Januar Arifin

Mendaki Gunung dan Karakter Sifat Manusia

Posted by Januar arifin on Tuesday, 20 March 2012

di Puncak Slamet 2011

Jika kau ingin tahu lebih jelas mengenai sifat asli orang-orang dekatmu, ajaklah ia mendaki gunung. Di atas sana, kau akan menemukan bahwa kau tidak bisa menyembunyikan karakter aslimu. Kau akan menjadi dirimu sendiri, sepenuhnya.

Jika egois, maka di atas sana kau akan egois.
Jika penakut, maka di atas sana kau pun akan banyak diam. 
Jika kau pengeluh, maka kau tidak akan berhenti mengeluh sepanjang perjalanan.

Dari situlah kita akan semakin tahu kekurangan dan kelebihan diri masing-masing, dan kemudian kita bisa saling introspeksi diri.

Ya benar, mendaki gunung tak jauh berbeda dengan kehidupan. Kadang kita melewati tanjakan yang terjal, hingga kita hampir-hampir menyerah, terkadang juga kita menyusuri jalanan di tepi jurang, harus hati-hati dalam melangkah karena jika tidak berhati-hati bisa terpeleset. Ketika terpeleset mampukah kita melanjutkan perjalanan, atau memilih mundur dan turun untuk selanjutnya pulang.

Terkadang melewati turunan yang curam, terkadang hanya padang ilalang datar ratusan meter. Terkadang harus berhenti untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang.

Seperti halnya hidup, ketika menempuh perjalanan kita banyak mengeluh karena capek atau menikmati saja pemandangan sekitar. Itu adalah pilihan. Dengan jalur yang sama, beban yang sama, sikap pendaki satu dengan yang lain tentu akan berbeda. Beratnya beban di punggung adalah bekal kita. Tidak murah memang segala bekal kita namun sangat sepadan dengan apa yang akan kita nikmati selama mendaki gunung.

Sesekali kita membutuhkan orang lain untuk berpegangan ketika melewati titian. Terkadang kita harus mempercayakan nyawa kita kepada teman kita ketika kita perlu memanjat bagian gunung berupa tebing yang curam. Sesekali kita membutuhkan teman kita untuk memasang tenda. Sesekali kita membantu merawat teman yang sakit atau cidera dalam pendakian. Kadang kita mebawa bekal yang “wah”, chicken nugget, baso, sayuran impor, sosis, jeruk mandarin, minuman bersoda dan berwarna, dsb, keril dengan bendera inggris sebagai logo, sleeping bag isi bulu angsa, sepatu trek dengan harga enam digit, dsb. Terkadang pula kita hanya membawa daypack isi raincoat sobek, roti yang sedikit basi, snack ringan dengan beralas kaki sandal jepit empat ribuan rupiah, serta tenda yang berlubang bahkan tanpa tenda.


SETIAP PENDAKI TIDAK SAMA


Di gunung kita hanyalah penumpang, numpang lewat, numpang nge-camp, numpang buang air. Sering terjadi hal-hal di luar akal sehat dan logika ketika kita tidak mengindahkan “tata krama” di gunung. Disadari atau tidak, percaya atau tidak, hukum sebab akibat, karma dan samsara, berlaku sebagaimana kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita mempatkan diri di gunung, terhadap penduduk setempat, terhadap pepohonan, sungai, satwa, dan sebagainya merupakan gambaran bagaimana kita hidup sehari-hari. Bagaimana perilaku seseorang di gunung adalah perilaku sesungguhnya dia di kehidupan sehari-harinya.

Satu pendaki dengan pendaki lain berbeda pandangan mengenai pendakian yang berhasil. Si A berpadnagan pendakian yang berhasil adalah jika dia telah sampai di puncak walau mungkin teman-teman se-timnya tidak berhasil. Si B berpandangan pendakian yang berhasil adalah jika seluruh anggota tim berhasil ke puncak bagaimanapun caranya. Ada yang lebih senang mendaki sendirian, karena berbagai alasan, tidak mau merepotkan orang lain, lebih bebas sendirian, tidak mau direpotkan orang lain, sok berani, dsb. Ada yang lebih suka dalam kelompok kecil karena bisa saling membantu, saling ketergantungan, mudah diatur2, dsb.

