Januar Arifin

Berkunjung Ke Taman Buru Masigit-Kareumbi

Posted by Januar arifin on Thursday, 14 March 2013

Rutinitas yang menjenuhkan membuat saya ingin rasanya mendaki gunung untuk sekedar menyegarkan pikiran. Namun keterbatasan waktu yang tidak bisa membuat saya pergi mendaki. Setelah googling ada tempat yang luar biasa sepertinya di sekitaran Bandung untuk sekedar kemping-kemping ceria. Berikut catatan perjalanannya :


Sekilas tentang Taman Baru Masigit-Kareumbi :
Kawasan seluas 12.420,70 hektar ini terletak pada area yang menjadi kewenangan tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut. Sebagian besar area berada di Sumedang dan Garut. Secara geografis kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi terletak antara 6° 51′ 31” sampai 7° 00′ 12” Lintang Selatan dan 107° 50′ 30″” sampai 108° 1′ 30” Bujur Timur. Masigit diambil dari Pasir Masigit yang terletak di sebelah timur kawasan. Sedangkan Kareumbi berasal dari gunung Kareumbi di sebelah barat kawasan. Kareumbi juga nampaknya diambil dari nama sebuah pohon, yaitu pohon Kareumbi (Homalanthus populneus) yang semestinya dahulu banyak terdapat di gunung tersebut.
Sabtu, 9 Maret

Siang itu saya berangkat dari Kota Bandung dengan sepeda motor. Kali ini saya berangkat bersama seorang teman yaitu Madhot. Pukul 14.00 kami terus berjalan melewati kepadatan lalu lintas Kota Bandung. Beberapa titik kemacetan di Cibiru dan Cicalengka menjadi hambatan-hambatan kecil bagi kami. Sekitar 2 jam perjalanan kami tiba di jalan Cicalengka. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti di warung untuk membeli logistik seperti mie instan dan rokok.

Perjalanan kami lanjutkan melewati jalan pedesaan dengan trek jalan yang sudah lumayan bagus, namun menanjak. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat indah luar biasa. Lansekap daerah Cicalengka dan lahan pertanian warga yang berbentuk sengkedan menjadi suatu kombinasi yang indah dilihat dari atas sini. Kemudian kami sampai di daerah wisata Curug Cinulang.
Curug atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut air terjun merupakan salah satu objek wisata yang banyak dimiliki dan dinikmati oleh masyarakat Provinsi Jawa Barat. Salah satu Curug indah yang dimiliki Provinsi ini adalah Curug Cinulang. Berlokasi di perbatasan antara Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Sumedang, tepatnya di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat dengan koordinat GPS -6° 57’ 44.00”, +107° 52’ 53.00”.
Kali ini saya tidak sempat bermain di Curug Cinulang sebab waktu sudah teramat sore sekali. Saya hanya melihat curug itu dari kejauhan saja, sekedar menghilangkan rindu pada curug tersebut. Sekitar 1 tahun lebih saya tidak ke curug ini.

Curug Cinulang
Perjalanan kami lanjutkan dengan jalan yang terus menanjak. Pukul 17.00 kami sampai di desa Leuwiliang, Kec. Cicalengka, Kab. Bandung. Saya sempat bertanya pada warga sekitar tentang Taman Buru Masigit-Kareumbi. Ternyata warga sekitar tidak mengenal nama itu, mereka biasa menyebutnya "KW". Jika bertanya KW semua warga mengetahuinya.

Dari desa Leuwiliang tersebut kami masih harus jalan menanjak. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah gapura bertuliskan "selamat datang di Taman Buru Masigit-Kareumbi. Di tempat ini tercatat pukul 17.23. Suasana hutan mulai terasa. Sejuk, nyaman, dan indah yang kami rasakan. Trek jalanan berubah menjadi berbatu (jalan makadam). Sekitar 10 menit dari gapura akhirnya kami tiba di basecamp Taman Buru Masigit-Kareumbi.

Gapura
Di basecamp saya duduk sejenak dan mengobrol dengan penjaga basecamp. Saya banyak bertanya sebab baru pertama kali ke tempat ini. Cuaca mulai gelap dan turun gerimis. Saya harus bergegas menuju tempat nge-camp dan mendirikan tenda. Sore itu saya berniat untuk camp di Area B. Sebab di Area A sedang dipakai rombongan dari Unpad, dan Area C lumayan jauh sedangan hari sudah turun hujan.

Kami berjalan menuju Area Camp B melewati kantin dan beberapa jembatan kayu. Pukul 18.30 kami tiba di Camp Area B. Dalam kondisi gelap dan hujan kami mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri kami mulai dengan memasak makan malam. Malam itu hujan turun sehingga suhu tidak terlalu dingin. Pukul 21.30 hujan berhenti, saya keluar tenda dan mengambil air di tempat penampungan air. Dingin mulai terasa kali ini, 2 buat sentir kami nyalakan sebagai penerangan dan sumber kehangatan.
Walau tak setinggi gunung yang biasa didaki, walau tak setinggi gunung yang pernah disambangi. Namun tempat ini bisa menjadi pelebur rasa rindu ini terhadap alam. Suara binatang-binatang malam terdengar syadu, sumilir angin berhembus terasa sejuk dihati.
Terdengar ada beberapa rombongan di dekat kami, ternyata itu rombongan dari klub sepeda gunung, yang membawa sepeda dan tenda. Kombinasi yang mantap Gunung dan Sepeda. Malam itu kami habiskan waktu dengan kopi dan berbatang rokok hingga kami terlelap diselimuti kabut dingin Kareumbi.

Pagi hari
Pukul 05.30 kami terbangun dari mimpi. Kami langsung memasak nasi untuk sarapan pagi ini. Sarapan pagi ini hanya nasi dan mie instan. Sederhana sekali, namun sangat elit ditempat seperti ini. Setelah sarapan kami berjalan-jalan mengelilingin Taman Konservasi ini. Ternyata ada sebuah tempat yang terdapat "Rumah Pohon". Keren sekali suasananya, rumah pohon di tengah pepohonan yang rimbun. Ada sekitar 5 rumah pohon yang ditengahnya ada tempat untuk membakar api unggun. Ada toilet juga disana, terbuat dari bambu yang membuat tema back to nature semakin kuat. Kabarnya rumah pohon itu disewakan, namun saya tidak tau berapa harga sewanya.

Madhot
Rumah Pohon
Si Janu
Rumah Pohon
Kami kembali menuju tenda dan menuju tempat konservasi Rusa. Hari itu sepertinya tempat rusa sedang ada perbaikan, banyak para pekerja yang sedang memperbaiki disana. Terdapat 5 ekor rusa, 1 jantan dan selebihnya betina. Saya hanya melihat itu, tidak tahu berapa total rusa disana.

Rusa
Setelah puas berkeliling, kami kembali menuju tenda. Saatnya menjemur pakaian-pakaian yang basah kemarin karena hujan. Tak terasa waktu menujukan pukul 09.30 kami langsung packing barang-barang dan tenda. Kemudian kami bersiap untuk pulang hari ini. Perjalanan ini memang terasa singkat sekali, walau begitu saya cukup puas semalam berada dan lebih dekat dengan alam.

"After you have exhausted what there is in business, politics, conviviality, and so on - have found that none of these finally satisfy, or permanently wear - what remains? Nature remains" Walt Whitman
Pukul 10.00 kami tiba di basecamp. Kami sengaja tidak bersih-bersih di basecamp karena berniat ingin mandi di Curug Cinulang nanti. Pukul 10.30 kami berpamitan dengan penjaga basecamp dan meluncur dengan kuda besi kami. Perjalanan pulang menuruni jalanan desa. Sekitar 30 menit kami tiba di Curug Cinulang, luar biasa pengunjung hari itu rame sekali, kami lupa kalau hari ini adalah minggu. Rasa ingin mandi di curug jadi malas. Kami melanjutkan perjalanan pulang. Sempat kami berhenti untuk makan baso tahu di daerah Cicalengka.

Siang ini begitu panas, membuat kami ingin cepat sampai ke kosan. Setelah satu jam setengah kami berjalan dengan kecepatan sedang, akhirnya kami tiba di kosan di daerah Kebon Kalapa. Alhamdulillah. Sampai jumpa diperjalanan Si Janu berikutnya. Salam Lestari!!!!

Gallery Foto :

Jembatan Kayu
Madhot
Si Janu
Papan Informasi
Batas Kabupaten
Pagi yg cerah
Save the trees
Banner selamat datang
Vario teman sejati
Karcis Masuk

Catatan :

- Biaya bensin Bandung-Taman Buru Masigit-Kareumbi = Rp.25.000
- Biaya masuk taman konservasi Rp.15.000
- Di TBMK terdapat 3 Camp Ground, disana tempat yang baik untuk kemping keluarga. Bagus untuk mengenalkan anak pada alam
- Di TBMK terdapat program walipohon, dimana siapa saja kita bisa menjadi donatur untuk membeli bibit pohon dan ditanam disana sebagai program pelestarian hutan
- Bawa kembali sampah yang anda bawa
- Jaga hutan TBMK sebagaimana mestinya
- Jangan berbuat vandal di area TBMK
- Salam lestari, tetaplah gelap dan rimbun hutan Kareumbi!!!.

Thanks to :

- Allah S.W.T
- Madhot sebagai teman seperjalanan
- Orang tua yang selalu mendoakan di rumah
- Taman Buru Masigit-Kareumbi yang menyambutKu dengan pesona luar biasaMU








Tambahkan Komentar

3 comments:

  1. ulasan yg simple namun cukup utk menggungkap tabir ke indahan kawasan wanadri. Foto2 yg ditampilkan juga mmbantuku membuka lmbaran memori khidupan alam pgunungan... keheuningannya..dinginnya hmbusan angin pagi..suara gemeuricik air... suara sasatoan..akh rek diteang minggu ayeuna ge. Thx sobat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih juga sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan saya ini. hayu urang angkat deui om. Kemping2 ceria deui. haha

      Delete
  2. salam kenal kang dari komunitas kami..TB Masigit Kareumbi memang cukup rimbun, sayang kalo terbengkalai dan rusak,semoga tetap lestari.

    ReplyDelete