![]() |
| Jalan Desa Rabak |
Teringat sekitar 4 tahun yang lalu tepatnya 2006 saya mendaki sebuah gunung yang sangat menarik dan masih terlihat alami. Gunung tersebut diberi nama oleh penduduk sekitar yaitu Gunung Suling. Gunung ini terletak di daerah Rumpin Bogor. Gunung yang sangat kental dengan aroma mistik ini memang tidak mempunyai ketinggian yang tinggi, namun untuk mencapai puncaknya dbutuhkan fisik yang baik.
Dengan menggunakan HSX125 saya meluncur dari Jakarta menuju rumah sahabat sekaligus guru saya yang berkediaman tepat di kaki gunung tersebut. Sahabat saya Ust. Rommy adalah salah seorang kuncen gunung tersebut. Dua jam perjalanan dari rumah saya sampai di rumahnya. Saya bermalam di rumahnya untuk melakukan pendakian esok pagi.
Keesokan paginya, kami sarapan nasi uduk untuk mengisi tenaga guna melakukan pendakian tersebut. Berbekal 3 bungkus nasi uduk dan 5 liter air putih kami memulai pendakian. Tanpa memakai sepatu bahkan sendal treking, kami mendaki dengan bertelanjang kaki. Kali ini kami mendaki dengan jumlah 3 orang.
Kami berjalan santai melewati beberapa rumah penduduk di kaki gunung. Keadaan mereka sungguh sangat memperihatinkan karena jauh dari yang namanya hidup layak, mereka tinggal hanya beratapkan kayu-kayu dan tidur bersama ternak mereka seperti babi dan kerbau. Jalur mulai menanjak melewati kebun-kebun pisang sesekali berjumpa dengan para pencari kayu bakar. Perjalanan kami sangat menguras tenaga, tidak ada trek bonus sama sekali. Salah seorang teman saya muntah-muntah dan terlihat pucat wajahnya. "ini adalah pembersihan tubuh sebelum menuju puncak" kata Ust. Rommy.
Satengah pendakian kami memasuki hutan homogen yang ditumbuhi pohon kemenyan (Styrax benzoin). Kami disambut puluhan monyet yang sangat besar sekali. Awalnya saya sangat takut, namun Ust. Rommy berkata "tenang gak pa pa mereka hanya menyambut kita".
Suara tersebut datang dari sebelah barat, saya tidak bisa berbuat apa apa. Hanya berharap orang yang sedang menebang pohon tersebut mendapat teguran dari Allah. Saya mencoba untuk berfoto tetapi entah kenapa kamera handphone dan kamera digital saya tidak bisa dipergunanakan. Hal ini sangat janggal, namun saya memaklumi kearifan mistis tempat ini.
Saya beranjak turun dan menuju Batu Bentang. Batu Bentang merupakan batu cadas yang berada disisi lereng sebelah timur gunung. Batu Bentang yang berarti batu bintang menurut masyarakat sekitar merupakan daerah yang sakral dan mistis. Menurut masyarakat juga di batu ini bila kita berdoa dan memohon kepada Allah akan diijabah karena letak batunya yang tinggi dan tidak ada penghalang untuk berkomunikasi dengan Allah.
Menuju Batu Bentang kita melewati Lawang atau sebuah pintu batu yang sangat sempit sekali. Menurut sahabat saya, kalau niat kita baik walaupun berbadan besar kemungkinan bisa masuk, namun sebaliknya walaupun berbadan kurus tapi berniat jelek kemungkinan tidak akan bisa masuk. Saya sangat takut sekali tidak bisa masuk, akan tetapi Alhamdulillah saya bisa masuk dan berdiri diatas batu tersebut.
Sungguh indah pemandangan dari atas batu tersebut, dari arah utara terlihat sungai Cisadane berkelok-kelok bagaikan ular raksasa. Dari sini juga terlihat beberapa gedung-gedung tinggi di Jakarta. Pantas di sebut Batu Bentang karena bagaikan berdiri diatas bintang dan dapat melihat kemana-mana. Sujud syukur dan doa selalu keluar dari mulut. Hati menangis kala kami berdoa kepada Allah karena kami menyadari betapa kecilnya kami sebagai manusia.
Saya berusaha mengambil gambar lagi, namun masih tetap tidak bisa diabadikan oleh kamera. Saya hanya bisa mengabadikannya didalam hati saja untuk diceritakan ke anak cucu.
Tiga puluh menit kami berlimpahan air mata, kami turun dan bertemu beberapa peziarah yang sedang berziarah. Memang gunung ini banyak sekali makam-makam yang sangat keramat. Saya turun membawa sebuah ranting menyan dan batu kapur sebagai kenang-kenangan.
Sampai di bawah sudah pukul 16.00 sore. kami beristirahat dan bercerita tentang sejarah gunung tersebut.
Sejarah Gunung :
Suling (suruh eling) : yang artinya manusia harus selalu ingat bahwa di dunia hanya sementara, dan harus melakukan kewajiban sebagai manusia.
Menurut masyarakat sekitar, sejarah utamanya adalah berawal dari seorang nenek tua yang mempunyai penyakit kulit yang sangat bau. Akhirnya nenek tersebut dibuang di gunung ini oleh keluarganya karena keluarganya tidak mau menanggung malu karena penyakit nenek tersebut. Nenek tersebut akhirnya tinggal di gunung sendiri hingga suatu saat beliau ditemani seekor macan, dan macan tersebut menjilati tubuh nenek tersebut hingga sembuh dari penyakit kulitnya. Macan tersebut adalah jelmaan dari jin, hingga mereka akhirnya kawin dan menetap di gunung tersebut.
Kemistikan dan kealamian gunung ini mulai memudar oleh tangan jahil manusia yang ingin memuaskan nafsu pribadinya masing-masing. Penebangan liar, penambangan batuan kapur yang berlebihan memakai bahan peledak, dan penambangan pasir membuat daerah ini begitu rusak. Mungkin 10 tahun lagi daerah Desa Rabak menjadi sebuah daerah gersang dan merupakan bahan terjadinya bencana.
"Jagalah hutan kita teman, supaya anak cucu kita mengenal yang namanya hutan. Pembangunan harusnya memperhatikan sebuah arti kehidupan setelahnya".





Sunday, 28 November 2010


selamat siang
ReplyDeletesiang gan
DeleteHalo bang Januar... Kalo dari Jakarta lewat mana ya untuk bisa mencapai gunung Suling? Kebetulan saya udah pernah ke gunung Munara. Apa lokasinya deket gunung Munara? Terima kasih sebelumnya :)
ReplyDeleteiya bener lokasinya deket gunung munara kok. di desa rabak. sekarang saya udah lama gak kesana dan denger2 sudah dijadikan wisata supranatural. disana ada tempat kramat katayanya. padahal dulu belum ada
DeleteOk bang Januar, terima kasih ya untuk informasinya...
Deletehallo bang januar saya mau tanya kalau gunung munara masuk wilayah mana yah.terima kasih
ReplyDeletemasuk Kab. Bogor tepatnya di Rumpin
DeleteUdah lama Ъќ ksana lagi,,nyok kita kesana,,sekalian silaturahmi
ReplyDelete