Berawal dari kegalauan dua orang pemuda untuk menghabiskan waktu akhir pekan. Saya dan Dwi Pare (namanya tak asing di web ini ) merencanakan sebuah pendakian pada awalnya, namun melihat cuaca yang masih saja terlihat kurang bagus untuk mendaki. Kami ingin mencoba sesuatu yang sedikit berbeda. Akhirnya kami memutuskan untuk merencanakan perjalanan dengan Scooter tua milik kami lalu mencari tempat sejuk untuk sekedar kemping ceria. Kami ingin mencoba sesuatu yang sedikit berbeda.
Tercetus beberapa ide tempat untuk kemping mulai dari Situ Gunung, Cidahu, Gunung Bunder sampai Sukamantri. Akhirnya kami memilih untuk mencoba berangkat ke Bumi Perkemahan Sukamantri.
Jumat, 30 Januari 2015
Perlengkapan kemping sudah kami siapkan dengan matang, begitu pula motor scooter kesayangan sudah kami periksa dengan baik. Awalnya saya berangkat berdua saja, namun Rizal dan Dede Jadul juga ikut bergabung dengan kami. Total kami berangkat 4 orang dengan 3 scooter Vespa. Hanya ada 3 scooter Vespa sebab milik Dwi Pare sedang di restorasi.
Pukul 23.30 dari kediaman saya di Pondok Aren kami mulai memanaskan motor yang legendaris tersebut. Dengan diawali doa kami mulai memutar tuas gas dengan perlahan namun pasti. Malam yang cerah serta angin yang semilir menemani perjalanan kami.
Sabtu, 31 Januari 2015
Sampai di daerah Ciputat kami berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar. Setelah semua terisi full, kami melanjutkan perjalanan. Kami berjalan dengan kecepatan 60-80 km/jam tak ada halangan yang begitu berarti.
Pukul 01.15 kami sampai di daerah pertigaan Semplak Bogor. Disana kami berhenti sejenak untuk mendinginkan mesin, maklum motor ini tua belum ada teknologi radiator di mesinnya. Disana juga kami membuka google map untuk melihat jalur terdekat menuju Bumi Perkemahan Sukamantri. Sebelumnya kami belum pernah ada yang kesana jadi kami sedikit meraba jalan.
Pukul 01.30 kami lanjutkan perjalanan melewati daerah Gunung Batu ke arah Ciomas Bogor. Perjalanan kami santai sambil menikmati sejuknya malam Kota Bogor. Tidak beberapa lama kami tiba di pertigaan jalan masuk Bumi Perkemahan Sukamantri. Disana kami beristirahat sejenak sambil belanja logistik di sebuah warung.
Saat beristirahat, kami di beri tahu oleh seorang bapak tua, bahwa jalan yang paling bagus untuk menuju Bumi Perkemahan Sukamantri ke arah kiri. Setelah setengah jam beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Sesuai instruksi bapak tua tadi kami memilih jalan ke kiri.
Jalanan agak sedikit menurun melalui permukiman penduduk. Sekitar 2 km berjalan kami melihat plang ke kanan menuju kesana, kami langsung mengambil arah kanan menanjak. Setelah belok kanan kondisi jalanan sedikit rusak berbatu dan menanjak. Sekitar 100 meter jalanan sedikit rusak, kami bertemu jalanan yang benar-benar rusak berbatu dengan kebun dan alang-alang di kiri-kanan jalan.
Sekitar 2 km berjalan kami bertemu pertigaan jalanan rusak dan aspal. Disana ada warung yang tutup. Kami berhenti sejenak sambil mendinginkan motor yang sudah bekerja keras. Disana juga ada plang menuju Bumi Perkemahan Sukamantri, tercatat di plang tersebut 5 km lagi. Namun sepertinya tetap melewati jalanan rusak tersebut.
Pukul 02.30 kami melanjutkan perjalanan kembali, jalanan masih saja rusak berbatu dan menanjak. Sempat tersirat dalam benak untuk kembali turun, sebab kami kasihan sekali dengan motor vespa kami yang rata-rata umurnya melebihi kami. Sepuluh menit berjalan kami masih menemui beberapa rumah warga yang terpencil. Hingga akhirnya kami menemui sebuah pos jaga. Kami tidak tahu itu pos apa, tapi jalanan diportal, namun masih bisa masuk untuk seukuran motor.
Disana kami berhenti sejenak untuk mengecek barangkali ada orang yang bisa kami tanyakan. Sepi sekali disana hanya ada seekor anjing yang berjaga. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Pukul 03.15 motor kami terhenti disebuah tempat seperti penambangan pasir. Disana jalanan semakin parah saja, batuan split dan batuan kali bercampur pasir dan tentunya menanjak pula. Motor kami mulai sedikit berat menanjak di jalanan seperti ini. Ban depan motor saya sempat beberapa kali terangkat dan oleng. Saya memutuskan untuk berhenti di gubuk milik penambang pasir.
Disana kami duduk dan mencari solusi untuk menghadapi kondisi jalan yang kacau. Sempat berfikir untuk menunggu pagi di tempat itu dan melanjutkannya saat matahari sudah bersinar. Namun tempat tersebut sepertinya tidak bagus, terasa mencekam dan angker.
Akhirnya kami putuskan untuk turun kembali dan berubah tujuan. Kami memutuskan untuk menuju Curug Nangka yang letaknya tidak jauh dari sana. Kami sangat sayang dengan scooter Vespa kami jadi tidak tega jika rusak.
Perjalanan turun lebih cepat dari pada naik sebab kami coba jalan aspal yang di pertigaan tadi, ternyata lebih cepat dan bagus kondisinya. Disana kita berfikir sepertinya kita dibohongi bapak tua tadi. Kami terus berjalan kadang sedikit bertanya pada warga di jalan, sebab kami lupa jalan masuk menuju Curug Nangka. Setelah satu jam berjalan santai akhirnya kami sampai di Curug Nangka. Pagi itu pukul 04.30.
Disana ada ibu pemilik warung yang sudah bangun akhirnya kami masuk dan numpang untuk sekedar merebahkan badan. Sebab badan kami terasa kantuk dan pegal menahan stang motor saat di jalan rusak tadi.
Pukul 07.30 kami terbangun dari tidur. Pagi ini kami isi waktu dengan kopi pagi dan sarapan gorengan di warung. Pukul 09.00 cuaca nampak sedikit mendung. Kami pergi menuju Curug Nangka. Berjalan sekitar 15 menit kami menuju curug. Disana 3 tiga curug, yang pertama Curug Kawung, Curug Daon, dan Curug Nangka paling bawahnya. Kami sempatkan untuk sedikit bermain di dinginnya air untuk merendam badan yang lelah dan menghilangkan beban pikiran yang ada larut bersama derasnya air terjun.
![]() |
| Curug Kawung |
![]() |
| Hammock dan Tenda sudah berdiri |
Minggu, 1 Februari 2015
Tengah malam kami terbangun sebab terdengar ramai diluar tenda. Ternyata ada beberapa rombongan keluarga yang baru saja datang untuk kemping juga. Saya yang sudah terlanjur bangun membuat kopi untuk menghangatkan tubuh. Daerah Curug Nangka ini masih dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak jadi sudah berada di ketinggian sehingga sudah terasa dingin.
Pukul 08.00 kami terbangun dari tidur yang nyenyak. Suara gemericik air dan kicauan burung yang merdu membuat pagi ini terasa syahdu. Pagi ini kami langsung membereskan tenda dan semua peralatan. Kami berniat meninggalkan kawasan ini pukul 10.00.
Pukul 09.30 semua barang sudah rapih dan kami bersiap meninggalkan kawasan Curug Nangka. Motor dipanaskan terlebih dahulu, sebab semalaman motor tua ini kedinginan oleh suhu disana. Pukul 10.00 kami mulai berjalan. Cuaca nampak mendung di Kota Hujan ini. Kami melalui rute yang sama dengan pergi. Pukul 11.00 kami tiba di daerah Semplak, hujan deras muluai turun. Kami putuskan untuk berhenti di rumah untuk berteduh sambil makan siang.
Pukul 12.30 hujan masih saja deras, kami masih tetap santai sambil berbincang dengan sang empunya warung yang ternyata pemilik motor Vespa juga. Pukul 13.00 akhirnya kami putuskan untuk memaksakan berjalan sebab hujan tak kunjung berhenti. Parung, Sawangan Depok hingga Ciputat Tangsel, hujan rata tak kunjung berhenti. Alhamdulillah 2 jam perjalanan dari rumah makan tersebut kami tiba di rumah dengan selamat dan basah kuyup. Senang sekali rasanya bisa menyatukan 2 hobi saya, yaitu mengendarai Vespa tua dan menjelajahi alam.
Terima Kasih Sudah Menyimak Catatan Perjalanan Si Janu. Nantikan Catatan Perjalanan Lainnya. Salam Lestari. Salam Mesin Kanan!!
Thanks To:
- Allah SWT
- Orang Tua yang selalu mendoakan anakmu ini dari rumah,
- Rider Scooter Vespa (Dwi Pare, Dede Jadul dan Rizal),
- Cozmed atas gear-nya,
- dan Curug Nangka atas alam dan keindahannya.
1. Perjalanan :
Thanks To:
- Allah SWT,
- Orang Tua yang selalu mendoakan anakmu ini di rumah,
- Rombongan kawan-kawan (Imam, Hilmi, Omen, Debby, Wulan, Dita, Dede, Ponny, Satrio, Doni, ferly, dan Dewi),
- Cozmed atas gear-nya,
- Gunung Pangrango yang menyambut ku dengan hangat di puncak Mu
Catatan :
- Etape 1 : Pondok Aren - Ciputat (isi bensin)
- Etape 2 : Ciputat - Kemang / Semplak, Kab. Bogor (istirahat)
- Etape 3 : Kemang / Semplak - Pertigaan Ciapus-Taman Sari (istirahat)
- Etape 4 : Pertigaan Ciapus-Taman Sari - Curug Nangka
3. Pondok Aren - Curug Nangka +/- 85-100 KM
Para Pelaku :
![]() |
| Si Janu |
![]() |
| Rizal |
![]() |
| Dwi Pare |
![]() |
| Dede Jadul |
" bahagia itu sederhana, cuma butuh ransel, vespa, dan alam terbuka " Januar Arifin





Saturday, 21 February 2015











Kalimat pamungkasnya yang paling menarik.... "
ReplyDelete" bahagia itu sederhana, cuma butuh ransel, vespa, dan alam terbuka " Januar Arifin
qoutes of the day mas :)
DeletePingin banget beli hammock buat leyeh2 cakep kalo lagi liburan :-)
ReplyDeletecakep mas murah lagi. ga sampe 250an
DeleteWah syoknya dapat pegi camping ramai2 dalam hutan...
ReplyDeletedapat nikmati permandangan dan udara yang segar...
#done follow ur blog dan insta (=
saya sudah follback yaa. terima kasih kunjungannya...
Delete