Disini kawan-kawan sudah mulai terlihat lelah dan gontai dalam berjalan.

Kawan-kawan mulai nampak lelah
Pukul 12.00 setelah perjalanan yang panjang dan berliku, akhirnya kami tiba di Pos Air Panas (2200 Mdpl). Disana kami beristirahat cukup lama. Kami merendamkan kaki di air panas untuk menghilangkan rasa pegal dan makan siang dengan roti yang telah kami bawa. 

Pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Kandang Badak. Kami berjalan kembali dengan santai dan berirama. Sesekali dari kawan-kawan mulai terlihat kelelahan dan meminta untuk beristirahat. Akhirnya pada pukul 15.30 kami tiba di Pos Kandang Badak (2395 Mdpl). Saya langsung mencari lapak untuk beristirahat sebab banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda di tempat ini.

Si Janu
Disini saya memberikan opsi yaitu, Pertama, kita mendirikan tenda di Pos Kandang Badak dan esok pagi baru lah kami menuju Puncak Gunung Gede. Kedua, kami lanjut berjalan dan mendirikan tenda di Alun-Alun Suryakencana.

Melihat kondisi fisik mereka yang sudah mulai lelah dan kondisi cuaca yang mulai gelap saya menyarankan untuk memilih opsi pertama. Akan tetapi saya disini hanya berperan sebagai pengantar, jadi apapun keputusan mereka yang menentukan. Ternyata mereka memilih opsi kedua. Setelah air terisi penuh satu derigen pada pukul 16.20, kami berangkat berjalan kembali. Saya kali ini membawa 2 ransel (double pack) depan-belakang. Sebab salah satu dari mereka sudah merasa tidak sanggup membawa ransel. 

Hari mulai gelap, gerimis mulai turun, tetapi kami terus berjalan. Trek makin menanjak dengan elevasi kemiringan yang makin miring. Magrib tiba sekitar pukul 17.50 kami baru sampai di daerah Tanjakan Rante (Tanjakan Setan). Beberapa dari mereka tertarik mencoba tebing Tanjakan Setan yang legendaris ini di lereng Puncak Gede. Namun, saya sedikit melarang sebab saat itu adalah waktu peralihan hari dari terang ke gelap. Beda hal jika siang atau malam hari. Hal ini saya lakukan demi keselamatan mereka juga.
Percayalah, jika anda dilarang oleh pengantar (guide) di gunung tentang apapun. Taati saja larangannya, sebab mereka lebih banyak tahu tentang kearifan lokal atau apapun yang diluar akal pikiran manusia. Jangan banyak bertanya, tanyalah ketika sudah berada di bawah.
Kami melewati jalur alternatif di sebelah jalur tebing Tanjakan Setan. Kami sudah sampai dilereng Puncak Gede. Ini merupakan tantangan terakhir yang sangat menguras tenaga sebelum sampai puncak. Sore itu langit sudah gelap gulita. Kami mengeluarkan alat penerangan untuk membantu berjalan. 

Kami terus berjalan di trek berbatu yang terjal. Kami banyak berhenti sebab sisa-sisa tenaga sudah hampir habis. Saya pun demikian, membawa 2 ransel membuat saya sedikit berjalan agak lambat. Hampir tiga jam lebih kami bertarung melawan diri sendiri berjalan di lereng Puncak Gede akhirnya kami tiba pada Pukul 21.00. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini, sebab kawan-kawan sudah merasa kelelahan. 
Mendaki gunung itu bukanlah menaklukan gunung melaikan menaklukan diri sendiri melawan lelah, dingin dan emosi.
Angin dingin menyambut kedatangan kami. Mendirikan tenda di Puncak Gede halangan terbesarnya adalah angin yang berhembus sangat kencang. Saya mendirikan 2 tenda untuk kawan-kawan, kemudian satu tenda untuk saya sendiri. Malam itu kami semua hanya memakan makanan ringan, sebab yang paling mereka butuhkan adalah istirahat. 

Malam itu kami semua terlelap dalam selimut angin dingin Puncak Gunung Gede. 

Minggu, 19 Oktober 2014

Saya bangun dari tidur pada pukul 02.30 dan langsung memasak nasi untuk sarapan karena memasak nasi memerlukan waktu yang lumayan lama. Dini hari itu saya habiskan waktu untuk santai-santai menikmati keindahan langit sambil menghisap batang-batang kejenuhan.

