Januar Arifin

Curug Malela Unforgettable Moment

Posted by Januar arifin on Sunday, 17 March 2013

Berikut perjalanan yang penuh dengan perjuangan menembus batas menggapai Curug Malela. Perjalanan kali ini kembali bersama anak-anak Kosan Nursaid 10 dalam rangka mengisi hari libur Nyepi. Mari simak kisah lengkapnya :
Sekilas tentang Curug Malela :
Curug Malela yang dalam bahasa Indonesia berarti Air Terjun Malela, terletak di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga – Gununghalu Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Hulu sungai berasal dari lereng utara Gunung Kendeng, gunung berapi yang terletak di sebelah barat Ciwidey yang telah mati, mengalir melalui Sungai Cidadap – Gununghalu. Curug Malela ini memiliki ketinggian sekitar 60-70 meter dan mempunyai lima buah jalur air terjun

Curug Malela
Rute Perjalanan -/+ 80km

Selasa, 12 Maret 2013


Curug Malela yang mendapat julukan "The Little Niagara" membuat kami penasaran akan keindahannya. Pagi hari, pukul 07.30 kami berangkat dari kosan di daerah Kebon Kalapa. Kali ini kami berangkat sebanyak 12 orang dengan 6 motor. Setelah berdoa, kami semua berangkat, gas motor ditarik dengan penuh keyakinan. Saya tetap berada di posisi depan sebagai leader dari tim kecil perjalanan ini.
Pagi ini cuaca sedikit mendung, dalam hati selalu berdoa agar tidak turun hujan. Perjalanan lancar hari ini, lalu lintas sedikit lengang, mungkin karena hari libur jadi jarang orang yang beraktifitas. Sekitar 45 menit perjalanan kami sampai di pertigaan arah Padalarang - Batujajar. Disana berhenti sejenak di mini market untuk membeli minuman dan makanan sebagai bekal kami nanti.

Setelah semuanya selesai berbelanja, kami melanjutkan perjalanan. Kondisi jalan menuju Batujajar lumayan baik hingga sebelum daerah Cililin ada beberapa titik jalan rusak disana. Setengah jam berjalan, Cililin terlewati. Kami terus melaju dengan pasti dengan tujuan daerah Gunung Halu. Trek kali ini mulai sedikit menanjak dengan kondisi jalan yang cukup baik. Kami berjalan dengan kecepatan normal 40-60km/jam.

Sesekali saya harus mengisi bensin di kios bensin eceran sebab jalan menanjak cukup menguras tenaga dan bensin motor saya. Pukul 11.00 kami tiba di daerah Gunung Halu. Kemudian kami membelokan kendaraan kami menuju Kecamatan Rongga. Dari sini lah kondisi jalan mulai rusak membuat kami sedikit berhati-hati dalam mengendarai motor. Kami terus berjalan melewati jalan yang semi off-road ini untuk menuju Desa Cicadas. Walau perjalanan terasa jauh, namun pemandangan yang indah sedikit mengobati kelelahan kami. 

Kami sampai di daerah perkebunan teh, jalan bukan lagi semi off-road, akan tetapi off-road beneran. Jalan berbatu yang rusak harus kami lewati. Kondisi jalan yang sangat rusak ditambah trek yang menanjak membuat kami khawatir akan kondisi motor kami. Terlebih saya yang membawa motor matic kecil saat itu. 

Pukul 12.10 kami tiba di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Desa ini benar-benar terlihat jauh dari fasilitas apapun. Fasilitas jalan saja sepertinya mereka tidak menikmatinya. Jalanan di desa ini termasuk sangat jelek sekali, seharusnya pemerintah memeperhatikan hal ini agar tercipta pemerataan ekonomi. Sebab dengan fasilitas jalan yang baik tidak menutup kemungkinan warga lebih mudah untuk melakukan aktifitas ekonominya.

Dari desa tersebut sudah terlihat gapura dengan bacaan "Selamat Datang di Curug Malela". Dari gapura tersebut jalan semakin rusak parah. Trek menanjak dengan batuan batuan besar harus kami lalui. Kami sampai di Pos Ojek Malela pukul 12.30. Kami terus berjalan di antara perkebunan teh ini. Kondisi jalan masih tetap sama. Seolah tak berdaya, ban motor saya bocor saat itu. Untung saja tak jauh dari sana ada rumah warga dan menyediakan jasa tambal ban. Alhamdulillah. 

Pukul 13.00 ban saya sudah beres kembali. Kami harus cepat-cepat mencapai lokasi, sebab mendung mulai menaungi. Kondisi jalan masih tetap sama, rusak parah. Setelah berjuang tanpa henti akhirnya kami tiba di Curug Malela. 

Kami parkir di depan sebuah warung. Dari warung tersebut kami harus trekking menuruni jalanan yang sudah diberi bata blok. Jalan setapak ini sudah sangat baik. Hujan turun saat itu. Kami berteduh sebentar di pos yang ada disana. Dari pos ini sudah nampak dari kejauhan Curug Malela. Subhanallah,,, indah sekali pemandangan yang tersaji dihadapan kami ini. Curug yang terlihat deras dengan kombinasi warna hijau dari hutan disekelilingnya membuat kelelahan yang tadi kami rasakan seakan sirna begitu saja.

Curug Malela nampak dari jauh. Walau hujan mengguyur tetap indah.

Pukul 14.00 hujan agak sedikit reda. Kami memaksakan untuk tetap turun ke bawah. Turun melewati beberapa anak tangga kemudian trek berganti tanah merah yang licin. Sekitar 15 menit turun akhirnya kami sampai di pinggir aliran sungai dari Curug Malela. Hujan kembali mengguyur kali ini, membuat kami memasukan lagi kamera yang kami bawa. Hanya beberapa gambar yang berhasil kami dapatkan. 

Hujan semakin besar air menjadi keruh
Si Janu. .
Hujan sangat deras membuat aliran air menjadi menyeramkan. Bagaikan orang gurun pasir yang baru menemukan sumber air, kami tak menghiraukan derasnya air saat itu. Kami bermain air dan menyebrang ke bebatuan yang besar ditengah aliran air. Sesekali saya dan beberapa teman terbawa arus, untung kami selalu bahu membahu, berpegangan satu sama lain.

Pukul 15.30 kami merasa sudah puas menikmati Curug Malela. Hari pun semakin gelap karena mendung. Suasana curug yang sepi menjadi sedikit mencekam. Kami foto keluarga dulu sebelum meninggalkan lokasi.

Foto Keluarga
Para Lady Bikers
Setelah selesai berfoto ria kami meninggalkan curug. Masih saja hujan mengguyur perjalanan pulang ini. Kami berjalan menanjak melalui trek tanah merah hingga berganti batu blok yang lumayan baik. Setelah 1 jam berjalan dengan penuh canda tawa kami sampai di warung yang dimana motor kami terparkir. 

Luar biasa jalanan berubah menjadi tanah merah yang sangat licin. Kami semua terperana oleh kondisi ini, memikirkan jalan kembali pulang. Kami secara bergantian untuk bilas dan ganti baju. Setelah semua beres bilas dan ganti baju kami bersiap untuk pulang. Bayar parkir dan penitipan helm disini masih seikhlasnya. warga disini masih ramah dan bukan profit oriented. 

Bingung bagaimana cara menaikan motor ke atas bukit sana, jalan berubah menjadi tanah merah yang dalam dan licin. Untung saja banyak pemuda yang sedang nongkrong di warung. Mereka menawarkan jasa menaikan motor hingga atas bukit. Dengan biaya seikhlasnya kami berikan kunci motor kami untuk dinaikan ke atas. Sedangkan kami semua berjalan kaki. Untuk berjalan kaki saja terasa sulit, apalagi untuk membawa motor. Warga disana sudah terbiasa dengan hal ini jadi mereka secara tidak langsung terlatih dalam kondisi jalan yang seperti ini.

Setelah kami semua sampai diatas bukit, kami mulai bersiap mengarungi jalanan yang sangat rusak berbatu. Ternyata oh ternyata jalan yang saat pergi tadi berbatu berubah menjadi tanah merah yang sulit sekali dijalani dengan kendaraan.

Hari semakin gelap, kami masih berjuang menjalankan motor yang sulit dikendalikan ini. Jalan ini membuat galau. Jika menginjak batu kemungkinan ban akan terpleset, jika menginjak tanah ban akan selip tidak bisa berjalan. Pantas sekali motor warga sekitar memakai rantai di ban nya agar tidak terpleset. Satu jam berjalan kami tiba di Pos Ojek Malela, luar biasa satu jam berjalan baru sampai Pos Ojek. Perjuangan yang sangat luar biasa. Nampak di kejauhan lembayung kuning menghiasi langit, serta nampak juga pelangi yang melengkung begitu indah. Seketika saya ingat ucapan saya, "yakinlah setelah badai menghadang, pasti akan muncul pelangi". Jadi intinya setelah apapun masalah yang terjadi pasti akan datang keindahan.

Kondisi jalan masih saja rusak bertanah merah, kami masih terus berjuang. Kami semua tidak memakai sandal sedari Curug Malela tadi. Hari semakin gelap menujukan pukul 18.30, kami masih saja berkutat dengan jalan yang luar biasa ini. 
Sesekali terpampang pamflet calon kepala daerah di setiap pohon yang terlewati. Foto mereka seakan tertawa melihat penderitaan kami.
Setelah 2 jam bertarung kami sampai di Kecamatan Rongga. Jalan aspal yang kami rindukan akhirnya datang juga. Kami terus berjalan tanpa henti melewati Gunung Halu. Keadaan jalan ditengah perkebunan dan hutan membuat suasana mengerikan sekali. Jarang ditemukan rumah-rumah warga. Disana pukul 20.00 listrik mati hingga daerah Sindangkerta. Mungkin jatah listrik hanya sampai pukul 20.00 didaerah sini.

Berjalan tanpa henti dengan kondisi bertelanjang kaki, dan sebagian dari kami dengan pakaian yang basah membuat badan serasa dingin sekali. Satu jam berjalan kami sampai di daerah Cililin, sejenak kami mengisi bahan bakar dan membersihkan badan disana.

Kemudian kami lanjut jalan lagi dan berhenti di daerah Jalan Raya Batujajar. Kami berhenti di Warteg untuk mengisi perut yang sedari siang belum terisi oleh makanan. Pukul 22.00 kami selesai makan di warteg, dan melanjutkan perjalanan. Kali ini pulang melalui rute Cimindi dan tembus di daerah Melong. Kemudian ambil arah ke Jalan Rajawali Timur - Sudirman - Jamika - hingga Kebon Kalapa. Pukul 23.00 akhirnya kami tiba di kosan tercinta. Motor sudah tak terlihat bentuknya, bagaikan kerbau yang selesai membajak sawah. Alhamdulillah, rasa lelah ini tidak seberapa dibandingkan pengalaman yang tadi kami dapatkan. Sampai jumpa di perjalanan si Janu lainnya. . Salam Lestari.

Catatan : 
- Jarak dari Kota Bandung - Curug Malela -/+80 km
- Persiapkan kondisi kendaraan anda dengan baik
- Mengingat kondisi jalan yang sangat jelek motor matic kurang saya anjurkan
- Biasanya hanya motor trail yang melewati trek ini
- Jalan rusak mulai dari Kecamatan Rongga hingga Curug Malela, agar lebih berhati-hati
- Jaga keasrian Curug
- Jangan berbuat vandal di Curug Malela, bawa kembali sampah yang anda bawa
- Mudah-mudahan PEMDA setempat bisa memperbaiki akses jalan menuju Curug Malela. Karena curug ini memiliki POTENSI WISATA YANG SANGAT BESAR!!!!!!!!

Thanks to :
- Allah S.W.T
- Teman seperjalanan (Barudak Kost Nursaid 10)
- Bapak Kadus yang sudah menemukan dompet Sdr. Bayu
- Warga sekitar yang membantu menaikan motor kami
- Serta terimakasih pada Curug Malela atas alam dan sambutan yang luar biasa. Nantikan diriku kembali saat cuaca sudah tak hujan lagi.   




Tambahkan Komentar

2 comments:

  1. saya ingin sekali kesana lagi, tapi ngga ada teman di perjalanannya.
    apa kang Janu bersedia bersama saya pergi ke curug Malela???

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya siap kao ksana lagi jika musim sudah berganti dengan kemarau kayanya keren :D

      Delete