Januar Arifin

Menguak Sejarah antara Jakarta-Bandung

Posted by Januar arifin on Wednesday, 3 November 2010

Jalur yang saya lalui
Perjalanan antara Jakarta-Bandung merupakan suatu kebiasaan saya dua minggu atau sebulan sekali. Dengan kendaraan roda dua saya yang selalu setia menemani menembus daerah yang sudah jarang akan kendaraan roda empat, karena mereka lebih memilih melewati Tol Cipularang. Kini rata-rata hanya motor, truk dan bus saja yang melewati jalan raya ini.

Mengendarai kendaraan roda dua memang mempunyai nilai tantangan dan seni tersendiri. Adrenalin terpacu saat berhadapan dengan truk dan bus yang seakan enggan untuk mengalah. Bagi saya mengendarai motor jarak jauh adalah sebuah kepuasan batin, karena selain dapat menikmati udara sejuk kita juga dapat lebih mengenal budaya masyarakat yang berada di sekitar jalan yang dilewati.

Tangerang-Jakarta-Depok-Bogor-Puncak-Cianjur-Bandung, Itulah kota-kota yang saya biasa lewati setiap perjalanan pulang atau berangkat. Banyak sejarah yang tersimpan dalam jalur jalan raya ini.
Sejarah utama jalan ini adalah pada tahun 1808 seorang jendral besar Hindia-Belanda yaitu, Herman Williem Daendels. Jalan raya ini termasuk bagian dalam proyek besar Beliau dalam pembangunan di pulau Jawa. Dibangun hanya dalam jangka waktu setahun dengan menggunakan tenaga kerja rakyat Indonesia dan menerapkan sistem Kerja Paksa. 

Kerja Paksa
Proyek besar tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg). Jalan raya yang terbentang dari Anyer (Batavia) sampai Panarukan (Jawa Timur), dengan panjang kurang lebih 1000 km.Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) adalah jalan raya terpanjang yang menghubungkan kota-kota berikut ini : Anyer-Serang-Tangerang-Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung-Sumedang-Cirebon-Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Kendal-Semarang-Demak-Kudus-Rembang-Tuban-Gresik-Surabaya- Sidoarjo-Pasuruan-Probolinggo-Panarukan.

Selain sejarah  tersebut banyak hal yang sangat menarik ada di kota-kota yang saya kerap lewati. Seperti daerah Bogor. Daerah tersebut merupakan tempat peristirahatan Jendral-jendral besar Belanda pada saat itu, oleh karena itu banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah disana. Seperti; Kebun Raya Bogor, Museum Zoologi, dan Istana Presiden Bogor.

Istana Bogor
Museum Zoologi

Puncak, merupakan jalur yang paling indah pemandangan alamnya, diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Udara sejuk jauh dari polusi membuat tempat ini menjadi daerah favorit keluarga untuk berwisata. Tempat wisata di Puncak diantaranya; Taman Bunga Nusantara, Kebun Raya Cibodas, Taman Wisata Matahari, Tea Walk Gunung Mas dan masih banyak yang lainya.

Jalan Raya Puncak
Kemudian perjalanan akan melewati Jalan Raya Bandung-Cianjur hingga sampai ke daerah Cipatat Kab. Bandung Barat. Di daerah Gunung Masigit kita akan disuguhkan pemandangan batuan karst/kapur yang menjulang indah. Namun sangat disayangkan, eksploitasi tambang batuan kapur sangat besar sehingga terlihat rusak di beberapa tempat. Penambangan tersebut menggunakan bahan peledak sehingga benar-benar merusak alam, mungkin 10 atau 20 tahun lagi daerah karst ini akan punah. Menurut pakar sejarah kawasan ini 23 juta tahun yang lalu merupakan daerah di bawah laut, yang memanjang membentuk The Great Barrier Reef dari Rajamandala sampai Pelabuhan Ratu Sukabumi. Sehingga kawasan ini mengandung banyak batu-batuan koral.  
Karst Rajamandala

Perjalanan semua ini membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam dengan kecepatan 60km/jam. Jalan santai menikmati alam dan juga belajar tenteng sejarah dari setiap tempat. Memacu adrenalin dan menambah pengetahuan kita. 

Djhanu bikers tobat. 

Yang selalu menemani dalam perjalanan









Tambahkan Komentar

Berikan Komentar Anda: