Pendakian kali ini kembali menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, karena gunung yang lain di Indonesia sedang mengalami gejala batuk pilek. Di Indonsia hanya Gunung Gede-Pangrango saja yang termasuk gunung yang tidak mengalami peningkatan vulkanik, jadi saya pun berangkat kesana untuk kesekian kalinya.
Kamis malam kami berkumpul di rumah saya unutk packing barang-barang yang diperlukan untuk pendakian. Hampir semua barang telah terkumpul tinggal membeli barang-barang logistik saja. Karena sudah larut malam, pembelian logistik diputuskan keesokan harinya.
Jumat pagi kami kembali packing dan membeli barang-barang logistik. Karena terbentur oleh waktunya sholat jumat, dengan cepat kami membereskan semua barang. Seperti biasa pendakian kami berangkat dari rumah pada jumat sore. Kali ini saya berangkat dengan jumlah 5 orang, kami bertiga berangkat dari rumah saya dan yang dua janjian bertemu di Terminal Kampung Rambutan.
Hujan lebat kota Jakarta melepas kepergian kami menuju Kebun Raya Cibodas, macet pun tak terelakan sore ini, kami semua telat dari rencana yang di jadwalkan. Setelah semua berkumpul di Terminal, Kami yang beranggotakan Januar, Atem, Dede, Vita, dan Boby ini langsung menuju Kebun Raya Cibodas dengan menggunakan bus Doa Ibu. Tiga jam perjalanan kami tiba di Kebun Raya Cibodas dan langsung menuju warung Mang Idi. Di warung inilah biasa para pendaki beristirahat sambil mengisi perut yang kosong.
Di warung Mang Idi waktu menunjukan pukul 12.00. Kami istirahat dengan secangkir kopi dan makan nasi goreng yang panas. Kemudian kami mempersiapkan penerangan untuk pendakian karena kami berniat mendaki malam hari. Lampu badai dan senter semua dicheck kembali agar tidak terjadi kerusakan.
Waktu menunjukan jam 1.40 setelah kami membayar semua makanan dan berpamitan kepada Mang Idi, kami pun mulai berjalan menuju pos pemeriksaan pendakian. Pukul 2.00 tepat kami mulai merayap mendaki melewati kelebatan hutan hujan tropis Gunung Gede-Pangrango. Langkah kami begitu santai dan berirama dengan sesekali berhenti mengambil napas sejenak. Sekitar satu jam berjalan kami sampai di Pos Pancayangan, di sana kami duduk dan beristirahat sambil makan cemilan yang dibawa untuk menunggu terbitnya sang fajar.
Di Pos Pancayangan ini gerimis mulai turun dari langit yang terlihat gelap dan dingin. Kami tak mau mengambil resiko kesiangan di puncak karena cuaca yang cepat sekali berubah. Cuaca puncak gunung akan jelek sekali menjelang sore, maka dari itu kami meneruskan perjalanan menembus dinginnya malam dan kebisuan hutan tersebut. Suara nyanyian alam dari kicauan burung dan bunyi serangga malam merupakan teman sejati dalam perjalanan, hal itu terdengar merdu sekali di telinga saya.
Dalam perjalanan salah seorang teman kami yang merupakan perempuan satu-satunya mengalami muntah-muntah. Menurut saya Ia terserang Mountain sickness atau kurang bisanya tubuh beradaptasi dengan ketinggian di gunung. Namun, Alhamduillah semua dapat teratasi dan ia pun bisa melanjutkan pendakian malam itu.
Pukul 05.45 pagi kami tiba di Pos Hot Spring. Disana sejenak kami beristirahat dan memasak air untuk menyeduh kopi. Saya yang sangat ngantuk sekali karena dari kamis malam belum tidur mencuci muka di panasnya air, sehingga terasa segar kembali. Beristirahat di pos ini memang terasa sangat dingin sekali karena angin lembah selalu bertiup disini. Sambil menghirup udara pagi saya mencoba mengagumi keindahan ciptaan Allah Yang Maha besar.
| di Hotspring |
| Makan di Kandang Badak |
| Si Janu |
| Kawah Gunung Gede |
| Santai Sejenak |
Saya memasak nasi dan memasak air untuk menyeduh kopi untuk teman-teman yang sudah terlihat kedinginan. Kami terlihat sangat lelah sekali, apalagi saya yang notabene belum tidur dari kamis malam. Setelah makan sore itu kami terlelap semua di dinginnya malam Suryakencana.
Saya belum juga bisa memejamkan mata saat itu, hingga akhirnya terlelap sejenak lalu terbangun kembali oleh angin dingin yang menusuk tulang. Saya mendengar suara angin seperti ombak di lautan disertai hujan yang besar. Sepertinya badai menerpa tenda kami, saya ingin keluar memastikannya tetapi terasa sangat dingin sekali. Saya khawatir tenda pasak kami hancur, untuk itu saya membangunkan seorang teman saya yaitu Atem. Kami berdua terdiam mendengar suara angin yang seperti ombak, lalu kami memasak air untuk kopi agar tubuh ini terasa hangat.
Akhirnya semua anggota bangun, dan saya mulai masak nasi lagi agar perut terisi sehingga tidak masuk angin. Kami semua makan dengan sosis dan nugget dini hari itu. Setelah makan semua teman kembali masuk ke dalam sleeping bag dan saya masih tidak dapat memejamkan mata sampai kicauan burung pagi itu terdengar.
Pagi ini Suryakencana begitu dingin dan matahari pun malu-malu di sebelah bukit Masigit. Bunga Edelweis terlihat bermandikan embun pagi, dan gemericik air di Suryakencana membuat hati saya terasa damai dan tenang.
Saya kembali ke tenda dan memasak sisa logistik untuk dihabiskan agar tidak ada beban saat turun pulang. Makan-makan dalam tenda merupakan sesuatu yang sangat indah, karena disini tercipta sebuah suasana kebersamaan dan kekeluargaan.
Pukul 10.00 kami beres-beres dan packing kembali bersiap untuk meningggalkan Alun-alun Suryakencana. Kami lalu berjalan pulang menyusuri Lembah Suryakencana menuju Gunung Putri. Keindahan Gunung Gede dan Bukit Masigit terlihat jelas dari sini. Hamparan bunga Edelweis melambai-lambai seakan mengucap selamat jalan pada kami.
Berjalan menuruni jalur trek yang sangat terjal membuat kami harus tetap fokus dan hati-hati. Jalur trek gunung putri memang sangat terjal dengan kemiringan bervariasi dari 60° hingga 80° dengan berpegangan pada akar-akar pohon.
Kami terus berjalan turun melewati beberapa pos, hingga kami mencapai pos 2. Di pos 2 kami beristirahat sejenak dan bertemu dengan pendaki lain yang memberikan kami segelas kopi panas dan beberapa batang rokok.
Lalu perjalanan kami lanjutkan terus ke bawah hingga 4 jam menuruni punggungan gunung kami tiba di sumber air disamping ladang penduduk. Kami mencuci kaki dan tangan lalu berjalan 10 menit menuju pos pemeriksaan. Setelah saya memberikan laporan ke petugas, kami menuju warung yang biasa kami singgahi setiap turun Gunung Gede.
Di warung kami istirahat dan makan sebelum menuju Jakarta. Pukul 17.30 kami meninggakan warung tersebut dan naik angkot menuju pasar Cipanas. Di Cipanas naik bus Jurusan Kampung Rambutan Jakarta. Alhamdulillah kami semua selamat sampai di rumah masing-masing tidak ada kekurangan satu pun.
"Saya tidak akan pernah jemu mendaki kau sahabatKU Gede-Pangrango. Panorama alamMu begitu sangat indah hingga membuatKu sadar betapa sangat besar PenciptaMU".
For you info:
Pendaftaran Surat Perizinan Taman Nasional Gede Pangrango
Jl. Raya Cibodas, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia 43253
Email: info@gedepangrango.org Tel/ Fax: +62-263-512776 [office]
Email: booking@gedepangrango.org Tel/ Fax: +62-263-519415 [booking]
Booking Online CLICK HERE!!





Wednesday, 24 November 2010
Berikan Komentar Anda: