Januar Arifin

Pendakian Gunung Gede Via Selabintana " Edisi 4th Janu Jalan Jalan "

Posted by Januar arifin on Saturday, 12 October 2013


Pendakian Gunung Gede via Selabintana Sukabumi memang sudah lama direncanakan oleh KOMPAK (Komunitas Pendaki Antar Kawan). Kira-kira sepulang dari Gunung Semeru juli kemarin kami sudah berniat mencoba jalur Selabintana. Bagi rekan-rekan Kompak Gunung Gede memang sudah tak asing lagi, namun kami belum pernah mencoba melalui jalur Selabintana. 

Jalur Selabintana merupakan jalur terpanjang di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Selain itu, keadaan hutan yang masih rapat serta jalur yang kadang tertutup membuat jalur ini bukan favorit para pendaki.

Awal oktober merupakan waktu yang disepakati oleh rekan-rekan dari Kompak. Selain itu juga bertepatan dengan hari jadi yang ke-4 tahun bagi Janu Jalan Jalan. Ini merupakan momen yang tepat bagi saya, sebab blog ini tercipta dan terinspirasi dari Gunung Gede juga. 

Simak Kisah Lengkapnya Berikut ini : 

Jumat, 4 Oktober 2013

Seperti biasa saya berangkat dari Bandung, sementara rekan-rekan Kompak berangkat dari Jakarta. Kali ini saya berangkat bersama dua orang teman yaitu Madhot dan Bayu. Pukul 21.45 kami sudah berada di Terminal Leuwipanjang Bandung untuk naik bus terakhir jurusan Sukabumi. Sebelumnya kami sudah janjian untuk bertemu dengan rombongan dari Jakarta di Terminal Sukabumi. 

Sekitar 2 jam perjalanan di bus, kami isi dengan tidur-tiduran saja. Sebab akhir-akhir ini memang kami kurang tidur karena skripsi yang tak kunjung kelar, apalagi minggu kemarin saya baru saja pulang dari Gunung Cikuray.

Sabtu, 5 Oktober 2013

Pukul 00.30 kami tiba di Terminal Sukabumi dan bertemu dengan 9 orang rombongan Kompak, antara lain Putro/Baso, Bowo, Dede Jadoel, Dwi/Pare, Arie/Pitax, Eko, Edi, Fachry, dan Jovan. Mereka rupanya telah menunggu lumayan lama kedatangan saya. Malam ini kami isi perut terlebih dahulu di tukang nasi goreng depan terminal. 

Pukul 01.00 setelah makan, kami mencarter angkot menuju Selabintana. Naas bagi kami, angkot yang harusnya kami carter sampai Pondok Halimun (PH) malah salah. Kami diturunkan di depan gerbang Selabintana Resort. Setelah bertanya pada penjaga setempat bahwa jalan menuju PH sudah terlewat. Mau tidak mau kami harus berjalan kaki menuju PH.

Berjalan ke arah kanan dari Selabintana Resort lalu ambil jalan menuju perkebunan teh dengan trek berbatu. Suasana mulai gelap layaknya hutan. Kami terus berjalan dan tidak terasa sudah hampir satu jam berjalan tapi belum ada tanda-tanda kehidupan. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah desa dan diketahui bahwa desa tersebut bernama desa Cipelang. Sebuah desa di tengah perkebunan teh yang sejuk. Disana kami beberapa kali salah jalan dan dicegat gerombolan anjing pemburu milik warga. 

Kami memutuskan beristirahat sejenak disebuah bangunan yang diketahui bahwa bangunan tersebut adalah TPA (Taman Pendidikan Al Quran). Disana kami santai dan sedikit merebahkan badan yang memang kurang tidur. Desa yang hening dan sepi, tak ada satu pun penduduk yang keluar, bahkan gonggongan gerombolan anjing tak membangunkan warga.

Tiba-tiba terdengar suara motor dari kejauhan. Alhamdulillah ada seorang warga dengan motor melintas didepan kami. Tanpa basa-basi kami langsung menyetopnya dan menanyakan arah menuju PH. Setelah mendapatkan informasi, kami lanjutkan perjalanan. Dari desa tersebut kami mengambil jalan menanjak lurus dan satu jam kemudian kami tiba di PH.

Jalur dari Salabintana Resort menuju PH (+/- 3,8 Km)
Di PH tercatat pukul 03.20 kami langsung menuju salah satu warung untuk beristirahat dan menunggu pagi. Sebagian dari kami tertidur dan ada pula yang terjaga sambil packing ulang barang bawaan.

Pukul 07.30 kami semua berkumpul di depan warung dan berdoa agar setiap jengkal langkah kami dilindungi Allah Swt. Kami berjalan menuju pos lapor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Sektor Selabintana untuk menyerahkan Simaksi (Surat Izin Masuk Wilayah Konservasi). Setelah menyerahkan Simaksi, kami mengisi air terlebih dahulu sebab sepanjang jalur tidak ada air. Di Pos Cileutik juga debit air juga sedang mengecil.

Di depan Gerbang Pendakian Salabintana
Mulai melangkah
Mulai melangkah
Kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang berbatu. Harusnya kami berbelok ke kiri pada saat melewati jembatan pertama, namun kami semua malah jalan lurus terus ke arah Curug Cibereum. Hingga bertemu dengan seorang bapak tua yang memberi informasi kalo kami salah jalur. Kami akhirnya putar balik kembali sampai daerah dekat sebuah bangunan tua. Lalu tembak langsung menuju sebuah punggungan. Trek agak curam dan akhirnya ketemu kembali jalur yang sebenarnya.

Perjalanan satu kilometer pertama tepatnya dekat sebuah Shelter ada seorang teman yang merasa sakit sehingga kami semua berhenti sejenak untuk sekedar mengisi perut dengan roti tawar mie instan. Pukul 10.00 setelah semuanya beres kami lanjutkan perjalanan. Trek masih landai menanjaki sebuah punggungan gunung.
Jalur Selabintana ini masih sangat rapat hutannya. Trek pendakian juga kadang hilang oleh semak belukar. Sepi sekali jalur ini dibanding dengan jalur Cibodas. Maklum jalur ini bukan jalur favorit para pendaki.
Jalur Selabintana terlihat bersih sekali, jarang ada sampah. Memang sepi sekali, jarang pendaki yang lewat jalur ini. Terbukti kelompok kami adalah satu-satunya pada tanggal tersebut yang lewat jalur ini. Kami terus berjalan dengan pasti dengan sesekali beristirahat untuk menghela nafas. Masih dalam kondisi trek yang sama yaitu trek dengan tanah basah mendaki punggungan gunung. Kami melewati trek yang banyak dijumpai binatang pacet.
Binatang pacet adalah binatang yang hidupnya menempel pada batang pohon atau dedaunan kering yang ada di tanah. Kebanyakan pacet hidup sebagai parasit dengan cara menghisap darah atau jaringan tubuh binatang lainnya untuk memperoleh makanannya. Ada juga yang hidup dengan makan sisa-sisa binatang dan tumbuhan.
Kami berhenti pada sebuah Shelter cukup luas untuk 3-4 tenda. Disana kami beristirahat sambil menikmati cemilan-cemilan yang kami bawa. Setelah 15 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan dengan trek yang masih sama hingga kami tiba di Pos Cigeber (1830mdpl) pada pukul 13.30. Di Pos tersebut kami beristirahat agak lama, beberapa dari kami sempat ketiduran.

Perjalanan kami saat ini memang rada santai, menikmati hutan hujan tropis jalur Selabintana yang masih asri. Setengah jam beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Bila trek sebelumnya langit tertutup oleh rimbunya pepohonan (canopy), maka lintasan berikutnya kita mulai bisa melihat langit karena pohon-pohon yang sangat tinggi sudah jarang. Tanah yang diinjak mulai agak keras. Kita akan melewati pinggiran jurang yang banyak ditumbuhi rumput-rumput yang agak tinggi

Trek menuju Pos Cileutik
Trek menurun sedikit untuk berpindah punggungan gunung kemudian menanjak tajam. Inilah 5 kilometer terakhir perjuangan kami dengan trek yang mulai curam. Sebelumnya 6 kilometer pertama kami hanya disuguhkan trek landai mengikuti punggungan. Trek mulai menanjak membuat kami yang belum tidur dan makan mulai kelelahan. Kami bertemu sebuah dataran cukup luas dan disana kami beristirahat. Beberapa dari kami langsung tergeletak tidur. Lama sekali sekitar 45 menit kami beristirahat.

Kabut mulai turun
Dingin mulai merasuki tubuh kami, mau tidak mau harus melanjutkan perjalanan. Trek makin menanjak curam saja, sementara sisa-sisa tenaga kami hampir habis. Pukul 16.00 kami tiba di Pos Cileutik (2380mdpl). Disana kami berhenti sekedar duduk-duduk saja menghela nafas yang hampir putus. Sedikit turun di bawah Pos yang sudah roboh ini terdapat sungai yang aliran air nya kecil dan membentuk air terjun mini. Namun sayang air sedang kering, hanya ada sedikit bekas air hujan tertampung. Di lokasi ini beberapa pendaki bisa beristirahat bersama namun tidak cukup untuk mendirikan 2-3 tenda.

Kami melanjutkan berjalan, medan kembali menanjak dan memasuki kawasan hutan yang lebat. Di beberapa tempat tanah yang diinjak agak lembek. Satu jam berjalan kami memutuskan istirahat untuk mengisi perut terlebih dahulu. Mie instan dan tempe orek kami makan sebagi pengganti tenaga. Kami makan di tengah jalur sempit dan miring.

Pukul 17.00 hari semakin gelap karena mendung. Hujan rintik-rintik mulai turun. Kami terus berjalan tanpa henti dengan niat yang sudah terpatri. Trek berikutnya makin terjal, di beberapa tempat kami berpegangan pada akar-akar dan selanjutnya kami melewati jalur yang banyak di tumbuhi rumput-rumput yang sangat tinggi.

Hari benar-benar menjadi gelap, sang fajar sudah kembali ke peraduannya. Kami berjalan secara perlahan menggunakan penerangan yang kami bawa. Trek yang terjal dan licin dengan sisi kirinya jurang membuat kami ekstra waspada. 

Perjuangan terakhir memang sangat membutuhkan tenaga yang luar biasa. Langkah demi langkah secara perlahan kami lewati dengan pasti. Hingga akhirnya kami sampai di Pos Pertigaan, di tempat ini terdapat persimpangan jalur, bila ke kanan menuju puncak Gunung Gemuruh, bila ke kiri menuju Alun-alun Suryakencana.

Dari sana trek menurun dan licin, hingga akhirnya kami tiba di Alun-alun Suryakencana sebelah barat. Kami berjalan menuju ke sumber mata air dan berhenti sebentar untuk mengisi persediaan air. Kemudian kami lanjut berjalan ke arah Puncak Gunung Gede. Disana kami mencari lapak untuk mendirikan tenda. Tenda sudah berdiri kami semua masuk ke dalam tenda. Saat itu hujan pun turun dengan derasnya. Alhamdulillah kami sudah berada di dalam tenda.

Malam ini tidak ada yang memasak makan malam. Kami semua terlelap tidur karena kelelahan.

Minggu, 6 Oktober 2013

Dini hari beberapa dari kami terbangun, rasa lapar dan dingin mengusik ketenangan istirahat kami. Segelas kopi sebatang rokok menghangatkan suasana. Kami mulai menanak nasi dan beberapa makanan berat untuk mengisi tenaga yang habis selama pendakian kemarin.

Pukul 06.00 saya dan beberapa kawan berjalan-jalan sambil menikmati pagi hari di Alun-alun Suryakencana. Kali ini terasa dingin sekali, angin yang berhembus sangat kencang. Berbeda dengan beberapa minggu yang lalu saya berkunjung kesini.

Alun-alun Suryakencana berlatar Puncak Gunung Gede
4 th hari jadi Janu Jalan Jalan
Gubuk sederhana kami
Edelweiss sedang mekar. Bantu kami menjaganya #SaveEdelweiss
Pagi hari yang cerah, hamparan bunga Edelweiss yang bermekaran serta langit yang membiru membuat suasana semakin syahdu. Puas berfoto ria kami kembali menuju tenda. Saat kami mulai untuk masak-memasak. Menu pagi hari ini sangat istimewa yaitu ayam goreng, sarden, abon, kornet, sosis, nugget dll. Kami masak semua itu agar tidak membebankan saat turun nanti.

Makan besar
Pukul 09.00 kami beres makan lalu kami mulai packing tenda dan peralatan lainya. Setelah semuanya selesai kami santai sejenak menunggu beberapa teman yang mencuci peralatan makan sekaligus mengambil persediaan air.

Pukul 11.30 kami mulai bergerak menuju puncak Gunung Gede. Trek berbatu yang tersusun rapi kami lewati dengan pasti walau terik matahari menyengat di kepala kami. Pukul 12.30 akhirnya kami tiba di Puncak Gunung Gede. Alhamdulillah kami semua dapat cuaca yang cerah. Sejauh mata memandang dapat kami lihat dengan jelas keindahannya.

Asap kawah yang mengepul ke udara, Gunung Pangrango yang gagah berdiri serta Alun-alun Suryakencana di bawahnya semua nampak jelas kami lihat.

Nampak Gunung Pangrango gagah berdiri
Kawah Gunung Gede

Nampak Alun-alun Suryakencana
Si Janu dengan tulisan 4 th Janu Jalan Jalan
Bersiap turun
Pukul 13.00 kami mulai meninggalkan Puncak Gede. Dengan langkah yang sedikit cepat kami mulai bergerak. Berbeda dengan jalur Selabintana, kali ini kami bertemu banyak pendaki lain. Dari Puncak kami turun dengan berjalan cepat kadang berlari sambil memegang batang pohon. Pukul 14.00 kami tiba di Pos Kandang Badak (2400mdpl). Di pos tersebut banyak sekali pendaki yang nge-camp. Tak lama kami berhenti di Pos Kandang Badak, kami langsung berjalan lagi.

Lari dan berlari kami menuruni trek yang berbatu ini. Pukul 15.00 kami tiba di Pos Air Panas (2100mdpl). Disana kami beristirahat sambil memakan mie instan sebagai pengganti tenaga yang sudah terbuang.

Pukul 15.30 kami lanjut berjalan. Kami melewati trek yang paling membosankan menurut saya, yaitu antara Hotspring hingga Pos Panyacangan. Kami terus melangkahkan kaki dengan cepat. Shelter Batu Kukus dan Rawa Denok terlewati dengan cepat. Lari dan terus berlari hingga tiba di Pos Panyacangan (1700mdpl). Di pos tersebut hanya berhenti sejenak terhitung pukul 17.00. Karena dirasa hari sudah sangat sore dan kami tidak mau sampai di Cibodas terlalu gelap akhirnya kami lanjutkan berjalan dengan berlari lagi.

Alhamdulillah, pukul 17.50 kami tiba di pemeriksaan Cibodas. Setelah melapor kami langsung menuju warung Mang Idi. Disana kami bersih-bersih dan mengisi perut.

Pukul 21.30 kami meninggalkan Kawasan Wisata Cibodas. Kami sewa angkot sampai Pasar Cipanas sebab hujan turun dengan derasnya dan di depan pertigaan Cibodas sudah banyak pendaki yang menunggu bus kemungkinan akan berebutan naik bus. Di Pasar Cipanas tak lama menunggu, rombongan Jakarta langsung naik bus. Sedangkan rombongan saya yang dari Bandung menuju Ramayana Cianjur dengan angkot. Kemudian dilanjutkan dengan bus jurusan Bandung. Terhitung kami tiba di Kota Bandung pada pukul 01.00. Alhamdulillah kami semua sampai dengan selamat. Terima kasih sudah menyimak. Sampai jumpa dipendakian si Janu lainnya. Salam Lestari !!!

Si Janu (^_^)
Inilah seorang  pejuang cinta yang tak kenal lelah melangkahkan kakinya demi seorang yang dikaguminya kita sambut Madhot a.k.a @dhotBDG

dhot said, "Kamu adalah kerinduan"

Thanks to ;
- Allah S.W.T
- Rekan Seperjalanan Baso, Jadul, Bobby, Epen, Pitak, Pare, Gufron, Bule, Allen, Hilmi, Yohana, Almira, Unie, dan Madot
- Terima kasih terutama kepada Papandayan yang menyambutku dengan begitu romantis.
- See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2013/02/papandayan-ceria-bersama-kompak.html#sthash.FODryiXX.dpuf
- Allah S.W.T
- Rekan Seperjalanan Baso, Jadul, Bobby, Epen, Pitak, Pare, Gufron, Bule, Allen, Hilmi, Yohana, Almira, Unie, dan Madot
- Terima kasih terutama kepada Papandayan yang menyambutku dengan begitu romantis.
- See more at: http://www.janu-jalanjalan.com/2013/02/papandayan-ceria-bersama-kompak.html#sthash.FODryiXX.dpuf

- Allah S.W.T,
- Orang Tua yang selalu mendukung dan mendoakan disetiap jejak langkah kaki ini,
- Rekan seperjalanan dari KOMPAK ( Putro/Baso, Bowo, Dwi/Pare, Dede/Jadoel, Eko, Edi, Fachry, Jovan, Madhot, Bayu, dan Arie/Pitax ).
- Gunung Gede yang selalu menyambut ku dengan sejuta pesona mu.

Catatan ;

- Transport dari Bandung

----- Kb. Kalapa - Terminal Leuwipanjang (angkot) = Rp. 3500
----- Terminal Leuwipanjang Bandung - Terminal Sukabumi (bus) = Rp. 25.000
----- Terminal Sukabumi - Selabintana (angkot) = Rp. 6000/orang
----- Cibodas - Pasar Cipanas (angkot) = Rp. 7000
----- Pasar Cipanas - Ramayana Cianjur (angkot) = Rp. 5000
----- Ramayana Cianjur - Terminal Leuwipanjang Bandung = Rp. 20.000

- Jalur Selabintana kurang begitu jelas, tidak ada penunjuk arah yang memadai. Kadang jalur tertutup oleh semak belukar. Perhatikan baik-baik pasti akan ketemu jalur yang sebenarnya,
- Isi persediaan air yang cukup di Selabintana, sebab di Pos Cileutik air bersifat temporer,
- Jalur Selabintana banyak binatang pacet. Berhati-hatilah dalam beristirahat jangan duduk sembarangan. Bawalah minyak sereh dan garam yang cukup sebagai penangkal pacet bila anda tidak mau donor darah di jalur ini.
- Hutan Gunung Gede masih lumayan rapat, jaga dan lestarikan alamnya,
- Patuhi kearifan lokal yang berlaku disana,
- Jangan berbuat vandal. Jaga warna bangunan yang telah dicat, jangan dicorat-coret lagi,
- Sampah harap bawa kembali turun. Sampah di Gunung Gede sudah sangat memperihatikan keberadaannya!!! Saya Harap semua pihak baik pendaki maupun Taman Nasional bisa menanggulangi masalah klasik ini.. Salam Lestari.

Panorama Gunung Gede






Para Artisnya :
Janu, Bayu, dan DhotBDG
Fachry dan Jovan
Baso, Bowo, dan Pare
Dede Jadoel
Pitax
Eko dan Edi

Tambahkan Komentar

37 comments:

  1. Kalau pas lagi di track kemaleman apa gak pernah ketemu sama hantu Mas ? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau hantu sih wajar mas, namanya hutan pasti banyak dan energinya lebih kuat. Selayaknya kita bertamu ke rumah orang lain aja, jaga sopan santun dan omongan, insyaallah ga akan diganggu sama hantu. Intinya jika niat kita baik, siapapun akan melindungi kita :)

      Delete
    2. Iya ni Mas. Sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Yang penting niatnya baik :D

      Delete
  2. Super track, Hati-hati n Sukses

    ReplyDelete
  3. jadi kangen pengen naik gunung lagi kang hehehe... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayu atuh naik lagi kang kalo libur. saya ikut :)

      Delete
  4. Wuhh mantap ne agan . seru juga gan keliatanya ...

    ReplyDelete
  5. asik bener jalan-jalannya gan, gak di dunia maya, gak di dunia nyata hobi banget jalan-jalan rupanya :D
    sukses jalan-jalannya gan ^^b

    ReplyDelete
  6. Sepertinya masih banyak masyarakat kita yang lalai membuang sampah sembarangan. Saya diajarkan Ibu sejak kecil untuk selalu bekal kantong plastik di tas untuk tempat sampah.
    Jadi di gunung juga banyak sampah ya? Pasti sedih melihatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. banget, sedih ngeliat sampah di gunung. kesadaran pendaki masih kurang di Inidonesia tercinta ini :(

      Delete
    2. Saya setuju banget perihal sampah, apa susahnya sih kantongin sampah terus buang ke tempatnya?
      Pendidikan mengenai kesadaran akan kebersihan masih kurang sepertinya di negara kita. Masih banyak yang naik mobil terus buang sampah keluar kok.. Turut prihatin deh

      Delete
  7. kalau baca tentang pendakian gunung saya jadi kepingin ikut mendaki, tapi tenaga sudah tidak memungkinkan lagi apalagi ada lari - lariannya, nanti malah merepotkan yang lainnya heheh.... mantab deh kang, pendakiannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mangyono. ayo gak apa2 ikut kami. kami juga gak lari-larian kalo lagi gak ngejar waktu mah :) hehe

      Delete
  8. hmmm kapan ya Angel boleh naik gunung sama papa padahal dulu papa katanya juga suka naik gunung semeru sm gunung lainnya di pulau jawa hehehehe
    sukses selalu kak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih angel. bicara sama papa baik2 nanti juga diijinkan kok :)

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  9. Rencana sya tgl 16-17 mau kesana brooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke broo selamat berjuang. saya titip alam gunung gede sama anda. jaga dan jangan lupa sampahnya ;)

      Delete
  10. waaah seru sekali sepertinya bisa ke gunung gede...

    ReplyDelete
  11. Kereeenn.. kgiatan kyak gni yg sbenernya bsa buka mata kita betapa pentingnya kbersamaan. Tidak sperti kbnyakan orang yg sibuk dengan urusan duniawinya sndiri2. Baru ngerasa hidup saat prtma kali gw melakukan pendakian dan prtama kali pula ke semeru. Subhanallah bgt. .

    Btw minta CP nya donk bang. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, kalo minta cp via twitter atau fanspage fb Janu jalan jalan ya, bisa sharing disana

      Delete
  12. saya belum pernah naik gunung, dan pengen sekali cuma sepertinya usia sudah tidak memungkinkan. Tapi dengan membaca cerita perjalanan ini membuat saya merasa ikut mendaki..
    Selamat Mas, bersyukurlah bisa mendaki gunung dan menikmati kebesaran Allah SWT. Mohon dijaga terus kelestariannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah saya akan tetep menjaga kelestarian alam

      Delete
  13. bang boleh tolong isi kuesioner skripsi saya tentang adventure di Sukabumi. salah satunya tentang hiking via Selabintana. ini link nya docs.google.com/forms/d/1FxYxWzLHOKDz5e137ovi5jxmB5skLXn-fbMs80TROmg/viewform?usp=send_form

    terimakasih :)

    ReplyDelete
  14. insyaAllah akhir bulan ini mau lewat jalur Selabintana om :3

    ReplyDelete