Ada yang mendaki dengan menikmati keseluruhan perjalanan dari belanja hingga puncak, hingga turun lagi, ada yang berprinsip bersakit-sakit dahulu (perjalanan berat, bawaan banyak, bekal lebih dari cukup) bersenang-senang kemudian (baru di puncak bisa menikmati naik gunung, keberhasilan katanya, bongkar bekal, dan pesta), ada yang dari awal sampai turun lagi cuma ngeluh karena mendaki gunung karena terpaksa ada yang cuma iseng dan ikut-ikutan , asik ajah….bla..bla..


Filosofi Mendaki Gunung Bagaimana kita mendaki gunung, seperti itulah kita menjalani hidup kita.


Dan di atas sana, di tengah-tengah angin yang menderu-deru, di antara jurang yang berujung kelam, omong kosong kalau kau tidak bicara tentang Tuhan. Kau akan menyadari seberapa kecil dan lemahnya dirimu di tengah hamparan alam semesta.


Tambahkan Komentar

22 comments:

  1. setuju sobat, biasanya dengan rasa lelah dan bisa juga karena lapar, akan keliahatn deh siapa yang egois hehe, saya pernah tuh sewaktu masih muda-mudanya :), sering juga mendaki, dan banyak menghadapi beberapa teman yang sering tidak bisa mengendalikan emosinya :), meski nisa dipahami karena kondisi yang lelah tapi jadi kelihatan deh, sifat sebenarnya gimana...
    Salam kenal sobat

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar sekali sob. kendala fisik masih bisa kita atasi dengan beristirahat, akan tetapi kendala mental lah yg sulit kita atasi. .

      salam kenal juga, sukses selalu

      Delete
  2. mantap, lain kepala lain pikiran, tapi setidaknya akan jadi pembelajaran bagi para pendaki sejati...

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar, setiap pendakian merupakan pelajaran bagi kita. terimakasih telah berkunjung :D

      Delete
  3. eah gan mantap neh info ehhe

    I will always support your blog,,, please support back,,,

    ReplyDelete
  4. jadi inget dlu wktu blm punya buntut gan,setubuh dengn pendapat agan..cara paling gampang untuk mengetahui karakter seseorang,ya diajak naik gunung,jd inget tmen ane di bandung dlu,badan gede,bertato,anting menuhin telinga..tenqah malem keujanan kaki kram ga bs gersk..mewek manggil2 emaknya,hahahaha,thanks gan dah bkin ane jd inget masa lalu..+1 buat artikelnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha iya gan orang sehebat apapun di kota bakal gak pengaruh apa2 di gunung. .

      salam kenal, sukses terus gan .

      Delete
  5. komentar gue bales di blog gue ya jan hahah, udah gue mention di twitter (ribet ye)

    ReplyDelete
    Replies
    1. http://gadisrantau.wordpress.com/dunia-penjelajahan/life-is-never-flat/

      Delete
    2. haha ribet ribet. . makasih udah support dsini wen.

      Delete
  6. bener sob ane juga sering mengalami yang kaya gitu , ketika badan sudah lelah jadi gampang panik dan emosi...hmmm...ternyata banyak pelajaran ya dari mendaki itu...jadi pengen lagi nih...dah 1 tahun ga naik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah alam sob, ketika saat lelah ada saja yg membuat kita semakin semangat.
      ayo sob kita mendaki lagi :D

      Delete
  7. Pengalaman aku wkt mndaki gunung, ketika sudah nyampai puncak badan lemes, kaki pegel2 ditambah lagi udara yg dingin, hmmm... hampir aja aku KO, dan turunnyapun ternyata gk kalah sulitnya, karena kita harus menahan keseimbangan tubuh dan langkah kaki ketika posisi tanah menukik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah kenikmatan di gunung, dari kondisi seperti itulah kita bisa belajar mengenai apapun. .

      Delete
    2. yang saya tahu, semakin tinggi kita berada, semakin besar pula angin yang bertiup menerpa, termasuk kepada diri kita sendiri

      Delete
    3. yah benar sekali kawan. maka dari itulah kita harus mempunyai kekuatan dalam diri kita agar tidak terbawa (angin) tersebut. Walau kita berada di tempat tinggi sebaiknya kitatetap menunduk agar tidak terbawa angin.

      Delete
  8. blognya baguuuus :)
    pengin ndaki juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih
      ayo ayo mendaki bersama kita mencintai alam :D

      Delete
  9. artikel yang menarik min,,,,
    kalo ane punya jempol sepuluh ntar ngacung semua,,,,,
    hihihihihihihihhhihiiihihihih

    ReplyDelete