Pukul 05.00 saya membangunkan kawan-kawan untuk menunggu sunrise sambil memasak sarapan pagi. Sambil menunggu masakan matang, saya mengobrol dengan pendaki yang lewat tempat camp kami. Pukul 07.30 akhirnya masakan jadi kami langsung mengisi perut yang kosong sedari malam.

Sarapan pagi
Pagi itu cuaca cerah sedikit berkabut, namun tak mengurangi keindahannya. Sering sekali saya mendaki gunung ini, tak pernah terlintas rasa jenuh sedikit pun. 
Selesai sarapan kami semua bergegas membereskan tenda dan barang bawaan. Kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Alun-alun Suryakencana. Pukul 09.30 kami sudah selesai membereskan semuanya, kami mulai berjalan menanjak sedikit menuju Top Puncak Gunung Gede. Sekitar 20 menit berjalan santai kami tiba di Top Puncak Gunung Gede (2958 Mdpl). 

Berjalan menuju top (trianggulasi Puncak Gede)
Sunrise pagi terhalang kabut
Kawah Gunung Gede
Nampak Gunung Pangrango. Kangen juga rasanya sudah lama tak mendakinya
Seperti biasa kami berhenti lama di Puncak Gede untuk berfoto-ria. Siang itu cuaca panas namun berkabut. Pemandangan sekitar kadang tertutup kabut maklum ini hampir masuk musim penghujan.

Tak lupa saya pun ikut berfoto di Puncak sebab bulan ini merupakan hari jadi ke-5 tahun web saya Janu Jalan Jalan. Tahun kemarin persis di bulan dan waktu yang sama saya juga berada di tempat ini. Berbeda dengan sekarang, tahun lalu saya mendakinya melalui jalur Selabintana, Sukabumi.

5 Tahun Janu Jalan Jalan. Tak terasa menulis travelblog sudah 5 tahun
Pukul 11.30 kami melanjutkan perjalanan turun menuju Alun-alun Suryakencana. Sekitar setengah jam berjalan menuruni batuan tertata rapih namun terjal, akhirnya kami tiba di Alun-alun Suryakencana (2700 Mdpl).

Alun-alun Suryakencana kali ini nampak gersang sekali, siang itu panas terasa menyengat. Saya bergegas untuk mengisi persediaan air. Sumber air di Alun-alun Suryakencana ternyata sedang kering. Akhirnya saya memutuskan berjalan ke barat arah jalur Selabintana. Disana saya menemukan sumber air jernih. Jarang sekali orang menemui sumber air ini, saya yakin hanya porter (guide) atau pendaki yang telah lama main di gunung ini yang tahu sumber air ini.

Alun-alun Suryakencana
Setelah semua persediaan air terisi penuh saya kembali menuju kawan-kawan. Waktu menunjukan pukul 12.30 kami langsung berjalan turun melalui jalur Gunung Putri. Kami berjalan santai menyusuri Alun-alun Suryakencana sambil berfoto-ria.
Keindahan tempat ini selalu saja menghipnotis saya walaupun sekarang sudah tak seindah dahulu. Edelweiss yang sedang mekar, angin dingin yang selalu berhembus, serta kabut tipis yang turun didepan saya membuat saya selalu tertarik untuk kembali.
Pukul 13.12 kami tiba di Alun-alun Timur, disana kami beristirahat sejenak. Perjalanan tinggal menurun memasuki hutan kembali. Kali ini trek turun Gunung Putri sudah berbatu tertata rapih berbeda dengan dahulu yang masih tanah dan dibeberapa bagian sangat terjal. Kini trek sudah baru tidak ada trek yang terjal lagi seperti dahulu. Saya pun baru kali ini lagi melalui jalur Gunung Putri.

Trek sudah diperkeras
Berjalan turun memang agak sedikit cepat namun harus tetap fokus agar tidak terpleset jatuh. Pos Simpang Maleber terlewati, kami terus berjalan sesekali berhenti untuk beristirahat. Kami terus berjalan turun, langit mulai terlihat mendung. Kami sampai di Pos 3 dan beristirahat sejenak. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menurun hingga Pos 2 dan Pos 1 terlewati. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada jalur Gunung Putri ini misalnya setiap shelter saat ini sudah direhab dan diperbarui.


