Januar Arifin

Pendakian Gunung Pangrango "Edisi Hujan-hujanan"

Posted by Januar arifin on Saturday, 17 January 2015

Lembah Mandalawangi

Cerita perjalanan ini berawal dari pesan singkat seorang teman yaitu Imam yang mengajak untuk mendaki Gunung Pangrango. Saya tak ragu untuk mengiyakan ajakan dari Imam, sebab saya juga sudah lama tak berkunjung ke Puncak Pangrango dan Lembah Mandalawanginya.

Kali ini saya mendaki bersama teman-teman kantor dan kampusnya Imam berjumlah 12 orang. Simak catatan perjalanannya berikut ini :



Jumat, 19 Desember 2014

Sore hari selesai packing, saya bersiap menunggu rombongan yang mencarter mobil angkot. Kemudian Ba’da magrib mobil angkot carteran dan rombongan melewati daerah rumah dan saya sudah menunggu disana. Kami berangkat menuju terminal Kampung Rambutan. Sore ini kondisi cuaca hujan deras membuat jalanan sedikit tersendat macet.

Pukul 21.15 kami tiba di Teminal Kampung Rambutan dan langsung naik bus Po. Marita jurusan Cianjur. Malam itu hujan masih mengguyur sebagian besar Ibukota. Singkat cerita sekitar 3 jam lebih di bus, kami tiba di Cibodas.


Sabtu, 20 Desember 2014
 
Di Cibodas, kami menuju salah satu warung untuk packing ulang dan mengisi perut. Setelah mengisi perut, kami beristirahat sejenak untuk mempersiapkan tenaga saat mendaki nanti. Niat saya memulai perjalanan sekitar pukul 03.00.

Pukul 03.30 kami sudah siap melakukan pendakian. Kemudian kami berkumpul dan berdoa memohon perlindungan kepada Allah S.W.T, kami memulai langkah kami dengan pasti menuju Pos Pemeriksaan di Cibodas (1250mdpl).
 
Setelah lapor, kami mulai memasuki hutan hujan tropis Gunung Gede-Pangrango pada pukul 04.00. Kami terus berjalan di trek berbatu dengan langkah yang masih semangat. Tiba di Pos Telaga biru (1575mdpl) kami berhenti sejenak untuk menunaikan solat subuh. Pagi itu juga banyak pendaki lain di pos ini yang sedang beristirahat.

Setelah semuanya beres, kami melanjutkan perjalanan. Kondisi trek berbatu masih menemani kami. Kami tiba di Pos Panyacangan (1628mdpl) dan berhenti sejenak untuk beristirahat. Kemudian setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menghadapi trek yang sangat membosankan bagi saya, yaitu antara Pos Panyacangan sampai Pos Air Panas. Kenapa saya bilang membosankan sebab trek disini berputar-putar landai dengan kondisi jalan berbatu. Membuat pendaki bosan dan merasa malas melangkah. Kami juga berhenti sejenak di Shelter Rawa Denok 2 untuk beristirahat.

Shelter Rawa Denok 2

Terlihat kawan-kawan mulai sedikit melambat dalam melangkah. Setelah beberapa jam berjalan dari Pos Panyacangan kami tiba di Pos Air Panas (Hotspring) (2200mdpl) pada pukul 09.45. Disana kami beristirahat untuk sarapan pagi. Alat masak dan logistik dikeluarkan. Pagi ini kami sarapan dengan makanan yang tidak terlalu berat sebab pendakian masih panjang. Menu pagi ini yaitu mie instan. 

Makan di Pos Air Panas

Pukul 11.30 kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos Kandang Badak. Trek mulai semakin menanjak, dan pergerakan kawan-kawan mulai melambat. Rombongan mulai tercecer beberapa bagian tapi masih tidak terlalu jauh. Setelah berjuang keras, akhirnya kami tiba di Pos Kandang Badak (2395mdpl).

Awalnya niat kami ingin melanjutkan sampai puncak Gunung Pangrango dan mendirikan tenda di Lembah Mandalawangi. Akan tetapi cuaca siang itu sangat mendung membuat kami ragu melanjutkan ke puncak. Kami akhirnya sepakat mendirikan tenda di Pos Kandang Badak.

Setelah mencari lapak kosong untuk tenda, kami langsung bergegas mendirikan tenda sebab gerimis mulai turun siang itu. Benar saja tak lama sebagian tenda berdiri, hujan turun begitu derasnya. 

Pukul 14.00 hujan masih mengguyur lereng Gunung Gede dan Pangrango. Kami habiskan waktu untuk memasak makan sore dan beristirahat. 

Hari cepat sekali berubah menjadi gelap. Seharian ini saya tak melihat sinar matahari. Kabut malam mulai menyelimuti Pos Kandang Badak. Satu-persatu pendaki lain mulai berdatangan dan mendirikan tenda disamping kami. Week-end ini begitu ramai oleh pendaki sehingga suasana terasa gaduh sekali. Berbeda dengan beberapa tahun kebelakang, nge-camp di Pos Kandang Badak adalah sesuatu yang sangat menyeramkan sebab suasananya yang hening dan sunyi. 

Malam itu kami semua terlelap berselimut kabut dingin di Pos Kandang Badak. 


Minggu, 21 Desember 2014

Kami terbangun pada pukul 03.00 dini hari untuk bersiap summit attack menuju Puncak Gunung Pangrango. Kami mempersiapkan beberapa makanan ringan, air mineral dan jas hujan. Pukul 03.15 kami sudah siap semuanya. Sebelum memulai berjalan kami berdoa sejenak untuk memohon perlindungan dari Allah S.W.T. Menurut saya waktu itu agak sedikit telat untuk berangkat ke Puncak Pangrango, bisa ketinggalan sunrise.

Kami mulai berjalan, saya awalnya ditunjuk oleh Imam sebagai leader di depan. Tetapi di tengah perjalanan saya mundur sebagai sweeper dan Imam mengambil alih sebagai leader. Sampai di pertigaan antara Puncak Gede dan Puncak Pangrango kami ambil jalur kanan. Kami terus berjalan membelah heningnya malam yang dingin itu. Langkah kaki kami sudah agak cepat, namun beberapa kali harus berhenti sebab trek menjadi licin setelah diguyur hujan semalaman. 

Lereng Pangrango

Kami berhenti agak lama saat waktunya solat subuh sekitar pukul 04.45. Setelah semuanya beres, kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Trek tanah yang licin dengan kemiringan yang lumayan menguras tenaga membuat kami sedikit kewalahan. Mentari mulai keluar dari peraduannya, disela-sela pepohonan nampak matahari terbit indah sekali seakan obat penghilang rasa lelah.
"disaat batas kemampuan fisik sesorang telah terlampaui, yakinlah ada sesuatu hal yang bisa membangkitkannya kembali" (Januar Arifin). Omongan saya beberapa tahun lalu di lereng Puncak Pangrango.
"disaat batas kemampuan fisik sesorang telah terlampaui, yakinlah ada sesuatu hal yang bisa membangkitkannya kembali" (Januar Arifin) - See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2012/04/pendakian-gunung-pangrango-3019mdpl.html#sthash.pExyroru.dpuf
"disaat batas kemampuan fisik sesorang telah terlampaui, yakinlah ada sesuatu hal yang bisa membangkitkannya kembali" (Januar Arifin) - See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2012/04/pendakian-gunung-pangrango-3019mdpl.html#sthash.pExyroru.dpuf
Setelah berjuang keras sekali, akhirnya kami tiba di Puncak Gunung Pangrango (3019mdpl) pukul 07.30. Ternyata di puncak sudah ada beberapa rombongan lain. Kami langsung duduk menikmati keindahan yang tersaji di depan mata. Puncak Gunung Gede nampak megah sekali berbalut awan disekelilingnya. Pagi itu terasa indah ditambah secangkir kopi hangat. Rasa rindu saya akan Pangrango belum terbayarkan jika belum turn ke Lembah Mandalawangi.
Berbeda dengan pendakian menuju puncak Gunung Gede, Gunung Pangrango ini treknya berupa tanah yang basah dengan kemiringan lebih dari Gede dan banyak pepohonan tumbang di sepanjang jalur.

Nampak Puncak Gunung Gede dari kejauhan
Puncak Gunung Pangrango

Setelah puas berfoto dan membuat kopi, kami langsung menuju Lembah Mandalawangi. Tak jauh jarak antara puncak dan Lembah Mandalawangi, hanya membutuhkan 3 menit turun ke bawah. Hamparan ladang edelweiss seluas 5ha itu kini terlihat sedikit gersang. Pohon edelweiss-nya sedikit agak berkurang, namun masih indah sekali dinikmati. Disana kami kembali berfoto ria sambil makan makanan ringan yang kami bawa. 

Lembah Mandalawangi

Pukul 08.30 kami sudah merasa cukup di tempat itu, kami mulai bergegas untuk kembali menuju Pos Kandang Badak. Kami turun dengan langkah yang sedikit santai sambil menikmati keindahan alam. Kali ini jalur turun saya belokan melipir kiri agar langsung sampai di Pos Kandang Badak tidak perlu lewat pertigaan puncak Gede. 

Jalur ini memang sedikit sempit, terjal dan licin, maklum jarang orang yang melewati jalur ini. Salah satu dari rombongan terjatuh beberapa kali, membuat kakinya sakit. Akhirnya kami jalan turun dengan sangat pelan dan hati-hati sekali sambil memapah yang sakit itu.
Tanah lembek dan becek

Pukul 11.30 kami akhirnya tiba di Pos Kandang Badak. Kami langsung menuju tenda dan mengolah makan siang. Menu makan siang ini cukup bervariatif untuk menambah tenaga kami yang sudah habis.

Entah gerak kami yang lambat atau memang betah di tempat ini, pukul 14.00 sama sekali belum packing. Setelah makan siang, pukul 14.30 kami baru memulai packing untuk meninggalkan pos tersebut. Pos Kandang Badak sudah nampak sepi oleh pendaki yang sudah turun. 

Selesai packing, pukul 16.00 kami langsung bergegas dan berdoa untuk memulai perjalanan turun. Kali ini saya dan beberapa teman berada di depan rombongan, berjalan cepat bahkan berlari dan berniat menunggu rombongan di Pos Air Panas. Pukul 16.45, saya dan beberapa teman sudah tiba di Pos Air Panas dan duduk sambil menghisap beberapa batang kehidupan untuk menunggu rombongan belakang.

Lama menunggu hingga pukul 17.30 rombongan belakang baru saja sampai. Ternyata yang terjatuh tadi mulai merasakan sakit kakinya lagi. Kali ini saya mempunyai strategi untuk turun. Jadi yang masih kuat dan sanggup berjalan cepat bisa duluan dan tunggu di Pos Panyacangan. Saya dan Imam di belakang mem-back up yang kakinya sakit. 

Sekitar 6 orang beserta saya berjalan santai memback-up yang kakinya sakit. Yang lain sudah duluan Kami berjalan sangat santai. Sore itu hujan turun dengan derasnya. Kami secara bergantian menggandeng yang sakit untuk berjalan. Shelter Batu Kukus 2 dan Batu Kukus 1 terlewati dengan aman, namun hujan semakin deras saja. Baju kami sudah basah semua. Saya mengkhawatirkan dengan kondisi seperti ini kami bisa terserang Hipotermia. Untuk itu kami jangan pernah berhenti terlalu lama agar hangat tubuh tetap terjaga. 

Tiba di Shelter Rawa Denok 2 ternyata kawan yang berjalan duluan menunggu disana. Kami beristirahat lagi sebentar. Berteduh dari hujan yang masih deras sekali. Waktu menunjukan pukul 19.30.

Kemudian, kami lanjutkan perjalanan turun dengan perlahan dan berhati-hati. Saya berpesan pada yang jalan duluan agar tidak berhenti di Shelter Rawa Denok 1. Langsung saja menuju Pos Panyacangan. 
Sejak dahulu entah mengapa saya tidak pernah mampir atau beristirahat di Shelter Rawa Denok 1, siang atau pun malam. Disana hawanya beda menurut saya. Dan dari jaman dulu juga tidak pernah diajarkan oleh senior untuk beristirahat disana.
Kami berjalan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Hati saya berdebar sebab, membawa orang sakit di melewati Shelter Rawa Denok 1 adalah hal yang sangat saya takutkan. Kami yang sehat harus terus menjaga yang sakit. Hujan malam itu masih mengguyur.

Tak jauh sebelum melewati Shelter Rawa Denok 1, yang sedang sakit tiba-tiba terjatuh dan muntah air. Kami beristirahat sejenak di jalur sambil mengkondisikan lagi suasana yang panik. Pukul 20.13 kami lanjut berjalan turun dengan hati-hati. Kali ini yang sakit di back-up depan-belakang, kiri-kanan. Alhamdulillah, Shelter Rawa Denok 1 terlewati. Agak sedikit lega hati saya. 

Berjalan perlahan dibawah guyuran hujan, beban di ransel semakin berat membuat kami belajar menahan semuanya. Mulai dari lelah, emosi, dan kantuk. Saat kondisi seperti itu seorang pendaki dituntut bisa berfikir jernih dan tidak panik dalam menghadapi papun yang terjadi. 
" Naik gunung bukan menaklukan puncak melainkan menaklukan diri sendiri. Bukan melawan lelah, emosi dan kantuk tetapi melawan diri sendiri untuk menggenjot mental kita dalam menghadapi kondisi apapun di hutan "
Pukul 21.30, Alhamdulilah Pos Panyacangan sudah nampak. Kami langsung masuk ke dalam bangunan pos. Ada beberapa rombongan pendaki disana. Kami langsung memberikan pertolongan seadanya kepada yang sakit agar tetap pada kondisi yang bagus. Kami berikan air hangat dan minyak angin untuk menjaga panas tubuhnya.

Saya dan teman-teman mendirikan tenda darurat untuk istirahat yang sakit agar terhindar dari cuaca yang dingin. Jarak dari Panyacangan menuju Cibodas hanya sekitar 2,5 km, Kira-kira kalau turun lari, saya bisa tembus 30 menit - 1 jam. Jadi posisi saat ini kami masih aman karena dekat dengan Pos Pemeriksaan Cibodas.

Hujan masih belum berhenti sedari tadi. Waktu menunjukan pukul 22.30. Ada 3 orang yang duluan turun sepertinya sudah sampai, mereka diwakili oleh Hilmi. Kemudian kami mengatur 5 orang untuk turun duluan dijaga oleh Imam. Mereka saya suruh turun untuk melapor ke petugas dan meminta extend jadwal waktu keluar pendakian. Saya juga mengkondisikan 2 orang yang turun duluan untuk naik lagi membawa logistik.

Saya di tenda ada 5 orang, 3 cewek dan 2 cowok. Saya kali ini bertugas menjaga kondisi dan kehangatan tubuh yang sakit tersebut. Cuaca di luar masih hujan dan dingin sekali. Saya menyalakan kompor di dalam tenda agar kami semua terasa hangat.

Kondisi mulai hangat tapi sedikit mencekam yang saya rasakan. Saya lumayan banyak tahu seluk beluk jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango. Hampir satu jam setengah tak ada tanda-tanda pendaki yang lewat. Terdengar beberapa ada suara pendaki, namun langsung turun tidak mampir di pos.

Kami sudah dilanda kantuk yang sangat hebat, nampak teman-teman di dalam tenda tertidur dalam posisi duduk, saya pun demikian.


Senin, 22 Desember 2014

Pukul 00.45, Imam dan hilmi datang kembali membawa logistik yang ia beli di bawah. Bungkusan itu berisi roti dan mie instan. Kami langsung masak mie instan untuk menghangatkan tubuh kami. Setelah perut terisi, dan yang sakit juga mulai agak pulih, kami langsung bersiap turun. Tenda saya packing asal-asalan sebab sudah dekat dalam pikiran saya.

Pukul 01.30 kami meninggalkan Pos Panyacangan. Kami jalan perlahan dengan pasti walau lambat. Jembatan Rawa Gayonggong terlewati, Pos Telaga Biru juga terlewati. Kekhawatiran dalam diri saya mulai datang lagi kala kami akan sampai di Pos Tarengtong (pos pertama sebelah kiri jika mendaki dari jalur Cibodas).

Kaki tetap melangkah, hati tak putus berdoa. Kami lewati dengan pasti. Namun, sebelum shelter, yang sakit muntah air lagi dan terlihat lemas. Kami langsung bergerak mengobati dengan air hangat dan menggosok perutnya dengan minyak angin.

Jalur dan trek sudah mulai landai menurun, kami lanjutkan perjalanan kembali. Hingga akhirnya kami tiba di Pos Pemeriksaan Cibodas pukul 02.50. Alhamdulillah, semua selamat tanpa kekurangan satu hal pun, walau ada beberapa kejadian tersebut.

Kami langsung menuju warung di pelataran parkir Cibodas dan langsung bersih-bersih sambil beristirahat. Hingga pagi hari kami masih di warung tersebut. Pukul 06.30 baru lah kami meninggalkan Cibodas menuju Jakarta.

Pukul 10.30 kami tiba di Jakarta. Kami berpisah di terminal Kampung Rambutan, saya langsung menuju rumah dan tercatat pukul 12.20 saya sampai di rumah tercinta. Alhamdulillah.

Terima kasih sudah menyimak. Sampai jumpa di Pendakian si Janu lainnya!! Salam Lestari !!
 
cartenz adventure store 
 
Thanks To: 
  •  Allah SWT,
  • Orang Tua yang selalu mendoakan anakmu ini di rumah,
  • Rombongan kawan-kawan (Imam, Hilmi, Omen, Debby, Wulan, Dita, Dede, Ponny, Satrio, Doni, ferly, dan Dewi),
  • Cozmed atas gear-nya, 
  • Gunung Pangrango yang menyambut ku dengan hangat di puncak Mu
Catatan :
  • Jaga kelestarian alam Gunung Pangrango,
  • Bawa SAMPAH turun kembali,
  • Jangan berbuat Vandal biarkan alam Pangrango tetap terjaga,
  • Jangan menebang pohon hanya untuk api unggun (kalau mau hangat jangan ke gunung, kepantai aja sana!!), Jangan membuka lahan untuk mendirikan tenda. 
  • Pendaki gunung harus saling menghargai dengan pendaki lain atau alam sekitarnya. Jangan berteriak-teriak di malam hari (menggangu pendaki yang beristirahat dan binatang-binatang yang ada disana).
Gallery : 

Foto Keluarga
Lembah Mandalawangi

Edelweiss Nasibmu Kini !!

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua “hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
GIE

Tambahkan Komentar

10 comments:

  1. Ikutan yuk bang... hehhehe
    saya juga lagi mau buat acara nih bang di Surya Kencana.. mulungin sampah bareng, trus ada pertunjukan teaternya juga bang di tengah lembah... hehehe
    ikut yuk bang----->http://thenaekgunungs.blogspot.com/2014/10/hey-nature-1.html - See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2013/09/pendakian-gunung-gede-2958mdpl-edisi.html?showComment=1424182191964#c936838343055798643

    ReplyDelete
  2. Ah senang nya banyak gadis berkerudung naik gunung :-) #dikeplak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo ikutan mas siapa tau bisa kenal gadis berkerudung. haha

      Delete
  3. Luar biasa pengalamannya mas terimakasih sudah mau berbagi Tuhan memberkati, indonesia it's not perfect but indonesia it's awesome ( Thanks God I'm Indonesian)

    http://berduakelilingindonesia.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mas. saya sudah berkunjung ke blog mas

      Delete
  4. Waw pengen banget ke sini. Terimakasih pengalamannya. Kata temen, butuh 6 jam ke puncak. Setelah aku baca kok lama sekali .-. Gan, tanya dong Edelwiess di lembah mandalawangi, surya kencana, papandayan mana yg paling bagus?

    ReplyDelete
    Replies
    1. 6 jam?? hebat juga temennya. . pangrango lumayan jauh normalnya 10-12 jam buat yg biasa. kalo atlit mountain running 5-7 jam.

      edelweis semua bagus kok karena tempatnya masih sama yaitu jawa barat. tp yg masih agak sedikit banyak ya di suryakencana walau ga sebanyak dulu. sudah banyak yg rusak edelweisnya.

      Delete
  5. Itu lembahnya di puncak gunung atau lereng mas Janu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. posisi di lereng mas. namanya juga lembah pasti dibawah..hehe

      Delete