Januar Arifin

Perjalanan Double S " Part I "

Posted by Januar arifin on Wednesday, 9 February 2011


Gunung Sindoro merupakan gunung berapi aktif. Dengan ketinggian 3153mdpl, gunung ini merupakan gunung favorit para pendaki dalam melakukan ekspedisi Triple S (Slamet, Sindoro, Sumbing). Gunung Sindoro bersebelahan dengan gunung Sumbing yang berdiri kokoh dengan bentuk yang sempurna. Pos pendakian gunung Sindoro berada di desa Kledung Temanggung Jawa Tengah.

Pendakian kali ini saya ditemani oleh tiga teman saya, yaitu; Pare, Atem, Dede. Seperti biasa persiapan dan packing pendakian dilakukan di rumah saya sebagai basecamp sementara Arimapala South Tangerang. Tanggal 30 Januari 2011 sore kami berangkat dari Pondok Aren menuju Stasiun Senen. Kami berempat berangkat menggunakan Kereta Api Progo dengan jurusan Lempuyangan Jogja. Kemudian kami turun di Stasiun Purwokerto Jawa Tengah, lalu kami menuju terminal untuk menggunakan bus jurusan Semarang atau Wonosobo dan turun di desa Kledung.
Kami tiba di desa Kledung tanggal 31 Januari 2011 pukul 09.37 langsung menuju basecamp gunung Sindoro. Basecamp Sindoro yang juga merupakan markas Tim SAR ini menyediakan tempat untuk menginap, kamar mandi, makanan-minuman, dan tempat penjualan souvenir. Agar tenaga kembali pulih, istirahat sejenak makan dan tidur pun kami lakukan karena perjalanan di kereta yang melelahkan.

Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan kami disana. Kabut serta angin kencang membuat kita lumayan menggigil. 

Pukul 12.30 ba’da dzuhur, kami siap-siap untuk berangkat muncak walaupun cuaca sedang gerimis. Gerimis di siang itu terus menyertai perjalanan kami. Trek pertama melewati ladang penduduk sejauh 2km yang sangat membosankan serta melelahkan, walaupun jalurnya baik dan landai tetapi cukup menguras tenaga. Jujur kami sangat buta tentang trek dan jalur pendakian gunung Sindoro ini, namun, berbekal stiker yang ada petanya dan berbekal kompas, kami terus melangkah. 

Satu Jam kami berjalan, kami tiba di Pos I (1600mdpl) tepatnya pukul 13.30. Di pos ini kami istirahat melihat keindahan alam sambil membuka sebungkus rokok. Kemudian kami mulai berjalan lagi menuju Pos II, jangan mengambil jalan lurus karena buntu. Kita harus mendaki dan menuruni 2 punggungan gunung. Jalur bergeser ke punggungan yang lain melewati tiga buah jembatan kayu. Hutan pinus dan lamtoro yang cukup lebat membuat perjalanan kami menjadi sejuk. Cuaca pada hari itu cepat sekali berubah, kadang ada sinar matahari, kadang hujan tiba-tiba datang. 

Pos II mempunyai ketinggian 2120mdpl telah didepan mata, kami hanya menghabiskan waktu satu jam lebiih untuk mencapai tempat ini. Cuaca ternyata makin buruk, hujan sangat lebat disertai petir yang berkilauan disamping kami tidak menyurutkan semangat juang kami. 

Untuk mencapai Pos III dengan ketinggian 2530mdpl kami melewati medan yang terbuka, hujan yang lebat disertai angin sangat terasa sekali menerpa tubuh kita, namun kita tetap melangkah di sela-sela batuan yang curam. Trek menanjak sangat terasa dikaki yang beku akibat kedinginan. Sampai di Pos III pukul 17.10, dan cuaca pun enggan berubah. Di daerah terbuka ini sangat terasa dingin sekali akibat hujan angin yang terjadi. Kami bergegas mendirikan tenda untuk menunda perjalanan akibat cuaca yang tidak bersahabat saat itu. 

Di Pos III ini kami beristirahat dan mengisi perut untuk menunggu esok pagi yang cerah. Malam hari hujan pun reda, bintang bermunculan indah sekali, dan desa-desa di lereng gunung Sumbing sangat nyata terlihat. Disini saya sambil menghisap sebatang rokok dan segelas kopi merasa tenang dan damai sekali, hingga akhirnya saya terlelap untuk menyambut pagi yang cerah.
Pos 3
Ditengah lelap saya tertidur saya terbangun oleh udara yang dingin sekali, kemudian saya mengambil senter untuk melihat keadaan sekitar dan ternyata tenda pasak kami yang berada didepan hancur diterpa angin. Kami semua terbangun dari tidur, namun tidak ada yg berani membetulkan tenda karena aura mistis kami rasakan begitu saat tenda hancur. Kami berempat tetap di dalam tenda doom sambil meminum kopi dan berharap barang-barang kami yang berada di tenda pasak tidak hilang dibawa maling atau satwa liar. 

