| Curug Cibeureum |
Minggu pagi saya bersama teman yang bernama Atem pergi ke Kebun Raya Cibodas Cianjur, berniat untuk mem-booking pendakian ke Gunung Pangrango. Dua jam perjalanan menggunakan motor dari Jakarta kami sampai di Kebun Raya Cibodas, lalu kami langsung menuju kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango untuk mem-booking hari untuk pendakian.
Setelah selesai mengurus persyaratan untuk pendakian, kami memutuskan untuk sedikit olah raga menuju Curug Cibeureum. "lumayan nih latihan untuk pendakian nanti", kata saya. Selanjutnya kami berjalan menuju jalur pendakian dan membayar uang masuk Curug Cibeureum sebesar Rp. 3000.
| Jalur Menanjak |
| Jalur Hutan Hujan Tropis |
![]() |
| di tengah trekking pengen ngudud dulu |
Saya bersama teman saya menggunakan stopwatch untuk mengukur kemampuan diri mencapai curug Cibeureum. Mulai dari pos pemeriksaan kami berjalan cepat sekali bahkan berlari-lari kecil. Beberapa pengunjung lain mungkin heran dengan tingkah laku kami berdua yang mendaki sambil berlari bahkan sambil merokok.
Setelah 15 menit kami berlari, kami sampai di Telaga Biru, lalu istirahat sebentar lanjut berjalan cepat menuju rawa Gayongong yang terdapat jembatan kayu. Kami terus berjalan dengan cepat hingga terdengar suara gemericik air dan terlihat aliran air yang sangat bersih. "tuh sampe", kata si Atem. Kurang dari 40 menit kami berjalan dan berlari. Sesampainya di atas kami duduk kelelahan. Namun, kelelahan itu segera sirna oleh pesona Curug Cibeureum yang sangat indah bagai lukisan sang alam.
![]() |
| Januar |
![]() |
| Atem |
![]() |
| Cibeureum Lukisan Sang Alam |
Habis beberapa batang rokok, kami berjalan-jalan melihat-lihat ketiga air terjun dan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Setelah itu kami turun lagi dengan nada langkah yang lebih nyantai. Tak habis pikir di tengah-tengah hutan rimba kami kehujanan, lalu saya membuka jaket untuk menyelamatkan dompet serta handphone. Hujan yang turun begitu deras sehingga jalur trekking menjadi seperti anak sungai. Kami terus berlari menggunakan teknik menuruni gunung dalam keadaan licin. Seluruh baju hingga ke dalam saya rasakan basah semua ditambah lagi udara yang dingin membuat kami terus berjalan agar tidak merasa kedinginan. Setengah jam kami berlari akhirnya kami mencapai pos pemeriksaan dan langsung menuju warung untuk menghangatkan tubuh dan makan.
Segelas kopi mampu membuat kami hangat ditambah sepiring nasi goreng panas untuk mengganjal perut. Untung kami membawa celana ganti tetapi kalau baju kami harus membeli di pasar Cibodas. Istirahat sejenak sebelum pulang karena masih terlihat hujan deras disana.
Akhirnya hujan pun diterjang terus dengan bermodalkan jas hujan. Hujan mengiringi kepulangan kami hingga daerah Parung Bogor. Sesampai di rumah jam 10.10 malam, badan lesu, letih, lunglai, dan mata ngantuk. Akan tetapi ini merupakan cerita yang sangat indah tentang persahabatan kami dengan alam. Kami datang lalu kami disambut air hujan yang berarti kami disambut kesejukan Hutan Tropis Gede-Pangrango.
Terima kasih atas sambutan-Mu dan dan Jamuan-Mu terhadap-Ku wahai sahabat-Ku Gede Pangrango.





Monday, 15 November 2010




Berikan Komentar Anda: