Januar Arifin

Inikah Pola Pikir Pendaki Gunung Sekarang?

Posted by Januar arifin on Saturday, 13 June 2015

Salam jumpa kembali para sobat petualang. Akhir-akhir ini saya belum sempat melakukan pendakian gunung dan menulis catatan perjalanan. Kali ini saya masih akan membahas tentang kerusakan alam khususnya di gunung oleh para pendaki yang tidak bertanggung jawab. Saya menemukan beberapa artikel berita yang sangat mengejutkan. Berikut ini isi dari berita tersebut;


Merdeka.com - Kelestarian alam di area pegunungan tercemar oleh kelakuan segelintir pendaki. Sampah-sampah yang dibuang sembarangan membuat kondisi alam semakin memprihatinkan. Upaya untuk mengampanyekan kebersihan mulai marak disuarakan komunitas pendaki.

Berbeda dari upaya melestarikan gunung, pernyataan dari salah satu pengguna Facebook ini justru memprihatinkan. Seakan membela diri, pemilik akun bernama Wahyu Martien ini malah mengeluh uang masuk yang mahal serta tak mau disalahkan soal buang sampah sembarangan.

"Ticket ke Semeru per harinya Rp 22.500 x 500 orang per hari. Pendapatan bersih Rp 11.250.000 per hari. Berapa banyak uang yang didapatkan petugas setiap hari. JADI JANGAN SALAHKAN kita kalau ke sana BUANG sampah sembarangan di sana. Karena kita bayar ongkos PETUGAS KEBERSIHANNYA MAHAL. Belum lagi di Perdaya naik jeb nya yang MAHAL @Semeru," demikian dikutip dari akun Wahyu Martien, Jumat (5/6).


Secara terang-terangan, Wahyu menyebut para pendaki sudah diperas secara perlahan oleh pengelola Gunung Semeru. Tak hanya itu, dia menyarankan agar biaya masuk tidak mahal jika tidak mau dikotori.

"Gak gelem (mau) dikotori jangan mahal masuknya. Ini naik gunung bukan ke wahana permainan."

Komentar nyeleneh tersebut lantas dibully oleh para pendaki gunung. Mereka menilai postingan Wahyu sebagai sampah.

"Ini bukan persoalan seberapa besar rupiah yang sudah para pendaki keluarkan tapi lebih mengedepankan seberapa besar kepekaan kita akan tetap lestarinya alam ini. Meski sudah ada petugas kebersihan bukan berarti para pendaki bisa seenaknya aja buang sampah sembarangan di gunung. Mari sama-sama menjadi pendaki yang cerdas, pendaki yang berakal dan pendaki yang selalu menjaga lestarinya alam ini."

Komentar ini lantas mendapatkan banyak tanggapan dari para pendaki lainnya.

"Kalau enggak mau ke Semeru karena bayar mahal, enggak usah naik semeru, gitu aja kok repot," sahut Bara.

"Mahal murah tetap aja nyampah. Mental dan sikap yang meski disadarkan buat pendaki yang membuang sampah sembarangan," tulis Budi menanggapi.

"Ep 22.500 mahal. Menang di wahana permainan berapa? Anakku aja mandi bola Rp 25.000. Tuh yang buat anak-anak. Lo di wahana permainan yang all age lebih mahal lagi lah. Ke water park Rp 55 ribu cuma mainan air. Yang lengkap Studio Trans itu di Bandung Rp 250 ribu 1 orang tuh waktu launching-nya. Sekarang enggak tahu. Naik gunung kok disamain sama ke wahana permainan? Ngelu wong iki," keluh Chie.


Entah apa yang membuat dia berpikir seperti ini. Pantas saja Gunung Semeru semakin hari semakin rusak saja alamnya. Ternyata rata-rata yang mendaki kesana berpikir seperti ini. Ini bukkan pendaki gunung namanya, ini hanya seorang anak muda yang mencari foto di alam untuk kepentingan pamer di sosial media. Bagi saya bayar 100 ribu pun tidak masalah sebab memang keindahan alam dan ketenangan yang didapat saat mendaki lebih mahal harganya.
Kalau harga tiket masuk mahal saja buang sampah seenaknya apalagi jika tiket masuknya murah
Gunung Semeru dahulu adalah gunung yang sangat asri dan minim sampah, sampai akhirnya sebuah film di penghujung 2012 bisa membuat pengunjung gunung tersebut membludak. Ketika pengunjung sudah membludak, kita sudah tidak bisa menyortir lagi apakah pendaki tersebut benar-benar bisa menjaga kelestarian alam atau tidak.

Kerusakan Gunung Semeru bisa terlihat dari awal kita mendaki. Di desa Ranu Pane dahulu terdapat danau yang indah dan luas, namun sekarang sudah agak menyempit karena dipakai tempat parkiran truk yang disewa pendaki. Kemudian danau Ranu Kumblo yang terkenal akhir-akhir ini, dahulu airnya dapat dikonsumsi, namun sekarang saya meragukan kebersihannya sebab sudah banyak pendaki yang mencuci peralatan masak dengan sabun atau deterjen.

Satu hal lagi yang terparah, yang sudah biasa saya tulis sebelumnya yaitu sampah. Terakhir saya menginjakan kaki disana melihat sampah menumpuk disekitar danau Ranu Kumbolo. Belum lagi yang tercecer disepanjang jalur pendakian. Sampah biasanya menumpuk di tempat-tempat camp (tempat mendirikan tenda).

Berita tentang sampah di Gunung Semeru ;

MALANG - Libur panjang pada akhir pekan kemarin membuat sampah pendaki Semeru yang menumpuk di Pos Ranupani mencapai 1,5 ton. Sampah ini berasal dari sampah yang dibawa turun para pendaki yang menikmati liburan di Gunung Semeru.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Ayu Dewi Utari, mengatakan, ada tiga truk sampah yang dikumpulkan dan dibawa turun.

"Masing-masing truk antara 400-500 kilogram sampah," kata Ayu, Senin (18/5/2015).

Menurutnya, sejak pendakian dibuka lagi pada 1 Mei 2015, jumlah peminat yang ingin mendaki gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa ini memang membeludak. Tapi, pihak BB TNBTS tetap memberlakukan kuota pendakian 500 orang per hari.

Menurut Ayu, pada akhir pekan 14-16 Mei, kuota terpenuhi sehingga ada 500 pendaki menunggu di Ranupani, 500 lainnya berkemah di Ranu Kumbolo atau Kalimati, dan 500 orang turun ke Ranupani. Pembatasan pendakian ke Gunung Semeru ini diberlakukan sejak Mei 2014 untuk menjaga kelestarian kawasan.

Luar biasa kan jumlahnya sampai 1,5 ton sampah. Itu yang sudah dibawa turun, yang masih tersisa banyak menurut saya diatas gunung.

Seorang pendaki gunung walaupun ia tidak tergabung dalam kelompok pecinta alam, selayaknya mereka menjaga kelestarian alam, dengan membawa kembali sampahnya turun bukan meninggalkannya di gunung. Dahulu para pendaki pergi ke gunung itu tujuannya untuk menjaga kelestarian alam dan mengenal diri pirbadi (tafakur alam). Saat ini pendaki pergi ke gunung cuma untuk sebuah foto yang indah yang akan dipamerkan di sosial media. Maaf agak sinis, karena memang ini kenyataannya. 

Disini saya mengajak seluruh pembaca untuk menjaga kelestarian alam dimana pun berada, bukan hanya di gunung. Negara kita Indonesia adalah negara yang sangat indah alamnya. Dan keindahan alam tersebut bisa dijadikan sumber potensi pariwisata yang sangat bagus bagi masyarakat. Mari jaga agar wisata alam di negara ini tetap terjaga dan bisa menguntungkan semua pihak. 

Salam, 
Januar Arifin

Tambahkan Komentar

24 comments:

  1. Tradisi membuang sampah pada tempatnya memang luar biasa manfaatnya.

    ReplyDelete
  2. padahal mau dipungut biaya atau tidak, ketika kita mendaki Gunung baik sebagai Pecinta Alam, Pendaki Gunung atau sekedar liburan semuanya tinggal bagaimana kesadaran dari masing2 Individunya itu sendiri Mas. Kalau mereka tahu bahwa membuang Sampah itu tidak baik bagi kebersihan dan kesehatan lingkungan. pasti sadar membuang sampah sembarangan bukan pada tempatnya itu tidak baik, beda lagi klo emang udah kebiasaan sehari harinya membuang sampah sembarangan heheheee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang kesadaran individunya sangat kurang sekali kang eka.

      Delete
  3. Hello my friend.
    Good Monday and nice week.
    Teb.

    ReplyDelete
  4. Sangat memprihatinkan. Apa repotnya sih kalau setiap orang yang mendaki membawa kantong plastik untuk sampah sendiri2?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya gak repot kalo bagi pendaki yang benar2 pendaki, tapi repot bagi anak-anak muda yg cuma kepengin eksis mendaki gunung, hehe

      Delete
  5. Emang bener.......era sekarang bayakan para wisata dan pendaki abal abal......naik gunung sekali bilang nya my trip, buang sampah malah bilang jejak petualang, foto di puncak bilang nya penakluk gunung.......gilaaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya seperti itulah keadaan sekarang mas. semoga pada sadar deh..

      Delete
  6. sudah hampir di semua tempat hiburan, pengunjungnya sembarangan buang sampah,,, sepertinya kebiasaan buruk yg gak bisa hilang,,, menyedihkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah mungkin emang sudah menjadi kebiasaan manusia sekarang ini..

      Delete
  7. mesti ditatar dulu apa hakekatnya seorang pendaki gunung atau lebih mantap kita sebut pencinta alam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener harus ditatar dulu, tapi kalo anak sekarang ditatar dulu malah mewek. hehe

      Delete
  8. suatu saat alam akan mengajarkan pada mereka apa yang harus mereka taklukkan...

    ReplyDelete
  9. Prihatin dengan pola pikir pendaki sekarang.. #sedih

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sedih sekali, harus banyak mengingatkan kepada sesama

      Delete
  10. Banyak yang masih belum sadar akan kebersihan ya Kang.

    ReplyDelete
  11. Gimana kalau kita berdua turun tangan Bang Janu...apa perlu saya lempar sama bantal orangnya..? hahahahyy

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh bang icah, kita turun tangan nanti.. haha

      Delete
  12. Setuju dengan postingan mas Janu. Beberapa minggu lalu sempat mendaki gunung Sindoro dan sampah menumpuk di banyak tempat orang mendirikan tenda.

    Ngingetin pendaki untuk bawa turun sampah malah diteriakin "Crewet kayak nenek2" (-_-).
    Bukan masalah uang yang sudah dihabiskan untuk pendakian tapi masalah kualitas pribadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener kadang saya serba salah, kalo ngingetin malah dibilang cerewet. kalo bawa sampah banyak kadang diceletukin petugas sampah. kacau sudah... emang bener tergantung kualitas pribadi.

      Delete