Pukul 17.30 kami akhirnya sampai di Pos Pemeriksaan GPO (Gede Pangrango Operation). Kami melapor dan membuang sampah yang kami bawa dari gunung. Setelah itu kami langsung mencarter angkot menuju Cibodas kembali sebab kawan-kawan membawa kendaraan yang disimpan di Cibodas. Pukul 19.00 kami tiba di Cibodas dan secara bergantian menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.

Pukul 20.30 kawan-kawan dari Jakarta berpamitan untuk pulang terlebih dahulu sedangkan saya masih santai berbincang dengan teman pemilik warung. Saya meninggalkan kawasan Cibodas pada pukul 22.00 menumpang angkot kosong yang turun ke pertigaan jalan raya Cimacan. Disana saya bertemu beberapa pendaki asal Depok dan kami akhirnya berbincang-bincang sambil menunggu bus jurusan Kp. Rambutan.

Pukul 23.00 bus jurusan Kp. Rambutan datang, saya pun naik untuk kembali ke Jakarta. Tercatat sampai di Jakarta pada pukul 01.30 dini hari. Waktu-waktu seperti ini sudah tidak ada angkutan jurusan Lebak Bulus kecuali taksi. Akhirnya saya duduk-duduk di depan warteg sambi mengobrol dengan pendaki lain yang baru saja pulang dari Garut.

Hingga tak terasa adzan subuh terdengar di telinga. Saatnya saya mencari bus jurusan Lebak Bulus. Setelah ada bus, saya langsung naik. Sekitar setengah jam sudah sampai di Lebak Bulus. Dari sana saya naik angkot menuju rumah tercinta. Tercatat pada pukul 06.15 saya tiba di rumah tanpa kekurangan satu hal pun. Alhamdulillah. . .

Terima kasih sudah menyimak. Sampai Jumpa di Pendakian Si Janu Lainnya. Salam Lestari!!!

Edelweiss G. Gede sedang Berbunga, jaga dan jangan dipetik #SaveEdelweiss
Ayo kawan penggiat alam
Bawa Sampah Mu turun kembali
Mari kita jaga tempat bermain kita!!!
#AksiKarungBeras

 Thanks to :

- Allah S.W.T
- Rombongan Jakarta (Jefri, Armando, Ivan, Rifki, Nanda, dan Ria)
- Orang Tua ( Yang selalu mendoakan anak Mu ini dari rumah)
- Sdr. Pare (Atas Bogaboo 60 nya)
- Gunung Gede ( Yang telah menyambut Ku dengan sejuta pesona Mu )

Catatan :

- Transport

---- Lb. Bulus - Ciawi ( Bus Parung Indah) = Rp. 15.000
---- Ciawi - Cibodas = Rp. 25.000
---- Cibodas - Taman Nasional ( Ojek ) = Rp. 15.000 *angkot sepi jadi naik ojek
---- Gn. Putri - Cibodas  = Rp.15.000
---- Cibodas - Pertigaan = Rp. 4000
---- Pertigaan - Kp. Rambutan = Rp. 25.000
---- Kp. Rambutan - Lb. Bulus = Rp. 10.000 *di ketok karena bawa keril besar
---- Lb. Bulus - Rumah = Rp. 7000

- Jalur sudah cukup jelas, ikuti jalur dan jangan membuat jalur baru,
- Hutan Gunung Gede masih lumayan rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
- Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
- Jangan berbuat vandal. Jaga warna bangunan yang telah dicat, jangan dicorat-coret lagi,
- BAB saya harap jangan di sumber air atau aliran air. Belajarlah dari kucing, gali tanah sejengkal lalu kubur lagi. Jangan jadi pendaki jorok yang merusak sumber air,
- Mencuci bekas masak juga jangan di sumber air. Ambil air dengan botol lalu cucilah di tanah yang sudah di gali sejengkal.
- Sampah harap bawa kembali turun. Sampah di Gunung Gede sudah sangat memperihatikan keberadaannya!!! Saya Harap semua pihak baik pendaki maupun Taman Nasional bisa menanggulangi masalah klasik ini.

Tambahkan Komentar

2 comments:

  1. Tulisannya seru, kebetulan bulan Sep kemarin sempat ke Gede jg tp ga sampe Puncak, semoga next bisa :D

    ReplyDelete
  2. wah wah sang petualang si akang mh euy :) moga sukses selalu yah

    ReplyDelete