Januar Arifin

Gunung Papandayan "Sekali Lagi"

Posted by Januar arifin on Thursday, 5 September 2013

Kala kebosanan mulai melanda tiba-tiba ada sebuah pesan masuk melalui handphone saya yang berisikan ajakan untuk "ngopi" ke Gunung Papandayan. Pesan tersebut dari salah seorang anak KOMPAK yaitu Boby. Tanpa berfikir lama, saya pun bergegas pulang ke rumah di Tangerang Selatan untuk mengambil barang disana.

"Ajakan naik gunung adalah salah satu hal yang sulit ditolak bagi saya"
Mari simak kisah lengkapnya berikut ini :

Jumat, 30 Agustus 2013

Pukul 14.00 saya tiba di terminal Leuwipanjang, Bandung. Dengan di jemput seorang kawan, saya langsung menuju kosan untuk packing dan belanja logistik. Pendakian kali ini beranggotakan 6 orang, yaitu Saya, Madhot, Bayu, Dena serta Boby dan Fachry yang berangkat dari Jakarta. 
Pukul 18.00 mendapat kabar Boby dan Fachry sudah mulai jalan dari Jakarta. Kami yang berangkat dari Bandung masih memiliki beberapa waktu untuk bersiap dan memeriksa kembali barang bawaan. Hingga akhirnya pukul 21.00 kami mulai bergerak menuju terminal Leuwipanjang, Bandung. Di terminal kami naik angkutan Carry ber-plat hitam dengan biaya Rp.35.000 sampai ke Garut. 

Di dalam angkutan, kami hanya mengisi waktu dengan lamunan-lamunan abstrak yang terlintas di dalam otak. Supir angkutan melaju sangat cepat, jalan berliku dihajarnya dengan pasti. Raut muka penumpang nampak cemas kala itu. Namun, setelah 1,5 jam cemas dalam angkutan tersebut, akhirnya kami tiba di Bundaran Tarogong, Garut yang merupakan meeting point dengan Boby dan Fachry.

Kami menunggu disebuah warung yang biasa saya singgahi setiap kali menunggu rombongan pendaki gunung. Garut menyambut kami dengan belaian angin sejuk hingga secangkir kopi menjadi sajian yang istimewa malam itu.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Pukul 01.00 datang Boby dan Fachry yang nampak sayu matanya, mungkin kantuk melanda mereka. Setelah beristirahat sebentar, saya langsung menghubungi Pak Ikin yang merupakan pemilik mobil pick-up yang akan mengantarkan kami ke Pelataran Parkir Papandayan (Camp David).

Pukul 01.45 kami meninggalkan Bunderan Tarogong menuju Cisurupan. Sekitar 2 jam kami dibelai angin dingin di kendaraan terbuka serta menahan sakit jika ada jalan berlubang, akhirnya kami sampai di Pelataran Parkir Papandayan (Camp David). Saya langsung lapor ke Basecamp dan mengisi data-data yang dibutuhkan. 

Kami memilih santai sejenak di warung sambil menunggu sang fajar keluar dari peraduannya. Kopi, mie instan, gorengan menjadi santapan malam itu. Maklum cuaca yang dingin berkisar 6° - 10° celcius membuat perut kami kelaparan. Setelah makan, sebagian dari kami ada yang tertidur menunggu pagi datang. 

Pukul 06.00 kami keluar dari warung dan bersiap-siap dengan mengecek ulang barang bawaan masing-masing. Pukul 06.30 kami semua mulai berjalan, sebelumnya kami tak lupa untuk berdoa agar setiap langkah kita dilindungi oleh Allah S.W.T. 
Ki-Ka (Fachry, Boby, Dena, Bayu, Madhot) si Janu jadi kang foto
Trek awal berbatu landai hingga memasuki kawasan Kawah Gunung Papandayan. Pagi ini nampak begitu cerah. Kami berjalan dengan santai malah bisa disebut lambat sekali. Setiap berjalan selalu ada saja sesi foto ceria. 
Kawah Papandayan
Pagi nampak cerah
Menuju Kawah
Kami terus berjalan melewati Kawah Papandayan yang sangat menyengat bau belerangnya. Hingga tiba diujung jalur kawah sampai pelataran berbatu. Disana kami berhenti sejenak menikmati hembusan angin dan suguhan pemandangan kawah yang luar biasa. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan trek landai melipir kanan menurun. 

Panas mulai terasa, padahal terhitung masih pagi saat itu. Trek menurun melewati aliran sungai, kemudian menanjak tajam hingga tiba di Lawang Angin. Di Lawang Angin kami berhenti sejenak dan berfoto ria. Pukul 08.45 kami melanjutkan perjalanan menuju Pondok Salada. Dari Lawang Angin jalur mulai datar hingga bertemu pertigaan. Mengambil arah kiri merupakan Pondok Salada sedangkan ke kanan menuju Geberhut dan Tegal Panjang (turun lewat Pangalengan, Bandung). 

Akhirnya Pukul 09.10 kami tiba di Pondok Salada. Kami langsung mencari lapak untuk mendirikan tenda. Awalnya saya berniat mendirikan tenda di Tegal Alun, namun tidak diijinkan oleh petugas jaga, sebab di Tegal Alun sering terjadi angin kencang dan sedang terjadi musim Panther (panthera pardus melas/macan kumbang) kawin. Jika kami mendirikan tenda disana kemungkinan kegiatan kami mengganggu musim kawin mereka. 


Gubuk kami di Pondok Salada
Kami mulai memasak makan siang, sebab perut sudah mulai terasa lapar kembali. Menu siang ini hanya mie instan dicampur nasi, walau hanya segitu tetapi nikmat sekali karena kami makan sambil menikmati belaian angin dan pemandangan yang terhampar luas didepan mata. 

Pukul 11.00 matahari makin terasa terik sekali. Saya mengajak teman-teman untuk menuju Tegal Alun. Madhot tak berniat ikut kali ini, ia menjaga tenda sambil tidur siang. Seperti biasa saya mengajak melalui trek yang menanjak tajam berbatu. Sebenarnya ini bukan jalur utama menuju Tegal Alun. Jalur utama yaitu melalui Hutan Mati. 

Terlihat beberapa dari kawan nampak lelah dengan keringat bercucuran. Setelah beberapa lama kami berjuang melewati trek batu yang mananjak tajam, akhirnya kami sampai di ujung punggungan. Disanalah tempat yang memukau saya 2 tahun yang lalu, tempat yang ditumbuhi edelweiss (anaphalis javanica) yang sangat lebat. Hari ini masih nampak begitu lebatnya edelweiss, saya sangat berharap akan selamanya lebat seperti ini. 


Edelweiss yang masih lebat, biarkan mereka tetap seperti ini #saveedelweiss
Trek kemudian memasuki hutan Cantigi (Vaccinium varingiaefolium). Jalur nampak sudah lama tak dilewati pendaki lain. Ada beberapa jalur ketutup oleh ranting pohon dan sarang Laba-laba yang besar. Trek mulai menurun hingga kami tiba di barat dari Tegal Alun. Nampak danau temporer disana kering, maklum musim kemarau. 

Sepi sekali Tegal Alun siang itu. Terlihat sangat indah sekali, awan berarak melintas diatas kepala. Langit yang membiru dan tentunya daun-daun edelweiss yang seakan menari menyambut kami. Membuat kami betah berlama-lama disini. Kami lanjut ke arah timur dan melihat ada beberapa tenda pendaki. Kami mulai berfoto ria lagi disana.


Danau temporer Tegal Alun
Di Tegal Alun
Setelah puas berfoto ria, kami berjalan meninggalkan Tegal Alun melalui Hutan Mati. Trek turun yang lumayan curam kami lewati hingga akhirnya sampai di Hutan Mati. Disini kami kembali berfoto ria lagi. Pukul 15.00 kami berjalan kembali ke tempat camp kami yaitu Pondok Salada. 


Turun melalui Hutan Mati
Di Hutan Mati
Kegiatan sore ini kami habiskan dengan mengobrol-ngobrol santai dan makan sore. Sore itu nampak banyak sekali pendaki yang camping di Pondok Salada. Suasana yang tadinya eksotis dan damai berubah menjadi ramai. 
"Beberapa dari mereka terlihat menebang dan mematahkan pohon-pohon di Pondok Salada maupun Hutan Mati. Mereka mencari kayu untuk membuat api unggun. Apa sih fungsinya api unggun? paling mereka menjawab untuk mengusir dingin tubuh dan penerangan malam hari. Jika takut dingin tak perlu lah main ke gunung. Saya lihat mereka bukan lagi memotong ranting-ranting kering, melainkan mereka sudah mengotong-gotong batang pohon yang besar. Bukankah ini termasuk aksi vandalisme?? Mana kalian yang mengaku pecinta alam???..." (sekedar opini pribadi)
Hari berganti malam, kami mulai merasa dingin menusuk tulang. Malam ini kami kembali memasak untuk makan malam. Nasi, sarden, serta kentang merupakan menu malam ini. Entah mengapa saat dingin tiba perut rasanya selalu ingin diisi. 

Kami keluar tenda malam ini untuk melihat langit yang cerah. Sungguh luar biasa langit ini, bintang bertaburan serta siluet-siluet punggungan Papandayan yang menyatu seakan lukisan alam yang indah sekali. Sayang sekali suasana ramai oleh pendaki, mungkin kami merasa kurang syahdu dalam menikmati alam ini. Pukul 22.00 kami mulai dilanda kantuk. Kami semua terlelap berselimut dingin Pondok Salada.

Minggu, 1 September 2013

Pagi hari pukul 07.00 kami semua terbangun dan langsung bergegas mengambil air untuk masak. Sebagian dari kami ada yang mengambil air dan ada pula yang mencuci peralatan masak. 
"Satu hal lagi membuat rasa kesal saat menuju sumber air. Pagi itu saya melihat beberapa orang mandi menggunakan sabun. Padahal hal ini sangat-sangat merusak ekosistem yang ada di gunung. Air yg tercemar tersebut mengalir membasahi pepohonan yang lama-kelamaan akan layu. Kemudian air tersebut mengali menuju desa dan dikonsumsi seluruh warga desa. Padahal pada saat lapor itu sudah dilarang membawa berbagai macam yang mengandung deterjen kimia. Memang benar kata imuwan, manusia merupakan predator terkejam di muka bumi." (sekedar opini pribadi)
Setelah mengambil air dan mencuci peralatan kami mulai memasak. Menu hari ini hanya mie instan dan nasi ditambah dengan kacang atom sebagai penambah rasa. Pukul 09.30 kami sudah selesai sarapan dan mulai packing barang-barang kami. Satu persatu kami bereskan, mulai dari tenda, matras, kompor dll. 

Si Janu masak nasi
Menunggu nasi matang
Pukul 11.00 semua sudah rapih dan beres. Tak lupa kami melakukan operasi semut yaitu operasi membersihkan sampah yang kami bawa untuk dibawa turun kembali. Pukul 11.30 kami mulai berjalan turun meninggalkan Pondok Salada. 

Trek menurun dengan santai dan sejenak berhenti di Lawang Angin. Kemudian kami lanjut berjalan hingga kawah. Di Kawah kami berhenti untuk mengambil beberapa foto lagi, maklum yang kita ambil dari gunung hanyalah foto tidak boleh yang lain. 

Kami melanjutkan perjalanan melewati trek berbatu kawah dan sampai di Pelataran Parkir (Camp David) pukul 13.00. Kami langsung menuju warung untuk sekedar meminum teh hangat untuk memulihkan tenaga yang habis. Tak lama kemudian kami langsung naik mobil pick-up yang sudah terparkir disana untuk turun pulang menuju Cisurupan.

Sekitar 1 jam menuruni jalan beraspal yang rusak, akhirnya kami sampai di Cisurupan. Kami lanjut menggunakan angkot menuju Terminal Guntur, Garut. Pukul 16.00 kami tiba di Terminal Guntur. Boby dan Fachri pamit terlebih dahulu karena menggunakan bus jurusan Jakarta. Kami yang tujuan Bandung masih santai-santai saja makan bakso di depan terminal. 

Pukul 17.30 kami meninggalkan Garut dengan bus 3/4 jurusan Bandung. Bus bergerak lambat sekali, karena terjadi kemacetan panjang di Garut hingga Kadungora. Hingga akhirnya kami tiba di Terminal Leuwipanang, Bandung Pukul 21.00. Lanjut dengan angkot menuju kosan selama 30 menit. Alhamdulillah kami semua selamat hingga kembali pulang. Terima Kasih Sudah Menyimak. Sampai Jumpa di Pendakian si Janu Lainnya. Salam Lestarii...

Gunung Papandayan



 Thanks to :
- Allah S.W.T
- Orang tua yang selalu mengijinkan kemana anakMu pergi,
- Rekan Seperjalanan Madhot, Bayu, Boby, Fachry, Dena,
- Pak Ikin sebagai driver yang setia mengantarkan kalau mendaki di Garut,
- Terima kasih terutama kepada Papandayan yang menyambutku dengan sejuta pesonaMu.

Catatan :
- Angkutan gelap Bandung - Garut 35k
- Carter pick-up Bunderan Tarogong - Pelataran Parkir Kawah (Camp David) 30k/orang
- Apa yang kau bawa harap bawa turun lagi terutama sampah
- Jangan berbuat Vandal biarkan Papandayan terjaga secara alami.


Para Pemeran utama :

Bayu Aji
Si Janu
Madhot
Fachry
Boby
Dena
Foto Keluarga




Tambahkan Komentar

25 comments:

  1. Keren kang, boleh ngikut kagak nih untuk orang pemula kayak saya ini? :D hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih. silakan aja kang kalo mau ikut. saya juga pemula :)

      Delete
    2. mauuuu ikut ateuh ,,Kang..
      yuuuuk,kapan ?

      Delete
    3. hayu silakan aja kita kopi darat sambil ngobrol2 kemudian rencanakan deh perjalanan

      Delete
  2. mantap sampai ke gunung papandayan, hutan matinya unik, semoga Edelweiss semakin lebat dan ga habis diambil org :)

    ReplyDelete
  3. Keren Oy hobinya. Top markotop Kang

    ReplyDelete
  4. Keren deh pokoknya, kpn-kpn ajak istri mendaki gunung ah.... ada kamar yg di sewain gak di atas....hehehehe... Just QdnG..

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha kalo gunung ada sewaan kamar bisa bahaya, banyak tempat yg macem2 nanti.

      Delete
  5. wow.. keren banget sob view di gunung papandaian.. pengen kesana jadinya, hahaha.. :D

    ReplyDelete
  6. Indonesia memang gudangnya wisata2 alam terutama adalah wisata gunung yang indah dengan panorama nan exotic

    ReplyDelete
  7. wah, ane juga pengen nih naek gunung..... tapi gak jadi-jadi terus. btw, ganti template ya gan? shoutboxnya di sebelah mana? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo gan kita naik gunung hehe. iya tadinya ganti template tapi error

      Delete
  8. Mantap sekali gan,, tapi ane mau tahu nih bajet untuk ke papandayan kira kira berapa tuh ?

    ReplyDelete
  9. Boleh kasih Saran! Bagi pencinta alam ada baiknya apabila Pengertian Vandalisme disebar luaskan sehingga dimengerti dan diketahui semua orang bahwa aksi coret mencoret ataupun pengrusakan ekosistem sangatlah tidak menguntungkan kita semua. Terutama bagi Bumi Pertiwi Nusantara kita ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke terima kasih, saya akan tambahkan penjelasan seperti yang diatas nanti. terima kasih masukannya bro..

      Delete
  10. gan... boleh minta CP pick up papandayan nya? thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf mending PM saya di fb atau twitter saya @djhanu001 sebab takut ada penyalahgunaan kalo nyebar nomor hp disini gan. Anda kirim pm minta nomer pick-up bisa saya bantu nanti kok. kalo ada tanya2 yg lain juga bisa :)

      Delete
  11. punten gan mau nanya nihh.. kalo ke hutan mati teh lewat mana yah?

    ReplyDelete