Pagi hari yang cerah tiba, kami keluar tenda lalu memandang kearah gunung Sumbing yang indah tersaji didepan mata. Terlihat dikejauhan gunung Slamet, Merbabu, Merapi, dan Ciremei. Kami semua memuji kebesaran sang pencipta yang menciptakan alam raya ini dengan begitu indahnya. Setelah selesai mengagumi keindahan dan berfoto ria, kami mulai memasak makanan untuk mengisi tenaga. Sebungkus ikan teri, dan sekaleng kornet, beserta sambel pecel merupakan menu pagi hari ini. Lalu setelah selesai makan kami membersihkan alat dan packing lagi untuk mencapai puncak Sindoro.

Menuju puncak bayangan ke dua yang terjal dengan medan yang berbatu sunguh sangat melelahkan, apalagi diterpa angin yang sangat kencang sekali, beruntung pohon-pohon lamtoro membuat angin rada berkurang. Lintasan berikutnya melewati medan berbatu dengan tanaman edelweis. Sesampainya di puncak bayangan kedua setelah melewati hutan edelweis, medan kembali terbuka dan harus melintasi batu-batu besar. Puncak gunung yang sesunguhnya masih belum nampak karena tertutup pandangan oleh pohon-pohon edelweis.

Hujan lebat disertai petir terjadi saat kami mulai mendaki puncak bayangan ke tiga. Kami hampir saja menyerah akan keadaan cuaca yang sangat buruk saat itu, namun, rasa ingin tahu kita akan puncak Sindoro sangat tinggi membuat kita terus melangkah walau berat. Dengan perjuangan yang sangat keras dan rada nekat kami akhirnya mencapai puncak Sindoro. 

Puncak gunung Sindoro tidak terlalu luas tetapi melingkar mengelilingi kawah. Banyak terdapat batu-batu besar dan ditumbuhi tanaman edelweis. Kawah gunung Sindoro cukup luas, pendaki dapat turun ke dasar kawah. Di musim penghujan ini  kawah terisi oleh air membentuk danau kawah, sehingga pendaki dapat mandi serta mengambil air bersih dari danau kawah. 

Kami tidak terlalu lama di puncak karena cuaca sangat buruk sekali. Pemandangan pun tidak nampak jelas kelihatan akibat kabut tebal. 

Akhirnya kami bergegas turun lari ke bawah menembus hujan yang sangat lebat. Beberapa kali diantara kami terjatuh karena lintasan yang sangat licin. 5 jam kemudian kami akhirnya sampai di ladang penduduk dan langsung menuju basecamp Sindoro desa Kledung. 

Kami masih sangat penasaran akan keindahan Sindoro saat cuaca cerah, dan kami akan kembali kesana di lain waktu. 

Tidak banyak foto yang dapat diambil, cuaca buruk dan sesuatu yang aneh terjadi pada kamera kami.

Catatan Perjalanan :

Tanggal 30 Januari 2011
Pukul 17.15 - 17.40 : Pondok Aren - Cipulir
Pukul 17.40 - 18.16 : Cipulir - St. Senen
Pukul 18.16 - 21.00 : Istirahat, sholat, makan sambil nunggu kereta
Pukul 21.15 - 04.50 : St. Senen - St. Purwokerto ( K.a Progo )

Tanggal 31 Januari 2011 
Pukul 05.15 - 05.35 : St. Purwokerto - Terminal Purwokerto
Pukul 05.40 - 09.37 : Terminal Purwokerto - Desa Kledung ( basecamp Sindoro )
Pukul 09.40 - 12.30 : Istirahat, sholat, makan
Pukul 12.30 : Berangkat menuju puncak Sindoro
Pukul 13.30 : POS I
Pukul 14.47 : POS II
Pukul 17.10 : POS III ( camp menunggu cuaca cerah )

Tanggal 1 Februari 2011
Pukul 09.30 : Packing siap menuju puncak
Pukul 10.30 : Berangkat menuju puncak
Pukul 12.30 : Padang Edelweis
Pukul 13.20 : Puncak Sindoro ( cuaca buruk cepat turun )
Pukul 13.30 - 17.15 : Puncak Sindoro - Basecamp Sindoro

Tambahkan Komentar

Berikan Komentar Anda: