Saya tertarik mengulasnya setelah menonton sebuah acara televisi malam ini.
Dijelaskan secara implisit, bahwa mitos-mitos yang terdapat di Gunung Merapi, seperti dilarang menebang pohon di area gunung merapi, berburu binatang di hutan, tidak boleh mencari rumput atau kayu bakar dan lain sebagainya. Sesungguhnya larangan-larangan itu tersimpan kearifan ekologi penduduk terhadap lingkungan alam gunung Merapi, dan selalu berhubungan dengan pelestarian ekosistem.
Kearifan disini diartikan sebagai tindakan penduduk setempat dalam melangsungkan kehidupan mereka yang selaras dengan lingkungan, dan merupakan manifestasi sistem kepercayaan yang mereka anut. Minsarwati menggambarkan bahwa gunung Merapi, yang secara lahir merupakan sebuah gunung berapi aktif, merupakan sebuah kerajaan gaib yang kasat mata, yang mempunyai hubungan dengan Keraton Surakarta, Pantai Selatan, Gunung Lawu, dan Kayangan Dlepih.
Kearifan disini diartikan sebagai tindakan penduduk setempat dalam melangsungkan kehidupan mereka yang selaras dengan lingkungan, dan merupakan manifestasi sistem kepercayaan yang mereka anut. Minsarwati menggambarkan bahwa gunung Merapi, yang secara lahir merupakan sebuah gunung berapi aktif, merupakan sebuah kerajaan gaib yang kasat mata, yang mempunyai hubungan dengan Keraton Surakarta, Pantai Selatan, Gunung Lawu, dan Kayangan Dlepih.
Diceritakan bahwa gunung Merapi bagi masyarakatnya merupakan sebuah gunung wingit, sakral, yang harus selalu dihormati, dengan cara pemberian sesajen atau ritual-ritual lainnya. Hal ini dimaksudkan agar penguasa gunung Merapi, tidak murka kepada mereka dan mau memberikan semacam dorongan agar membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.(Minsarwati, Wisnu. 2002. Mitos Merapi dan Kearifan Ekologi. Yogyakarta. Kreasi Wacana).
Yah, memang itulah mitos masyarakat Jawa khususnya sekitar Gunung Merapi. Memang mitos tersebut mengajarkan masyarakat sekitar Gunung Merapi untuk hidup berdampingan secara serasi dengan alam. Sehingga alam pun akan memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Sungguh kearifan yang sangat luar biasa yang tercipta disana.
Namun, saat Gunung Merapi meletus pada selasa sore 26 oktober 2010. Adakah kaitannya dengan mitos tersebut????. Apakah ada segelintir orang yang melanggar mitos tersebut????. Inilah pertanyaan yang masih ada hingga kini dalam hati saya.
Dalam ilmu pengetahuan alam, Gunung Merapi itu meletus disebabkan oleh lempeng-lempeng bumi saling berdesakan dan magma di perut bumi pun mendesak serta mendorong permukaan bumi dan memicu aktivitas geologis, vulkanik, dan tektonik. Hal tersebut membuat tekanan menjadi lebih besar dan dapat mendesak magma keluar (erupsi) menjadi lava.
Gunung Merapi merupakan gunung yang sangat aktif sekali terhitung sejak tahun 1548, gunung ini telah meletus sebanyak 68 kali. Setiap letusan gunung ini membawa berkah juga yaitu kesuburan tanah bagi warga sekitar.(wikipedia)
Memang sangat membingungkan memilih antar mitos masyarakat atau pengetahuan alam. Dalam mitos memang benar bahwa manusia itu hidup harus serasi dengan alam agar tercipta sebuah keseimbangan atau kata lain hidup dengan harmonis. Namun, kita juga tidak dapat menyangkal pula bahwa ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dikehidupan manusia. Ilmu pengetahuan inilah yang membuat manusia berfikir secara rasional dan meninggalkan mitos-mitos yang melekat di masyarakat Indonesia. Maka dari itu, tergantung dari manakah kita menyimpulkan kejadian ini.
"Alam adalah titipan Tuhan kawan-kawan, janganlah merusaknya, klo merusak alam, berarti anda merusak kehidupan manusia berikutnya !!!!! Dalam arti lain bukan makhluk gaib penunggu yang murka, Tuhan yang akan murka kepada kita. !!!"
Salam Lestari Kawan. .





Thursday, 28 October 2010
turut berduka untuk sahabat dan saudara kita disana.
ReplyDelete